x

Arrigo Sacchi: Sales Sepatu Pendobrak Sepak Bola Italia

Senin, 12 Oktober 2020 16:34 WIB
Editor: Zulfikar Pamungkas Indrawijaya
Mantan pelatih utama Italia dan AC Milan, Arrigo Sacchi.

INDOSPORT.COM – Sepak bola modern saat ini mengusung konsep menguasai pertandingan untuk menang. Banyak pelatih-pelatih hebat terdahulu yangmenginspirasi konsep ini. Salah satunya adalah Arrigo Sacchi.

Arrigo Sacchi adalah pelatih legendaris Italia kelahiran Fusignano, yang ada di provinsi Ravena, Italia 74 tahun silam. Layaknya para pemuda negeri Pizza, ia tumbuh dengan banyak menonton sepak bola kala itu.

Sacchi jatuh cinta dengan sepak bola berkat aksi-aksi menawan para pemain legendaris seperti Alfredo di Stefano, Pele, Ferenc Puskas dan pemain lainnya.

Berkat kecintaanya dengan sepak bola, ia pun menjajal karier sebagai pesepak bola. Namun perjalanannya sebagai pemain tak begitu cemerlang, dan malah terbilang buruk.

Meski tak pernah menjadi pemain profesional dan menggeluti duna yang ia cintai, Sacchi  tetap melanjutkan hidupnya dengan bekerja sebagai sales sepatu.

Gagal sebagai pemain tak membuat Sacchi putus asa. Bahkan saat tawaran datang untuk menjadi pelatih klub amatir, ia terima. Berbekal pengalamannya menonton sepak bola, pria yang kini berusia 74 tahun ini melangkah ke dunia kepelatihan.

Baca Juga
Baca Juga

Klub pertama yang ia latih adalah Baracca Lugo saat usianya 26 tahun. Baracca Lugo adalah klub amatir yang pernah ia bela waktu gagal sebagai pemain.

Usai melatih Baracca Lugo, ia melanjutkan kariernya di klub-klub kecil seperti Bellaria dan juga tim muda Cesena. Di klub-klub ini, ia mengimplementasikan ide sepak bola menyerang seperti yang ia liat saat masih muda.

Sepak bola menyerang miliki Sacchi sebenarnya hal yang tabu di Italia. Saat itu sepak bola negeri Pizza mengusung taktik 'Catenaccio' yang diperkenalkan Helenio Herrera.

Namun Arrigo Sacchi menentang gaya tersebut lewat kepelatihannya. Perlahan tapi pasti, caranya melatih membuahkan hasil yakni saat membawa klub Rimini menjuarai Serie C1. Dari sana, ia lalu ditarik ke tim muda Fiorentina.

Setelah mulai dikenal di kasta ketiga sepak bola Italia, Sacchi mendapat pinangan Parma. Dari Il Gialobblu lah perjalanannya menuju puncak dimulai.

Kembali ke musim 1986/87, di ajang Coppa Italia Parma bertemu dengan tim papan atas AC Milan. Menghadapi tim besar di Italia nyatanya tak membuat Sacchi gentar sedikitpun.

Siapa sangka di pertemuan pertama, Parma asuhan Sacchi mampu menumbangkan AC Milan yang dihuni Franco Baresi, Ray Wilkins dan Roberto Donadoni.

Bahkan hebatnya Sacchi mampu membawa Parma menjadi juara Grup 4 di atas AC Milan. Hal ini membuat bos Rossoneri kala itu, Silvo Berlusconi menunjuknya sebagai pelatih.

Baca Juga
Baca Juga

Keputusan Berlusconi pun banyak ditentang. AC Milan sebagai tim papan atas Italia harusnya menunjuk pelatih hebat, bukan orang seperti Sacchi.

Lantas, munculah kutipan melegenda dari Sacchi yang membungkam kritikan yang mengarah kepadanya kala itu.

“Saya tak pernah mengira bahwa untuk menjadi joki, Anda harus terlebih dulu menjadi kuda,” bunyi kutipan melegenda Sacchi.

Sacchi pun lantas membuktikan kapasitasnya. Di musim perdananya sebagai pelatih AC Milan, ia mampu memberikan gelar Scudetto musim 1987/88. Taktik menyerang dengan skema 4-4-2  yang dibarengi pressing tinggi pun tetap ia peragakan bersama Rossoneri.

Di musim kedua dan ketiganya, ia mampu mengantarkan AC Milan meraih Piala Champions (Liga Champions)  secara berturut-turut. Catatan itu menjadi prestasi tersendiri baginya.

Setelahnya pada tahun 1991, ia ditunjuk sebagai pelatih Timnas Italia. Sacchi bisa saja melengkapi gelarnya kala itu dengan gelar Piala Dunia 1994 andai keberuntungan berpihak padanya di babak final kala timnya kala di drama adu penalti.

Taktik Arrigo Sacci yang Merevolusi Sepak Bola Modern

Ada yang menarik dari taktik Arrigo Sacchi sendiri. Formasi 4-4-2 dengan mengandalkan pressing tingginya mampu merevolusi sepak bola Italia dan juga dunia.

Secara tidak langsung, Sacchi menjadi pionir dari taktik sepak bola saat ini. Ia menanggalkan peran libero dan mendapuk empat pemain bertahan yang bisa ia ubah menjadi tiga bek seperti saat membesut AC Milan.

Saat di bawah arahannya, AC Milan mendapuk Paolo Maldini, Alessandro Costacurta, Franco Baresi, dan Mauro Tassoti. Dalam perjalanannya, ia bisa merubahnya menjadi tiga bek Maldini, Costacurta dan Baresi serta memberi keleluasaan pada Tassoti untuk menyerang.

Selain itu, Sacchi yang menerapkan pressing tinggi juga menerapkan garis pertahanan tinggi untuk menerapkan jebakan offside. Pressing yang ada dalam taktiknya pun menciptakan suatu sistem yang kini dikenal sebagai zonal marking.

Apa yang dilakukan Sacchi sendiri pada saat membesut AC Milan mampu mengilhami pelatih-pelatih ternama saat ini seperti Maurizio Sarri, Fabio Capello, Rafael Benitez dan juga Jurgen Klopp.

Bahkan Klopp pernah mengatakan, bahwa taktik 'gegenpressing' yang kerap ia terapkan di timnya terinspirasi dari taktik Sacchi kala membesut AC Milan.

Secara tidak langsung, taktik Ariggo Sacchi sendiri memperkenalkan permainan menyerang dengan pressing tinggi merupakan cara terbaru dalam bertahan.

Pantas saja jika di dunia sepak bola kita kerap mendengar sebuah kalimat di mana pertahanan terbaik adalah menyerang. Boleh jadi Johann Cruyff memperkenalkan Total Football dan dikenal karena warisannya dalam sepak bola menyerang. Namun Arrigo Sachi, si sales sepatu, patut mendapat kredit karena mampu merevolusi sepak bola.

ItaliaAC MilanJurgen KloppFiorentinaParmaCesenaArrigo SacchiBola InternasionalUlasan TaktikSepak Bola

Berita Terkini