x

Dari Strategi Hingga Banner Provokatif, Berikut Empat Hal Menarik Dari Duel Spartak vs Liverpool

Rabu, 27 September 2017 14:55 WIB
Editor: Rizal

Hasil imbang kedua yang didapat Liverpool sekaligus mengagalkan ambisi mereka berbuka puasa kemenangan dalam tujuh pertandingan Liga Champions terakhir.

Strategi bertahan dan serangan balik yang diterapkan oleh pelatih Spartak, Massimo Carrera, memang efektif dalam meredam agresifitas permainan Philippe Coutinho dkk.

Baca Juga

Meski Liverpool menguasai 64 persen penguasaan bola dan berhasil menciptakan 16 tembakan, hanya satu gol dari Coutinho di menit 31 yang berhasil dibuat oleh The Anfield Gank.

Terlepas dari urusan strategi, berbagai atribut dan bendera yang dibentangkan suporter Spartak juga layak untuk dicermati.

Berikut empat hal menarik yang bisa dicermati dalam pertandingan tersebut.


1. Dua Kiper Bikin The Reds Frustasi

Artem Rebrov, selebrasi setelah rekannya Fernandi cetak gol ke gawang Liverpool.

Pada awal laga, Artem Rebrov dipercaya untuk mengawal gawang Spartak. Menghadapi kiper berusia 33 tahun itu, lini serang Liverpool seperti berhadapan dengan tembok.

Sebut saja penyelamatan satu tangan yang dilakukan Rebrov atas sundulan Roberto Firmino. Lalu penyelamatan Rebrov yang mengagalkan tendangan bebas Coutinho di awal babak kedua.

Rebrov baru bisa dihentikan ketika dirinya menderita cedera, setelah berbenturan dengan Mohamed Salah. Rebrov ditarik keluar di menit 68, digantikan oleh Alexander Selikhov.

Kiper Spartak Moscos, Alexander Selikhov dalam aksinya dalam penyelamatan.

Alih-alih berhadapan dengan tembok yang lebih lunak, Liverpool malah berhadapan dengan Selikhov yang tak kalah tangguh. Sundulan Salah dari jarak enam meter di menit-menit akhir yang mampu diamankan Selikhov menjadi usaha terakhir Liverpool.

Aksi dua penjaga gawang Spartak benar-benar membuat Liverpool frustasi. Manajer Liverpool, Jurgen Klopp, bahkan mengaku sampai kehabisan kata-kata


2. Debut Starter Fab Four

Kuartet penyerangan Liverpool, Fab Four.

Untuk pertama kalinya di musim ini, Philippe Coutinho, Sadio Mane, Mohamed Salah, dan Roberto Firmino tampil sebagai starter. Para fans Liverpool menjuluki keempat pemain lini serang ini sebagai Fab Four.

Julukan itu sendiri merujuk pada empat pemuda asal Liverpool yang pernah menjadi fenomena musik di era 60-an, The Beatles. Harapannya tentu kedepannya empat pemain ini bisa menjadi legendaris, layaknya The Beatles di dunia musik.

Sayang, debut Fab Four tak berjalan mulus. Hanya Coutinho yang sukses mencetak gol, dan Liverpool hanya bisa bermain imbang.

Hasil ini sekaligus menjadikan Liverpool gagal menang di tujuh pertandingan Liga Champions terakhir yang dijalani The Anfield Gank.

Jika The Beatles juga sempat mengalami pasang surut di awal kariernya sebelum bisa melegenda, tentu para Liverpudlian berharap Fab Four mereka saat ini juga akan bangkit kedepannya.


3. Banner UEFA Mafia

Banner UEFA Mafia dibentangkan suporter Spartak.

Sanksi berat sedang menanti Spartak setelah para suporter melemparkan flare ke tengah lapangan pada pertandingan pertama melawan Maribor.

Meski demikian, hal tersebut tak menciutkan nyali para suporter Spartak. Seolah menantang, i pinggir lapangan, mereka bahkan membentangkan banner yang bertuliskan "UEFA Mafia".

Belum ada informasi lanjutan, akankah sanksi apa yang akan dijatuhi kepada para suporter Spartak lantaran dua aksi tersebut.

Hukuman seperti bertanding tanpa suporter, hingga denda, siap menanti Spartak andaikan tidak bisa mengontrol fanatisme berbau anarkis para penggemarnya.


4. Win or Die Hanya Sekadar Slogan

Tifo yang diperagakan suporter Spartak saat jumpa Liverpool.

Saat para pemain masuk kelapangan, para suporter sudah menyambutnya dengan tifo (semacam koreografi) yang bertuliskan "Win or Die". Sejatinya hal tersebut sekaligus menuntut para pemain Spartak untuk berusaha mengejar kemenangan.

Sayang, Spartak justru hanya tampil bertahan dan hanya mengandalkan serangan balik. Ketika Liverpool berhasil menyamakan kedudukan, Spartak juga tak berupaya untuk menyerang dan mengejar kemenangan.

Pelatih Spartak, Massimo Carrera, menyebut strategi bertahan dimainkan karena absennya beberapa pilar utama Spartak. Meski demikian, beberapa pendukung garis keras memang tidak menyukai gaya Carrera, yang dianggap terlalu memainkan gaya catenaccio asal Italia, negara asal Carrera.

Mantan pemain belakang itu juga memang lagi disudutkan, setelah performa kurang apik Spartak di liga Rusia awal musim ini. Hingga pekan 11, Spartak masih tercecer di posisi tujuh klasemen sementara.

LiverpoolLiga ChampionsMohamed SalahPhilippe CoutinhoSadio ManeRoberto FirminoSpartak Moscow

Berita Terkini