13 Tahun Tsunami Aceh, Klub Sepakbola Ini Bertahan dengan Keterbatasan
Sebuah tragedi terjadi di penghujung 2004 silam. Pukul 08:58:53, 26 Desember 2004 di episentrum di lepas pantai barat Sumatera terjadi gempa dengan kekuataan mencapai 9,1-9.3 skala richter. Gempa besar ini disusul dengan gelombang tsunami dasyat. Tak hanya Aceh, sejumlah negara di kawasan Samudra Hindia merakan kengerian gelombang tsunami tersebut.
- Ikuti Teladan Nabi Muhammad SAW, Pemain Liverpool Ini Pernah Maafkan Penjahat yang Rampok Rumahnya
- Timnas Bisa Gunakan GBK, Pemprov DKI Upayakan Persija Mendapat Perlakuan yang Sama
- Polemik Evan dan Ilham, Akun Suporter Malaysia Hina Ketum PSSI
- Usai Natal, Voting NBA All Star 2018 Resmi Dibuka
- Sempat Dirumorkan ke Persib, Robin van Persie Diminati Mantan Klub
Termasuk daerah di Koh Panyee, daerah yang terletak di provinsi Phang Nga, Thailand Selatan. Untungnya saat gelombang tsunami menghantam, daerah ini tak mengalami kerusakan yang parah. Hal itu diakibatkan daerah ini terlindungi oleh hutan mangrove.
Yang kemudian menarik adalah di daerah ini terdapat klub sepakbola bernama Panyee FC. Apa hebatnya klub ini? Berikut ulasannya untuk pembaca setia INDOSPORT
1. Daerah yang dibangun dari petani Jawa
Banyak hal menarik di daerah Koh Panyee ini. Salah satunya soal asal usul daerah ini, seperti dikutip dari thaiwaysmagazine.com (16/12/2017) Koh Panyee menurut banyak catatan sejarah ternyata dibangun oleh keluarga nelayan asal Indonesia, tepatnya berasal dari pulau Jawa. Populasi awal di wilayah ini berjumlah 1685 orang yang turun dari dua keluarga pelaut muslim Jawa tersebut.
Tak mengherankan jika kemudian saat ini di Koh Panyee masih tersisa masyarakat asli sana yang masih berkomunikasi dengan bahaya Melayu dan sedikit bahasa Jawa. Di daerah ini juga masih terdapat sekolah muslim dan masjid berdampingan dengan kuil Budha.
Hal menarik berikutnya dari daerah ini selain asal usul Koh Panyee soal bagaimana wilayah yang mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan menjadi inspirasi untuk pencinta, penggiat, dan pelaku sepakbola. Jika Anda berseluncur di dunia maya dan menemukan foto soal lapangan sepakbola terapung, Anda akan melihat 'keajaiban' yang memang nyata ada di Koh Panyee.
2. Semangat anti menyerah Panyee FC
Terinspirasi oleh Piala Dunia 1986, anak-anak Koh Panyee yang besar di tahun itu memang tergila-gila dengan sepakbola lantas berambisi membangun lapangan sepakbola. Mengingat mayoritas Koh Panyee merupakan daerah mangrove jadi sangat tidak masuk akal membangun lapangan sepakbola seperti biasanya. Meski berada di kondisi keterbatasan tak membuat anak-anak ini menyerah untuk bisa mendapatkan lapangan sepakbola.
Berbekal sisa kayu bekas pembuatan kapal dan alat memancing lantas digunakan anak-anak itu untuk membangun lapangan sepakbola terapung. Tak hanya sekedar membangun lapangan saja seperti dikutip dari @Panyee fc (26/12/17), anak-anak ini lalu membentuk tim sepakbola bernama samam Panyee FC. Sampai di titik ini, apa yang dilakukan para anak muda ini benar-benar menjadi katalis bagi daerah ini untuk menjadi lebih maju.
Latihan-latihan yang terus dilakukan oleh klub amatir ini kemudian dibukakan peluang lagi yakni saat datang sebuah poster kompetisi sepakbola yakni Piala Pangha, kompetisi sepakbola yang memang ditujukan untuk seluruh klub sepakbola Thailand di tingkat amatir.
Bak cerita dari negeri dongeng, klub yang pemainnya selalu berlatih tanpa gunakan sepatu bola dan di lapangan buatan yang terbuat dari kayu bekas dapat berbicara banyak. Panyee FC mampu mencapai babak semifinal, hasil yang tidak pernah mereka mimpikan sebelumnya.
Perjalanan pemain Panyee FC dan orang-orang Koh Panyee yang begitu inspirasi ini lantas mendorong salah satu bank swasta terbesar di Thailand membuat sebuah video pendek mengenai klub ini. Di video pendek ini kita bisa melihat bagaimana perjalanan klub ini yang awalnya sempat dicibir keberadaannya oleh mayoritas orang tua Koh Panyee ternyata menjelma jadi klub yang menginspirasi banyak orang muda di daerah ini.
3. FC Panyee dalam video pendek