x

5 Blunder Fatal Klub-klub Sepakbola di Bursa Transfer

Sabtu, 8 Juli 2017 18:38 WIB
Penulis: Nindhitya Nurmalitasari | Editor: Arum Kusuma Dewi
Paul Pogba, David De Gea, dan Andriy Shevchenko.

Bursa transfer pemain merupakan magnet yang selalu menarik perhatian di dunia sepakbola. Kehadirannya pun senantiasa dinantikan, tak hanya oleh klub ataupun pemain sepakbola, tetapi juga oleh para fans yang setia memantau perkembangan terkini klub idolanya.

Bagaimana tidak, bursa transfer selalu mampu memunculkan harapan baru bagi klub-klub sepakbola. Ia menawarkan kesempatan bagi manajemen klub dan pelatih untuk menghadirkan wajah-wajah baru demi menyegarkan skuat dan menambal lini yang bolong.

Ilustrasi bursa transfer.

Selain itu, bursa transfer juga memberi kesempatan klub untuk melepas pemain yang dinilai memberikan performa kurang memuaskan pada musim sebelumnya. Mereka bahkan dapat meraup keuntungan finansial besar-besaran dari aktivitas transfer ini melalui jual beli pemain.

Baca Juga

Sayangnya, terkadang klub sepakbola besar justru terjerembap dalam bursa transfer. Bukannya untung, kadang mereka malah melakukan blunder-blunder fatal. Dan hal ini membuat mereka seperti "kalah perang" lebih dulu, bahkan sebelum terjun ke pertarungan sebenarnya di lapangan hijau.

Yang mengagetkan, klub-klub besar dan berpengalaman layaknya Manchester United, Real Madrid, Barcelona, hingga Liverpool pun tak luput dari blunder di bursa transfer semacam ini.

Oleh karena itu, INDOSPORT merangkum beberapa kesalahan yang paling umum dilakukan oleh klub-klub sepakbola besar saat berjibaku di bursa transfer, dilansir dari Sportskeeda.


1. 1. Menghambur-hamburkan Banyak Uang

Dana besar digunakan dalam bursa transfer pemain.

Klub-klub besar biasanya selalu memiliki postur finansial yang mumpuni. Bukan hanya karena dimiliki oleh taipan-taipan kaya raya yang tak segan mengguyur mereka dengan banyak dana, namun juga karena uang melimpah yang didapat dari hak penyiaran.

Bergelimangnya uang pun membuat klub terkadang merasa di atas angin dan kerap tak perhitungan dalam transfer pemain.

Pada saat jendela transfer dibuka, mereka biasanya langsung melancarkan tawaran-tawaran tinggi untuk merekrut pemain-pemain incarannya. Bahkan tak jarang, mereka rela mengajukan nilai tak masuk akal dengan dalih menjaga daya tawar klub dari pesaing-pesaingnya di liga.

Paul Pogba, pemain termahal MU.

Dalam era modern ini sendiri sudah banyak kasus demikian. Sebut saja pada kasus transfer pemain termahal Setan Merah, Paul Pogba. Tentunya publik masih ingat bagaimana ia dibeli dengan harga selangit, Rp1,4 triliun, dari Juventus. 

Padahal sebagaimana dikabarkan Sportskeeda, pihak Manchester United sendiri tidak semuanya satu suara tentang apakah harga tersebut layak untuk seorang Pogba.

"Sindrom" ini juga biasanya dimanfaatkan oleh klub-klub kecil saat bertransaksi dengan klub besar. Mereka tahu bahwa klub besar akan rela membayar mahal untuk membeli pemainnya. Meskipun sejatinya, mereka sendiri belum tentu tahu bagaimana cara menggunakan uang hasil penjualan pemain tersebut secara efektif.


2. 2. Salah Membeli Pemain

Andriy Shevchenko.

Terkadang klub bisa melakukan salah pertimbangan dalam pembelian pemain. Mereka sering menganggap bahwa pemain yang menunjukkan performa bagus di tim sebelumnya, maka niscaya akan dapat menunjukkan hal serupa di klubnya yang baru.

Memang, meskipun seorang pesepakbola profesional selalu dituntut untuk bermain konsisten, namun faktor kecocokan juga menjadi hal yang menentukan dalam sepakbola. Bahkan pemain terbaik dan termahal di dunia sekalipun bisa tunjukkan performa buruk bila bermain dengan klub yang tidak cocok dengannya. 

Padahal pihak klub dan penggemarnya sudah mematok ekspektasi tinggi terhadapnya. Tak jarang hal ini justru menimbulkan kekecewaan, baik bagi klub, penggemar, dan juga sang pemain sendiri karena tak mampu tampil maksimal.

Contohnya saja pada kasus Andriy Shevchenko. Pada Juni 2009 ia diboyong Chelsea setelah bermain secara impresif dengan AC Milan. Sayangnya, ia kurang bisa menyesuaikan diri dengan gaya bermain cepat di Liga Primer Inggris. 

Manchester City juga pernah melakukan kesalahan serupa dalam kasus pembelian Robinho dari Real Madrid. Pun halnya dengan Liverpool dalam pembelian sederet nama seperti Robbie Keane, Andy Carroll, dan Christian Benteke.


3. 3. Tidak Memperhatikan Pergerakan Klub Lawan

Real Madrid juara Liga Champions.

Persaingan dalam dunia sepakbola adalah hal yang sangat dinamis. Terkadang, sebuah klub mungkin bisa amat mendominasi dengan memenangkan banyak kompetisi domestik dan internasional. Namun, terlalu terlena dengan kebesaran nama sendiri juga tidak baik.

Tengok saja bagaimana dahulu Barcelona menjadi penguasa singgasana La Liga. Dengan permainan memukau dan pertahanan tangguh, ia bahkan menjadi pionir bagi sepakbola dunia.

Namun dominasi tersebut tidak bertahan selamanya. Terutama sejak rivalnya, Real Madrid, melakukan gerilya untuk mendatangkan pemain-pemain berkualitas. Pada bursa transfer tahun 2009/10 saja, Los Blancos mendatangkan pemain yang kemudian menjelma menjadi megabintangnya, Cristiano Ronaldo.

Selanjutnya Real Madrid juga meneken kontrak dengan sederet pemain efektif seperti Xabi Alonso, Luka Modric, Angel Di Maria, dan lain-lain. Dan benar saja, dalam beberapa tahun saja El Real sudah mampu menantang dominasi Barca di Spanyol dan Eropa.


4. 4. Terlambat Bergerak di Bursa Transfer

David De Gea sempat gagal pindah ke Real Madrid.

Saat melakukan aktivitas di bursa transfer, klub sepakbola diharuskan melakukan pergerakan yang cepat dan tepat. Dapat dikatakan mereka sedang berkejaran dengan waktu. 

Hal ini karena banyak yang berpendapat bahwa semakin cepat sang pemain bergabung dengan tim, maka semakin cepat pula ia dapat beradaptasi. Di sisi lain, ini juga baik untuk tim karena sang manajer dapat segera mengatur strategi sebelum musim dimulai.

Sayangnya tak semua klub besar langsung cepat tanggap di jendela transfer saat dibuka karena berbagai hambatan. Hal ini tak jarang membuat mereka kehilangan sang incaran atau justru harus membayar lebih dari yang direncanakan.

Tilik saja pada runyamnya transfer David De Gea ke Real Madrid dari Old Trafford. Sebenarnya Madrid sudah hampir memboyong sang kiper sejak Agustus 2015. United pun sudah setuju dengan imbalan 29 juta poundsterling ditambah Keylor Navas.

Sayangnya, kesepakatan ini pun harus batal akibat insiden terlambatnya dokumen yang sejatinya perlu ditandatangani Madrid untuk memfinalisasi perpindahan De Gea. Transfer pun batal lantaran bursa transfer di Spanyol kadung ditutup.

Kasus selanjutnya juga terjadi pada Man United yang harus membayar lebih untuk Dimitar Berbatov. Pasalnya, klub sekotanya, Manchester City juga menawar Berbatov dengan harga tinggi.


5. 5. Mementingkan Kuantitas daripada Kualitas

Gareth Bale.

Memang dalam bursa transfer, sebuah klub diharapkan dapat menyegarkan skuat dan menambah daya gedor tim dengan mendatangkan pemain-pemain baru.

Namun tak jarang, klub-klub besar juga menghabiskan banyak uang untuk membeli sebanyak mungkin pemain. Padahal mereka belum tentu efektif untuk mendongkrak prestasi tim.

Salah-salah, banyaknya kepala yang harus diatur ini justru berdampak negatif. Tak jarang sang manajer justru dibuat pusing dengan anak asuh yang terlalu banyak, sehingga berpotensi memunculkan konflik.

Hal ini pun terjadi pada AC Milan saat ini dan juga pada Tottenham Hotspur setelah Gareth Bale pindah ke Real Madrid tahun 2013, sebagaimana dilansir dari Sportskeeda.

Bursa TransferReal MadridManchester UnitedCristiano RonaldoLiverpoolGareth BaleManchester CityBarcelonaLaLiga SpanyolLiga EuropaPaul PogbaTottenham HotspurDavid de GeaDimitar BerbatovAndriy ShevchenkoLiga InggrisBola Internasional

Berita Terkini