x

88 Tahun PSSI, 4 Program Paling Ambisius PSSI: Kirim Bakat Lokal ke Luar Negeri

Kamis, 19 April 2018 12:09 WIB
Editor: Gerry Crisandy
Program PSSI.

Pada hari Kamis, 19 April 2018, badan sepakbola Indonesia, PSSI genap berusia 88 tahun. 

Tepat 11 windu Indonesia telah memiliki suatu organisasi yang mengurusi olahraga kulit bundarnya -- pertanyaannya, sukses kah?

Mungkin dalam hal piala dan medali-medali berkilau, sepakbola Indonesia masih belum banyak berbicara di kancah internasional. 

Jangankan dalam cakupan dunia, untuk menjadi nomor satu di Asia Tenggara saja, Timnas Indonesia masih kesulitan.

Namun hal tersebut bukan berarti PSSI tidak mencanangkan gagasan-gagasan untuk menunjang prestasi kesebelasan Bumi Pertiwi.

Bukan hanya perbaikan sarana maupun pencarian bakat, PSSI juga sempat memiliki program-program untuk mengirimkan talenta-talenta terpilih ke 'negara-negara sepakbola' guna menuntut ilmu.

Baca Juga

1. Bina Utama (Binatama)

PSSI Binatama 1980

Di tahun 1979, pelopor dari program pengiriman bakat-bakat muda ke luar negeri, Bina Utama dijalankan.

Lebih dari 20 pemain di bawah usia 23 tahun dikirimkan ke negara yang kultur sepakbolanya begitu mahsyur, Brasil.

Kuartet pelatih, Sutjipto Suntoro, Sartono Anwar, Ipong Silalahi dan Jopie Timisela, dipercaya untuk menukangi Tim Binatama kala itu.

Di Negeri Samba, talenta-talenta muda Indonesia akan dilatih dalam teknik dan fisik para pemain, juga diharapkan dapat pulang dibekali ilmu yang didapat dari negara penghasil pemain-pemain legendaris seperti Pele dan Zico.

Sebelum Binatama, PSSI pernah mengadakan pemusatan pelatihan yang juga menempatkan sejumlah pemain untuk waktu yang cukup lama di Salatiga -- program itu disebut Diklat Salatiga 1963 dan 1973.


2. Primavera

PSSI Primavera

Mungkin program paling populer dari PSSI hingga saat ini. Primavera adalah proyek bergengsi yang bertujuan untuk mengembangkan potensi pemain-pemain Timnas U-19 Indonesia di era pertengahan 1990an dengan mengirimkan 20 pemain ke untuk berkompetisi di Piala Primavera Italia.

Di bawah pelatih Italia, Romano Matte, Primavera menelurkan bintang-bintang sepakbola lokal seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Kurnia Sandy, Bima Sakti dan Yeyen Tumena. 

Tiga pemain Indonesia: Kurniawan, Kurnia Sandy dan Bima Sakti juga sempat menjadi bagian dari tim raksasa Serie A Italia kala itu: Sampdoria.

Pemain-pemain tersebut bahkan terus menjadi pilar persepakbolaan Indonesia bertahun-tahun setelah program Primavera berakhir di tahun 1994.


3. Baretti

Empat pemain Primavera Baretti Supriyono (kiri), Alex Pulalo (kedua dari kiri), Imran nahumarury (kedua dari kanan) dan Indrianto Nugroho (kanan) saat akan menghadapi Calcio Legend, 2016 lalu.

Jika Primavera ditujukan untuk pemain-pemain U-19, Baretti adalah program serupa dari PSSI, untuk bakat-bakat usia lebih muda, U-16.

Program ini dijalankan pada tahun 1995-96 dan merupakan kontinuiti dari Primavera.

Sayangnya, program ini tidak sepopuler dan sesukses Primavera -- hanya segelintir dari jebolan Baretti yang mampu menjadi andalan di lapangan hijau.

Beberapa pemain lulusan Baretti adalah Uston Nawawi, Elie Aiboy, Chris Yulianto dam Imran Nahumarury.


4. Sociedad Anonima Deportiva (SAD)

PSSI SAD

Lebih dari satu dekade setelah Primavera dan Baretti, PSSI kembali memiliki program ambisius yang dijuluki program SAD.
Program pelatihan nasional jangka panjang ke negara Uruguay ini yang dimulai pada tahun 2008 ini memiliki karakteristik yang sama dengan Primavera dan Baretti.

Pemain-pemain berbakat Indonesia dikirim ke negara Amerika Latin tersebut dan bertarung di kompetisi junior Uruguay, Quinta Division, di bawah asuhan pelatih asal Uruguay, cesar Payovich Perez dan dibantu asisten Jorge Anon.

Berjalan selama lima tahun, tim SAD Indonesia kesulitan untuk bersaing dengan tim-tim muda lokal sana. Dikutip dari Fourfourtwo, dari 23 laga yang diarungi, tim SAD hanya memenangkan enam di antaranya dan menelan 17 kekalahan.

Mulai dari isu buruknya manajemen, perbedaan kebudayaan dan iklim sepakbola khas Amerika Latin menjadi permasalahan yang sempat menjadi pembicaraan.

Tapi bagaimanapun, terdapat beberapa pemain seperti Rizky Pellu, Manahati Lestusen, Hansamu Yama Pranata dan Yandi Sofyan Munawar yang masih terus menghiasi rumput hijau persepakbolaan Indonesia hingga saat ini.

PSSIPrimaveraBarettiLiga IndonesiaPSSI BinatamaTimnas SAD

Berita Terkini