Dari Intrik Politik hingga Skandal Laga, Kontroversi Wasit Final Piala Dunia 2022 Szymon Marciniak
INDOSPORT.COM – Szymon Marciniak telah ditunjuk FIFA sebagai wasit final Piala Dunia 2022 Argentina vs Prancis. Siapa sangka, ia memiliki sepak terjang penuh kontroversi.
Partai puncak Piala Dunia 2022 antara Argentina vs Prancis tinggal menghitung hari saja. Dijadwalkan laga final ini akan digelar pada Minggu (18/12/22) malam WIB.
Jelang duel ini, semua pecinta sepak bola mengupas sepak terjang kedua kontestan yakni Argentina dan Prancis serta menakar siapa yang akan jadi pemenang.
Terlepas dari persiapan kedua negara ini, persiapan FIFA selaku penyelenggara juga menjadi sorotan dalam menyambut final ajang terakbar tahun ini.
Dalam persiapannya, Komite Wasit FIFA yang dipimpin Pierluigi Collina memutuskan wasit asal Polandia, Szymon Marciniak, menjadi pengadil di partai puncak.
Szymon Marciniak mampu mengalahkan wasit-wasit Piala Dunia 2022 lainnya seperti, yakni Anthony Taylor, Danny Makkelie (Belanda), Abdulrahman Al-Jassim (Qatar), dan Mustapha Ghorbal (Aljazair).
Penunjukkan wasit berusia 41 tahun itu sebagai pengadil di final Piala Dunia 2022 tak lepas dari sepak terjangnya di ajang ini.
Pada Piala Dunia 2022 ini, Marciniak sudah memimpin tiga laga yakni Kamerun vs Brasil, Portugal vs Ghana, dan Jepang vs Kroasia.
Hadirnya Marciniak sebagai wasit laga final Piala Dunia 2022 pun menjadi pertanyaan banyak pihak. Apalagi jika melihat deretan kontroversi yang ia miliki.
Tercatat, Szymon Marciniak punya noda hitam dalam memimpin pertandingan di level teratas sebelum menjadi wasit final Piala Dunia 2022. Apa saja noda hitam itu?
1. Profl Szymon Marciniak
Szymon Marciniak adalah wasit berkebangsaan Polandia yang lahir pada 7 Januari 1981. Kiprahnya di dunia wasit telah dilakoni sejak usia 21 tahun.
Kariernya sebagai wasit juga dibarengi karier sebagai pesepak bola amatir. Barulah di usia 25 tahun, Marciniak melepas karier sepak bolanya dan menjadi wasit profesional.
Usai menjadi wasit profesional pada 2006, hanya butuh tiga tahun saja bagi Marciniak menembus kompetisi teratas di Polandia.
Sejak debutnya di liga teratas Polandia atau Ekstralaksa sebagai wasit, Marciniak telah memimpin lebih dari 200 pertandingan sebagai wasit.
Dua tahun usai menjadi wasit di level teratas Polandia, Marciniak kemudian menjadi wasit FIFA pada 2011 dan mulai merambah kancah internasional.
Ajang-ajang internasional baik dari UEFA maupun FIFA pernah dipimpinnya, entah itu kompetisi antar klub sepert Liga Champions dan Liga Europa maupun antar negara seperti Euro dan laga uji coba.
Jika dihitung dari debutnya sebagai wasit di level teratas pada 2009, Marciniak telah memimpin 550 pertandingan sepanjang kariernya.
Dari 550 pertandingan yang dipimpinnya itu, Marciniak dikenal ‘ringan tangan’. Pasalnya, ia telah memberikan 2213 kartu kuning, 67 kartu merah, dan 74 kartu merah tak langsung.
Jika dirinci lebih dalam, maka Marciniak rata-rata memberikan minimal empat kartu kuning dalam satu laga yang dipimpinnya.
Terlepas dari catatannya, Szymon Marciniak juga berkaitan erat dengan kontroversi selama menjadi wasit. Apa saja kontroversi itu?
2. Kontroversi Szymon Marciniak
Dalam kariernya sebagai wasit, Szymon Marciniak tak lepas dari yang namanya kontroversi, sama seperti wasit-wasit lainnya.
Kontroversi pertama yang pernah dilakukannya adalah saat memimpin laga UEFA Nations League antara Turki vs Rusia pada 2020 lalu.
Di laga yang berlangsung pada 15 November 2020 itu, Turki mampu menang 3-2 atas Rusia berkat gol penalti Cenk Tosun di menit ke-52.
Penalti itu diberikan Szymon Marciniak tanpa alasan yang jelas. Sebab tak ada pelanggaran yang terjadi karena pemain Rusia lebih dulu menyentuh bola.
Hal ini membuat pundit maupun mantan pemain Rusia geram. Dilansir dari rt.com, para pundit meyakini Marciniak memberi kerugian kepada Rusia karena pandangan politik antara Polandia dengan Rusia.
Kontoversi kedua kemudian datang di Asia, tepatnya pada ajang Arab Cup yang digelar pada akhir tahun 2021 lalu untuk menyambut Piala Dunia 2022.
Saat itu, Marciniak memimpin laga antara Qatar vs Aljazair di babak semifinal. Kontroversi pun lahir saat dirinya tetap memainkan pertandingan melebihi masa Injury Time yang diberikan, yakni 19 menit.
Karena keputusannya itu, Marciniak dianggap ingin memberikan Qatar kesempatan mencetak gol. Dan benar saja, Qatar kemudian mencetak gol penyama kedudukan di menit ke-90+6.
Namun Aljazair yang sempat dirugikan, akhirnya bisa kembali unggul berkat penalti yang didapatkan di menit ke-90+16.