9 Bintang Inggris Pernah Bersusah Payah Merumput di Serie A
Hart hijrah ke Torino sebagai pemain pinjaman dari Manchester City. Hengkangnya penjaga gawang nomor satu Inggris ke Serie A akibat tak mampunya Hart bermain dengan pola yang diinginkan pelatih Pep Guardiola.
Di Torino, Hart kemungkinan besar akan menjadi pemain inti. Namun, sejarah dan tradisi pemain asal Inggris di Italia terbilang tidak bagus. Sebagian dari mereka bahkan terbilang gagal meski di Inggris menjadi pemain bintang.
Meski demikian, Hart bisa saja menjadi bintang Serie A mengikuti beberapa pemain besar Inggris yang juga terbilang sukses di Italia, seperti David Platt dan David Beckham.
Tim INDOSPORT membahas siapa saja pemain-pemain besar Inggris yang pernah merumput di Italia dan apa saja prestasinya.
1. Jimmy Greaves (AC Milan, 1961)
Jimmy Greaves menjadi pemain Inggris pertama yang merumput di Serie A. Sebelumnya, Greaves punya rekor menarik di Chelsea dengan mencetak 124 gol selama tahun 1957 hingga 1961.
Datang dengan torehan rekor gol yang bagus dari Chelsea, Greaves diharapkan bisa memberikan kontribusi yang berarti bagi I Diavolo Rosso. Pada awal kedatangannya, media Italia dengan sengit membandingkan dirinya dengan John Charles yang juga dari tanah Britannia, Wales.
Tapi ekspetasi besar ternyata tak membuat Greaves meroket di Italia. Dirinya total hanya bermain sebanyak 12 kali dan mencetak 9 gol. Greaves juga tidak kerasa hidup di Milan dan memilih untuk pulang ke London.
Gayung pun bersambut. Tottenham Hotspur menyodorkan biaya 95 ribu poundsterling (Rp1,65 miliar) untuk Milan dan langsung diresmikan. Di Spurs, Greaves menjadi pemain legenda dengan mencetak total 220 gol dari total 321 penampilannya.
2. Trevor Francis (Sampdoria 1982-86 dan Atalanta 1986-87)
Francis datang ke Italia setelah dijual Manchester City ke Sampdoria tahun 1982. Kedatangannya membuat Il Samp menorehkan prestasi dengan menjuarai Coppa Italia tahun 1985. Gelar tersebut merupakan gelar perdana dalam sejarah klub.
Pemain yang juga pernah merasakan gelar juara Liga Champions tahun tahun 1979 dan 1980 itu merasa nyaman bermain di Luigi Ferraris. Selama empat musim bersama Sampdoria, dirinya tampil sebanyak 62 kali dan mencetak 17 gol.
Sedangkan di Atalanta, Francis tak begitu sukses. Dia hanya bermain sebanyak 21 kali dan hanya mencetak sebiji gol saja.
3. Ray Wilkins (AC Milan 1984-87)
Berikutnya adalah Ray Wilkins. Pemain yang besar dari akademi Chelsea ini datang ke Serie A dari Manchester United musim 1984-85.
Wilkins termasuk pemain yang langsung nyetel dengan gaya bermain Italia yang mengandalkan taktik. Sebagai pemain tengah, Wilkins memang harus bersaing dengan pemain-pemain top Italia, seperti Roberto Donadoni, Alberigo Evani dan Giovanni Stroppa, namun dirinya mampu tampil bagi sebagai pemain pengganti.
Pria yang kini menjabat sebagai asisten pelatih Aston Villa itu juga menjadi bagian Milan saat menjuarai Coppa Italia tahun 1985.
4. David Platt (Bari 1991-92, Juventus 1992-93, & Sampdoria 1993-95)
David Platt yang merupakan pemain bintan Aston Villa mencoba peruntungannya di Italia. Bergabung dengan Bari, Platt tampil cukup sukses. Hanya semusim bermain di San Nicola, Platt dilirik oleh Juventus.
Bermain di klub besar seperti Juventus membuat Platt kesulitan bersaing. Dirinya pun tak lama bermain di Turin dan memilih bergabung dengan Sampdoria.
Bersama Il Samp, Platt menemukan kembali permainannya. Pemain timnas Inggris itu menyumbang gelar juara Coppa Italia tahun 1994. Selain itu, Platt juga menjadi idola pendukung klub yang berdiri tahun 1946 itu.
Setelah cukup sukses bermain di Serie A, Platt pun pulang ke Inggris dan langsung bergabung dengan klub besar, Arsenal.
5. Paul Gascoigne (Lazio 1992-95)
Nama Paul Gascoigne dikenal public sepakbola Italia saat dirinya membela Inggris Piala Dunia 1990. Dalam Piala Dunia yang digelar di Italia itu, Gazza (sapaan Gascoigne) menjadi primadona Inggris yang saat itu tampil mengejutkan.
Setelah sukses meraih gelar Piala FA 1991 bersama Tottenham Hotspur, Gazza bergabung dengan Lazio. Di klub asal kota Roma itu, Gazza awalnya sangat kesulitan beradaptasi dengan gaya sepakbola Italia. Gazza yang biasa bermain cepat, tak bisa mengembangkan permainan.
Namun, Gazza menjadi pujaan Laziale setelah mencetak gol kemenangan ke gawang AS Roma di tahun pertamanya bergabung.
Dirinya sempat mengalami cedera lutut parah tahun 1994. Cedera tersebut didapat setelah mengalami hantaman dari Alessandro Nesta. Nesta yang kala itu baru saja naik dari tim primavera menangis setelah tahu terjangannya membuat Gazza cedera parah. Uniknya, Gazza malah meramal Nesta akan menjadi pemain besar setelah insiden tersebut.
Selepas dari Lazio, Gazza bergabung dengan Glasgow Rangers. Sejak saat itu, berita Gazza lebih banyak tentang kecanduannya akan alcohol dibanding prestasi.
6. Paul Ince (Internazionale 1995-1997)
Pembelian Paul Ince dari Manchester United merupakan pembelian yang tepat bagi Internazionale. Ince adalah andalan Manchester United sebelum bergabung di Giuseppe Meazza.
Di Inter, Ince cepat beradaptasi dan langsung menjadi andalan. Selama dua musim bermain di kota Milan, Ince hamper saja menyumbangkan gelar juara bagi I Nerrazurri. Sayang saat laga final Piala UEFA 1997, Inter gagal meraih juara.
Pada leg pertama final, Inter takluk 0-1 dari Schalke di Parkstadion. Baru di leg kedua Inter unggul 1-0 melalui gol Ivan Zamorano. Setelah imbang, Ince dkk, akhirnya gagal dalam babak adu penalti dengan skor 4-1. Penampilan Jens Lehman menutup peluang juara Inter.
Ince sebetulnya diminta untuk bertahan lebih lama di Inter, namun dirinya memutuskan untuk pulang ke Inggris. Kabarnya, kasus rasis menjadi penyebab Ince ingin meninggalkan Inter. Apalagi Inter dikenal mempunyai pendukung dengan basis sayap kanan.
7. David Beckham (AC Milan 2008-10)
Datangnya Beckham ke Italia secara tak langsung mengangkat gengsi Seria A di sepakbola Eropa yang saat itu terpuruk usai skandal Calciopoli. Meski tak menghasilkan gelar juara bagi AC Milan, namun dirinya menjadi pemain popular di Italia.
Beckham datang ke Milan sebagai pemain pinjaman dari Los Angeles Galaxy tahun 2008. Kedatangan Beckham sebetulnya untuk menjaga kebugaran selama kompetisi Major League Soccer (MLS) libur. Namun di Italia, Beckham malah terlibat beberapa pertandingan penting bersama AC Milan.
Dirinya juga menjadi duta pemain Inggris di Italia. Setelah era Beckham berkhir, beberapa klub Italia kembali berminat mendatangkan pemain-pemain Inggris seperti AS Roma dengan Ashley Cole dan Lazio yang mengambil Ravel Morrison dari West Ham.
8. Ashley Cole (Roma 2014-2016)
Pemain asli London ini bergabung dengan AS Roma setelah Chelsea tak memperpanjang kontraknya. Di AS Roma, Ashley ternyata mengalami masalah klasik pesepakbola Inggris, yakni tak mampu beradaptasi.
Ashley yang memang gemar bermain menyerang, ternyata kewalahan menghadapi permainan penuh taktik dari klub-klub Italia. Sebagai full back kiri, dirinya kerap bobol oleh pemain sayap lawan.
Dengan alasan tersebut, Ashley akhirnya tak menjadi pilihan utama dari pelatih Rudi Garcia. Dirinya bahkan hanya bermain 11 kali sebagai starter dan langsung tersingkir dari tim di musim keduanya.
9. Ravel Morrison (Lazio 2015-sekarang)
Ravel Morrison merupakan pemain berbakat saat masih bermain di akademi Manchester United. Namun sikapnya yang bengal membuatnya kerap berpindah-pindah klub.
Bergabung denga West Ham United musim 2012, Ravel malah tak bisa menunjukan bakatnya di Boleyn Ground. Pemain berusia 23 tahun itu dipinjamkan ke banyak klub selang tiga tahun. Tercatat, Birmingham City, Queens Park Rangers, dan Cardiff City menjadi pelabuhan Ravel.
Musim 2015-16, Ravel berlabuh ke Lazio dengan status bebas transfer. Alih-alih sukses, Ravel malah tak mendapat kepercayaan dari pelatih Stefano Pioli. Dirinya yang memang juga menderita cedera tak mendapat kesempatan untuk pertandingan regular Serie A.
Kini nasibnya pun sama saja. Ravel tetap tidak mendapat kesempatan bermain di tim utama oleh pelatih Simone Inzaghi. Bahkan kabarnya, dirinya siap untuk kembali ke Inggris.