Wayne Rooney Minta Mohamed Salah Dicoret dari Laga Terakhir Liverpool, Kenapa?
INDOSPORT.COM - Wayne Rooney menilai Mohamed Salah seharusnya tidak masuk skuad Liverpool untuk laga terakhir musim ini. Pernyataan itu muncul setelah Salah mengunggah kritik terbuka usai kekalahan 4-2 di kandang Aston Villa.
Liverpool tumbang di Villa Park pada Jumat malam dan hasil itu membuat peluang mereka ke Liga Champions semakin tertekan. Aston Villa kini naik ke posisi keempat dengan 62 poin, sementara Liverpool tertahan di posisi kelima dengan 59 poin.
Sehari setelah kekalahan itu, Salah menulis pesan panjang di media sosial. Ia menyebut kekalahan tersebut sangat menyakitkan dan meminta Liverpool kembali menemukan identitas asli mereka.
Dalam unggahannya, Salah ingin melihat Liverpool kembali menjadi tim menyerang “heavy metal” yang ditakuti lawan. Kalimat itu langsung dianggap sebagai sindiran terhadap gaya bermain Arne Slot.
Salah memang identik dengan era kejayaan Liverpool di bawah Jurgen Klopp. Pada masa itu, istilah “heavy metal football” melekat pada permainan cepat, agresif, dan penuh tekanan tinggi.
Namun, Rooney menilai komentar Salah datang pada waktu yang salah. Menurutnya, tindakan itu tidak pantas dilakukan oleh pemain yang akan meninggalkan klub pada akhir musim.
“Saya merasa sedih melihat akhir dari semua yang sudah dia lakukan dan capai di Liverpool,” ujar Rooney dalam The Wayne Rooney Show. Ia menilai Salah seharusnya tidak kembali menyindir Slot secara terbuka.
Rooney menganggap pernyataan Salah seperti serangan lain kepada pelatihnya sendiri. Baginya, apakah Slot bertahan musim depan atau tidak, bukan alasan bagi pemain untuk membuka kritik seperti itu.
“Sangat mengecewakan. Dia bicara ingin bermain heavy metal football, jadi pada dasarnya dia ingin kembali ke sepak bola era Jurgen Klopp,” kata Rooney.
Rooney juga menilai Salah saat ini tidak lagi cocok untuk intensitas seperti era Klopp. Menurutnya, usia dan kondisi fisik membuat gaya tempo tinggi semakin sulit dijalankan oleh sang penyerang.
“Saya tidak berpikir Mo Salah bisa mengikuti gaya main sepak bola seperti itu lagi. Kakinya belum benar-benar habis, tetapi bermain dengan tempo dan intensitas tinggi sekarang sangat sulit untuknya,” ujar Rooney.
Karena itu, Rooney menyarankan langkah keras kepada Arne Slot. Jika dirinya berada di posisi pelatih Liverpool, Rooney tidak akan membawa Salah ke laga terakhir melawan Brentford.
“Kalau saya Arne Slot, saya tidak akan membiarkan dia berada di dekat stadion pada laga terakhir,” kata Rooney. Ia menilai tindakan tegas diperlukan untuk menjaga otoritas manajer.
Rooney kemudian membandingkan situasi itu dengan pengalamannya bersama Sir Alex Ferguson di Manchester United. Ia pernah berselisih dengan Ferguson dan kemudian tidak masuk skuad pada laga kandang terakhir sang manajer di Old Trafford.
“Saya pernah mengalaminya dengan Alex Ferguson. Kami punya perbedaan pendapat dan perselisihan,” ujar Rooney.
“Pada pertandingan terakhir Alex Ferguson di Old Trafford, dia meninggalkan saya dari skuad karena alasan itu,” lanjutnya. Rooney memakai pengalaman tersebut sebagai contoh bagaimana pelatih harus menjaga kendali ruang ganti.
Menurut Rooney, Salah seperti melempar granat ke dalam situasi Liverpool. Ia menilai unggahan itu bukan hanya menyudutkan Slot, tetapi juga membebani pemain yang masih akan bertahan musim depan.
“Dia hampir seperti menarik pin granat dan mengatakan tidak percaya kepada Arne Slot. Dia juga menempatkan rekan-rekannya ke posisi sulit,” kata Rooney.
Salah sendiri sudah dipastikan akan meninggalkan Liverpool pada akhir musim. Sejauh ini Salah mencatat sembilan trofi sejak bergabung pada musim panas 2017.
Laga melawan Brentford di Anfield seharusnya menjadi perpisahan emosional Salah dengan publik Liverpool. Namun, komentar terbarunya membuat suasana menjelang laga itu menjadi lebih rumit.
Hubungan Salah dengan Slot memang beberapa kali menjadi sorotan musim ini. Pada Desember, masa depan Salah sempat dipertanyakan setelah ia mengaku tidak memiliki hubungan dengan sang pelatih seusai Liverpool bermain imbang melawan Leeds.
Dari sisi performa, Salah juga tidak setajam musim-musim sebelumnya. Ia baru mencetak tujuh gol Premier League dari 26 penampilan musim ini, angka yang jauh dari standar tinggi yang pernah ia buat.
Rooney menilai Salah bersikap egois dalam dua momen kritik terbuka tersebut. Ia memahami fans akan berpihak kepada Salah, tetapi menilai pemain sekelasnya tahu persis dampak dari kata-kata yang ia keluarkan.
“Saya pikir dia sangat egois dalam dua kesempatan itu. Ini menyedihkan, dan fans mungkin akan berada di pihaknya,” ujar Rooney.
Namun, Rooney menegaskan pengalaman ruang ganti memberi sudut pandang berbeda. Menurutnya, pemain senior tidak boleh merusak otoritas pelatih secara terbuka, apalagi menjelang akhir musim yang masih penting.
“Mo Salah tahu persis apa yang dia lakukan. Saya juga pernah mempertanyakan Arne Slot musim ini, tetapi dia tetap manajer Anda,” kata Rooney.
Rooney menilai tidak ada pemain yang boleh dua kali merendahkan manajer di ruang publik tanpa konsekuensi. Karena itu, ia merasa Slot harus menunjukkan garis tegas sebelum laga terakhir.
“Kalau saya Arne Slot, saya harus menarik garis dan berkata, ‘dengar, kamu tidak akan mendekati tempat ini pada Sabtu, suka atau tidak’,” ujar Rooney.
Meski begitu, Rooney ragu Slot benar-benar akan mengambil langkah tersebut. Ia menyebut keputusan mencoret Salah dari laga perpisahan akan sangat berat secara emosional dan politis.
“Saya sangat meragukan dia akan melakukannya, tetapi saya pikir dia harus melakukannya,” kata Rooney. Menurutnya, otoritas pelatih jauh lebih penting daripada seremoni perpisahan.
Situasi ini menjadi penutup yang tidak ideal untuk salah satu pemain terbaik Premier League. Salah telah menjadi ikon Liverpool, tetapi masa akhirnya di Anfield kini dibayangi ketegangan.
Bagi Liverpool, laga melawan Brentford bukan hanya soal perpisahan. Mereka juga masih harus menjaga peluang ke Liga Champions dan menutup musim dengan harga diri.
Rooney melihat komentar Salah sebagai gangguan besar di momen yang tidak tepat. Ia merasa Liverpool membutuhkan fokus penuh, bukan polemik tambahan menjelang pertandingan terakhir.
Pada akhirnya, perdebatan ini menunjukkan betapa rumitnya akhir era Salah di Liverpool. Ia tetap legenda klub, tetapi cara perpisahannya kini bisa berubah menjadi cerita yang jauh lebih pahit dari yang dibayangkan.