3 Bintang Liga Primer Inggris Musim Ini yang Dinilai Lebih Rendah dari Kemampuannya
Memasuki paruh kedua Liga Primer Inggris musim ini, seluruh klub peserta dihadapkan pada jadwal superpadat hingga awal tahun baru. Fokus dan stamina para pemain andalan bakal berperan penting dalam hasil yang diraih selama jadwal yang padat.
Di antara klub-klub papan atas ternyata ada sejumlah pemain yang perannya masih dianggap kurang besar bagi klub yang dibelanya. Nama mereka kalah dari pemain bintang lain yang memang terlihat lebih menonjol sepanjang musim ini.
Padahal, sejatinya peran mereka pun tak kalah besar. Hanya saja memang karena jarang terekspos sehingga tidak banyak yang tahu kontribusi apa saja yang sudah mereka berikan kepada klubnya.
Berikut INDOSPORT ulas 3 pemain bintang di klub elite Liga Inggris yang sebenarnya punya peran besar tapi kerap dipandang kurang maksimal. Siapa sajakah mereka?
1. Nacho Monreal (Arsenal)
Nama Nacho Monreal memang kalah tenar dibanding Sead Kolasinac yang sangat bergaung di Arsenal. Meski sama-sama berposisi sebagai defender, peran Nancho lebih banyak tertutup oleh performa Kolasinac yang memang cukup moncer di awal musim ini.
Padahal, pemain 31 tahun ini sejatinya adalah andalan utama manajer Arsene Wenger dalam mengawal lini pertahanan. Buktinya, dia tampil dalam seluruh 19 laga paruh pertama Liga Primer Inggris musim ini.
Usianya yang sudah mencapai 31 tahun tak menghalangi performa pemain Spanyol ini untuk terus mendapat kepercayaan Wenger. Baik ketika Wenger menurunkan formasi 3 bek maupun 4 bek, nama Nacho dipastikan ada di antaranya.
Satu bukti yang membuktikan kapasitas Nacho dalam mengawal lini pertahanan adalah data 50 intersep yang sudah dilakukan sepanjang musim ini. Angka tersebut merupakan yang tertinggi di Liga Primer musim ini.
2. Chris Smalling (Man United)
Ketika Jose Mourinho mendatangkan Victor Lindelof pada awal musim ini, nama Chris Smalling sepertinya akan tertutup bayang-bayang bintang baru Manchester United tersebut. Terlebih performa pemain 28 tahun ini pada musim lalu pun kurang memuaskan.
Namun tak disangka situasi berubah hanya beberapa pekan musim ini berjalan. Lindelof tak kunjung tampil sesuai ekspektasi. Ditambah, Eric Bailly yang mengalami cedera serius hingga menjalani operasi untuk menyembuhkan cedera pada engkelnya dan harus istirahat panjang.
Mourinho pun tak ada pilihan kecuali menurunkan Smalling sebagai bek tengah di lini belakang Setan Merah. Meski masih sempat diganggu cedera, performa pemain yang sudah bergabung ke Old Traford sejak 2010 ini ternyata justru menjanjikan.
Salah satu bukti penampilan individu dari Smalling bisa terlihat di laga derby Manchester. Terlepas dari dua gol yang dicetak Man City, salah satunya "dibantu" oleh Romelu Lukaku, peran Smalling dalam mengawal pertahanan MU sebenarnya sudah bagus.
Data statistik menunjukkan sepanjang laga tersebut Smalling melakukan 4 tekel dengan 100 persen success rate, 7 clearances, dan 3 intersep. Ini yang membuat Mourinho akhirnya tak mampu berpaling ke bek lain untuk mengisi pos yang diisi Smalling.
3. Roberto Firmino (Liverpool)
Ketika klub-klub pada umumnya memasang trio penyerang, Liverpool justru memperkenalkan sistem baru: 4 penyerang. Formasi yang dikenal dengan sebutan Fab Four ini diisi oleh Mohamed Salah, Sadio Mane, Philippe Coutinho, dan Roberto Firmino.
Nama terakhir sekaligus berperan sebagai striker utama di depan tiga gelandang serang berteknik tinggi tersebut. Fab Four setidaknya mampu menyumbang 32 gol dan 15 assists bagi Liverpool di semua ajang sepanjang musim ini.
Namun demikin, Firmino kerap dianggap kurang memberi andil dalam sistem penyerangan Liverpool. Apalagi, saat ini justru Salah yang menjadi top skor bagi Liverpool sekaligus paling subur di Liga Primer.
Memang jumlah gol Firmino musim ini kalah jauh dibanding Salah. Namun, sebagai penyerang utama, Firmino mampu menarik perhatian bek tengah lawan dengan kemampuannya bergerak. Terlebih, sejatinya Firmino memang bukan pemain yang kerap berposisi sebagai ujung tombak.
Keberadaan Firmino mampu membuka banyak ruang bagi Salah dan Mane di sektor sayap. Termasuk memberi kesempatan bagi Coutinho untuk melakukan penetrasi atau mengirim umpan-umpan akurat ke depan gawang lawan untuk diselesaikan rekan-rekannya.