3 Pesepakbola Eropa Ini Sukses Berkarir Di Liga Indonesia
Indonesia yang beriklim tropis menjadi satu diantara banyaknya alasan pesepakbola asal Eropa yang merumput di Liga Indonesia kurang bersinar jika dibandingkan dengan pesepakbola asal Amerika Latin.
Namun, tetap saja, ada juga pesepakbola asal Benua Eropa yang mampu membuat perbedaan dan menampilkan permainan berkelas, bahkan mampu membawa tim yang dibelanya meraih berbagai prestasi, bahkan titel juara.
Apalagi dalam dua musim terakhir. Semakin banyak pemain Eropa yang bermain di Liga 1 Indonesia musim 2017 ini, dan hampir semuanya sukses memberikan performa terbaik mereka.
Dihimpun INDOSPORT dari berbagai sumber, inilah 3 pesepakbola asal Eropa yang terbilang sukses merumput di Liga Indonesia. Berikut daftarnya.
1. ILJA SPASOJEVIC
Dengan usia yang masih terbilang muda, 24 tahun, Ilja Spasojevic mau-maunya menerima pinangan Bali Devata, klub tanpa pamor dari negeri yang sepakbolanya begitu sulit berprestasi.
Belum lagi, ketika itu Indonesia, negeri yang sepakbolanya begitu sulit berprestasi itu, tengah diguncang prahara dualisme PSSI.
Bali Devata jelas beruntung memilikinya. Toh, di musim pertamanya itu Spaso berhasil melesatkan 10 gol hanya dalam 14 laga. Pertanyaannya, apakah Spaso merasakan hal serupa? Entahlah.
Tapi yang jelas, andaikan ia tak bergabung dengan Bali Devata ketika itu, rasanya tak mungkin Spaso akan mencintai Indonesia dan juga dicintai Indonesia.
Spaso hanya bertahan satu musim di Bali. Setelahnya, ia sempat hijrah ke beberapa klub dalam negeri seperti PSM Makassar, Mitra Kukar, Persisam Samarinda, Persib Bandung, dan Pelita Bandung Raya.
Di klub-klub itu, Spaso selalu berhasil menunjukkan ketajamannya. Bila diakumulasikan, total gol Spaso bersama Bali Devata dan lima klub lain yang pernah ia perkuat adalah mencapai 55 gol.
Pada 2015, ketika Indonesia mendapat sanksi dari FIFA, pemain asal Montenegro ini hengkang ke Melaka United di Malaysia. Di sana ia tampil apik dengan berhasil membawa Melaka juara Malaysia Premier League.
Selain itu, ia juga meraih gelar top skorer dengan 24 gol. Pertengahan 2017 lalu, ia kembali ke Indonesia untuk memperkuat Bhayangkara FC setelah sempat mengalami cedera.
Di klub inilah, Spaso meraih gelar liga Indonesia untuk pertama kalinya sekaligus mewujudkan salah satu keinginannya, yaitu mendapat status sebagai warga negara Indonesia.
2. Willem jan Pluim
Paulo Sergio boleh jadi berhasil membawa Bhayangkara FC memenangkan perebutan juara liga, tapi justru Willem jan Pluim lah marquee player yang tampil paling menonjol dan stabil sepanjang musim.
Meski memiliki tubuh yang relatif tinggi, Pluim bukanlah pemain yang malas bergerak. Ia memanfaatkan kakinya yang panjang untuk mendribel bola.
Statistik dribelnya bahkan mencapai 68 persen yang membuat Pluim menjadi pemain dengan statistik dribel sukses tertinggi.
Pluim juga cukup sering bergerak ke dua sisi sayap untuk membuka ruang bagi para pemain sayap PSM serta terkadang berada di barisan terdepan penyerangan. Kebiasaannya itu membuat penyerangan PSM sulit ditebak.
Hal-hal di atas itu serta visi menyerang yang ia miliki berhasil membuat Pluim menjadi nyawa permainan PSM Makassar. Statistiknya juga membuktikan klaim bahwa Pluim begitu penting bagi tim Juku Eja.
Sepanjang musim, ia tampil memikat dengan torehan 12 gol dan 9 assist dalam 32 pertandingan. Penampilan apik Plum sepanjang musim juga membuatnya masuk sebagai salah satu kandidat pemain terbaik Liga 1, bersama Paulo Sergio dan Sylvano Comvalius.
Selain itu, namanya juga berulangkali dihubung-hubungkan dengan beberapa klub yang menunjukkan ketertarikan, meski akhirnya memutuskan bertahan di Makassar.
3. Vladimir Vujovic
Vladimi Vujovic atau yang akrab disapa dengan Vlado, termasuk pemain asing asal benua Eropa yang mampu meraih sukses di Indonesia. Pemain berposisi bek tengah ini telah meraih dua gelar bergengsi di Indonesia bersama Persib Bandung.
Pada musim perdananya di Indonesia, ia berhasil menyumbangkan gelar juara Indonesia Super League 2014 bagi Maung Bandung. Trofi tersebut sangat spesial bagi Persib, karena sudah hampir 19 tahun publik sepak bola Kota Bandung tak merasakan gelar juara.
Ciri khas Vlado adalah permainannya yang lugas dan tak kenal kompromi. Sebagai bek tengah, ia terkenal tak mudah ditembus pemain lawan.
Kemampuan bertahan Vlado juga ditunjang dengan kemampuannya mencetak gol. Sundulannya kerap menghasilkan gol untuk Persib Bandung.
Selain gelar ISL 2014, Vlado juga menyumbang gelar juara Piala Presiden 2015 bagi Persib. Lagi-lagi momen tersebut begitu spesial, karena Persib meraih gelar juara setelah menang di final yang berlangsung di Jakarta.
Spesial karena Jakarta adalah rumah rival utama Persib, Persija Jakarta, dan lagi-lagi Vlado memberikan kebahagian bagi Bobotoh yang sangat setia menemani Pangeran Biru bertanding di mana saja.