x

Tak Selamanya Dijajah Asing Itu Bawa Sial, Bukan Begitu Liga Primer Inggris?

Kamis, 9 Mei 2019 17:45 WIB
Editor: Coro Mountana
Logo Liga Primer Inggris

INDOSPORT.COM – Harus bekerja untuk tuan tanah dengan upah kecil berbalut peluh dan tangisan, mungkin itulah yang dirasakan oleh leluhur kita saat berada di masa penjajahan.

Indonesia sendiri mengalami penderitaan yang begitu luar biasa saat dijajah oleh Belanda selama 350 tahun dan Jepang selama tiga setengah bulan.

Oleh karena itu, kata jajah menjadi sangat negatif bagi Indonesia karena memori penderitaan di masa lalu akan berputar lagi.

Baca Juga

Rupanya penjajahan juga terjadi pada ajang sepak bola, Liga Primer Inggris seperti saat ini, di mana terdapat invasi gila-gilaan pelatih asing. Tercatat dari 20 klub Premier League, hanya ada 5 pelatih asli Inggris yang menjadi pelatih.

Itu artinya persentase pelatih asli Inggris di Premier League hanya mencapai 25% saja, sungguh sebuah realita menyedihkan.

Kelima pelatih asli Inggris itu hanya Eddie Howe (Bournemouth), Sean Dyche (Burnley), Neil Warnock (Cardiff City), Roy Hodgson (Crystal Palace), dan Scott Parker (Fulham).

Bahkan tidak ada satu pun pelatih lokal yang berani menangani big six Liga Primer Inggris (Arsenal, Chelsea, Manchester United, Manchester City, Liverpool, Tottenham Hotspur).

Baca Juga

Hal ini sempat menuai kritik dari tokoh sepak bola Inggris. Salah satunya ialah Sam Allardyce, pelatih yang sepanjang kariernya hanya mengasuh tim-tim Britania Raya termasuk melatih Timnas Inggris.

"Banyaknya manajer asing benar-benar mencemaskan dalam hal perkembangan para pelatih dan manajer muda Inggris. Semakin sulit saja bagi orang Inggris untuk berkarier di negeri sendiri," kata Sam Allardyce pada Januari 2019, seperti dilansir The 42.

Sejumlah orang Inggris boleh saja mengkritisi hal tersebut. Tapi, rupanya, penjajahan asing di sepak bola mereka saat ini menikmati hal positif, terutama berkaitan dengan finalis Liga Champions 2018/19.

Lantas, mengapa dominasi pelatih asing justru membawa efek positif bagi Liga Primer Inggris dan bagaimana caranya?


1. Ide Segar Pelatih Asing Begitu Eksotis

Trio andalan Liverpool: Roberto Firmino, Sadio Mane, dan Mohamed Salah.

Satu alasan kuat mengapa kehadiran pelatih asing justru menjadi rezeki adalah karena mereka datang ke Inggris dengan membawa ide segar dalam hal taktik dan strategi.

Semisal Pep Guardiola (Manchester City) dengan tiki-taka, gegenpressing Jurgen Klopp (Liverpool) dan Sarri-ball ala Maurizio Sarri (Chelsea).

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola (kiri) dan Maurizio Sarri, pelatih Chelsea.

Dan tentunya masih ada banyak lagi pelatih asing yang merevolusi wajah Liga Primer Inggris seperti Unai Emery (Arsenal), Mauricio Pochettino (Tottenham Hotspur), dan Ole Gunnar Solskjaer (Manchester United).

Akibatnya, persaingan di Liga Primer Inggris begitu ketat layaknya hutan belantara. Iklim kompetisi seperti itu menciptakan tim-tim teratas dengan kemampuan mumpuni yang dapat bersaing di tingkat Eropa.

Hasilnya di Liga Champions musim ini, menghasilkan All English final antara Liverpool vs Tottenham Hotspur. Bahkan di ajang Liga Europa juga berpeluang menghasilkan All English final antara Chelsea vs Arsenal.

Keberhasilan tim-tim Inggris mendominasi Eropa menjadi sesuatu yang sangat ditunggu oleh warga Britania Raya setelah tim Premier League terakhir yang bermain di final adalah Chelsea pada edisi 2011/12. Saat itu, Chelsea menjadi juara usai menang atas Bayern Munchen.

Chelsea juara Liga Champions 2012.

Kembali ke musim ini, para pelatih asing yang ada di Liga Primer Inggris memang begitu brilian di mana persentase kemenangannya sangat menakjubkan. Kita ambil contoh dengan dua pelatih terbaik di Liga Primer Inggris saat ini berdasarkan posisi di klasemen sementara.

Pep Guardiola yang berhasil membawa Manchester City memimpin klasemen sementara memunyai persentase kemenangan mencapai 84%. Di bawahnya, ada Jurgen Klopp dengan 70%, dan Mauricio Pochettino (60%).

Pada akhirnya, kehadiran pelatih asing yang sangat ahli itu telah membawa level Liga Primer Inggris ke tingkat yang berbeda sehingga menaikan mutu kompetisi.

Tapi, tentu para pelatih asing itu membutuhkan para pemain berbakat yang dapat mengimplementasikan strateginya di lapangan.

Sayang, rata-rata pemain andalan di setiap klub terutama big six berasal dari negeri di luar Inggris yang lebih dipercaya.

Ditunjang Pemain Asing Berbakat

Bisa dikatakan hanya Tottenham Hotspur saja yang masih lebih banyak mengandalkan talenta asal Inggris seperti Dele Alli, Harry Kane, dan Kieran Trippier. Sedangkan klub big six lebih mempercayakan kekuatan utamanya pada pihak asing.

Ambil contoh para bintang yang membawa tim-timnya ke final Liga Champions musim ini. Liverpool, yang sepanjang musim ini bertumpu pada Trio Firmansah, juga mendapat bala bantuan hebat dalam diri Georginio Wijnaldum, Virgil Van Dijk, Alisson, Divock Origi, dan sebagainya.

Pemain bintang Man United, Paul Pogba (kanan, merah) dan Eden Hazard, pemain megabintang Chelsea saling berpelukan sebelum pertandingan dimulai.

Begitu pula dengan Tottenham. Selain kehebatan Son Heung-min, mereka bertumpu pada Hugo Lloris, Lucas Moura, Jan Vertonghen, Toby Alderweireld, dan sebagainya.

Intinya, banyaknya pemain plus pelatih asing yang berkarier di Inggris justru bermanfaat bagi sepak bola negeri tersebut dengan bukti keberhasilan terjadinya All English final di Liga Champions 2018/19.

Liverpool Comeback Again, Saatnya Juara! 

Terus Ikuti Perkembangan Seputar Liga Primer Inggris dan Berita Olahraga Lainnya di INDOSPORT.

Manchester UnitedLiverpoolChelseaArsenalManchester CityLiga EuropaLiga ChampionsTottenham HotspurJurgen KloppPep GuardiolaMauricio PochettinoLiga Primer InggrisIn Depth Sports

Berita Terkini