Oase

Ronda Rousey: Dari Ratu UFC, Hancur di Panggung Dunia, hingga Bangkit Lagi Setelah Satu Dekade

Selasa, 12 Mei 2026 17:23 WIB
Editor: Redaksi
© MMA Fighting
Ronda Rousey Copyright: © MMA Fighting
Ronda Rousey

INDOSPORT.COM - Ronda Rousey pernah menjadi simbol kebangkitan MMA perempuan di level global. Namun di balik ketenarannya sebagai petarung tak terkalahkan, perjalanan karier Rousey ternyata dipenuhi tekanan mental, cedera neurologis, hingga kejatuhan dramatis yang sempat membuatnya meninggalkan dunia tarung.

Kini, satu dekade setelah kekalahan paling menyakitkan dalam kariernya, Rousey bersiap kembali bertarung menghadapi Gina Carano pada 16 Mei mendatang dalam duel yang akan ditayangkan Netflix.

Dalam wawancara panjang bersama media Inggris The Independent, Rousey membuka sisi lain dari perjalanan hidupnya yang selama ini jarang diketahui publik.

Sosok yang Mengubah Wajah MMA Perempuan

Sebelum era Conor McGregor mendominasi perhatian dunia, Rousey lebih dulu menjadi ikon besar UFC. Dengan latar belakang judo peraih medali Olimpiade, ia dikenal brutal di atas oktagon.

Saat masih tampil di Strikeforce dan UFC, Rousey menghancurkan lawan-lawannya dalam hitungan detik. Dari 12 kemenangan beruntun di awal karier MMA profesional, sebagian besar ia raih lewat submission armbar pada ronde pertama.

Namanya melesat bukan hanya di olahraga tarung. Ia tampil di berbagai film Hollywood seperti Fast & Furious 7, The Expendables 3, hingga serial populer Entourage.

Popularitasnya bahkan disebut menjadi alasan utama UFC akhirnya membuka divisi perempuan, setelah presiden UFC Dana White sebelumnya pernah menyatakan wanita “tidak akan pernah” bertarung di UFC.

Dalam wawancara tersebut, Rousey mengaku masa kejayaannya justru menjadi periode paling melelahkan dalam hidupnya.

“Itu benar-benar kegilaan. Kegilaan yang tidak pernah berhenti. Saya seperti sedang memasang rel di depan kereta yang melaju sangat cepat,” ujar Rousey.

Ia mengaku merasa memikul beban seluruh industri MMA perempuan seorang diri.

“Saya merasa seluruh dunia ada di pundak saya, seluruh perempuan, seluruh industri. Saya harus melakukan semuanya. Tidak ada yang mau mewawancarai lawan saya."

Menurut Rousey, tekanan itu membuat dirinya terus memaksa tubuh dan mental bekerja tanpa henti.

“Saya mencoba menjadi segalanya untuk semua orang. Setiap orang ingin foto, saya merasa harus melayani mereka. Tapi setiap orang sebenarnya mengambil sedikit energi dari diri Anda.”

Kekalahan dari Holly Holm yang Mengubah Segalanya

Karier Rousey berubah drastis saat menghadapi Holly Holm pada 2015.

Saat itu, Rousey datang sebagai juara dominan dan favorit mutlak. Banyak pihak bahkan menyebutnya nyaris tak terkalahkan. Namun di luar dugaan, Holm menjatuhkan Rousey lewat tendangan keras yang membuatnya KO pada ronde kedua.

Kekalahan itu menjadi salah satu kejutan terbesar dalam sejarah UFC.

Jurnalis MMA Chuck Mindenhall mengatakan publik saat itu sulit percaya Rousey bisa kalah.

“Orang-orang menganggapnya tak terkalahkan seperti Mike Tyson pada masa jayanya,” kata Mindenhall.

Setelah kekalahan tersebut, Rousey menghilang selama setahun sebelum kembali menghadapi Amanda Nunes. Namun comeback itu juga berakhir buruk setelah ia kalah TKO hanya dalam 48 detik.

Rousey akhirnya mengungkap bahwa dirinya mengalami gangguan neurologis serius pada akhir karier MMA-nya.

“Saya mengalami masalah neurologis. Saya dipukul dan mulai kehilangan sebagian penglihatan, persepsi kedalaman, kemampuan mengikuti objek bergerak, bahkan berpikir jernih,” katanya.

Awalnya ia mengira gejala tersebut akibat gegar otak berulang. Namun pemeriksaan lanjutan menunjukkan masalah yang dialaminya diduga berkaitan dengan migrain neurologis.

“Untungnya, karena Dana mengirim saya ke Cleveland Clinic, kami akhirnya mendapat diagnosis. Mereka menduga itu sebenarnya migrain, dan saya mendapat pengobatan pencegahan migrain.”

Ia mengaku kondisi itu membuatnya merasa tidak lagi aman bertarung di level tertinggi.

“Saya merasa dipaksa pensiun. Tidak ada lagi cara aman bagi saya untuk bertarung di level tertinggi.”

Selain faktor kesehatan, Rousey juga menyebut lingkungan latihan yang toksik membuatnya kehilangan kegembiraan dalam bertarung.

“Semua terasa hanya soal hasil. Saya ingin menikmati proses sehari-hari, bukan hanya hasil akhirnya.”

Kembali Bertarung di Usia 39 Tahun

Kini, di usia 39 tahun, Rousey memutuskan kembali ke arena tarung menghadapi Gina Carano, sosok yang juga dianggap pelopor MMA perempuan.

Menurut promotor Nakisa Bidarian, duel tersebut menjadi salah satu pertarungan paling menarik dalam olahraga tarung perempuan.

Rousey mengatakan comeback kali ini terasa berbeda dibanding masa lalunya.

“Dalam training camp kali ini, prioritas saya adalah menikmati diri sendiri dan menemukan kembali kegembiraan dalam bela diri,” ujarnya.

“Sekarang rasanya benar-benar berbeda. Saya bangun dari tempat tidur dengan semangat setiap hari.”

Sepanjang kariernya, Rousey dikenal sebagai figur kontroversial. Banyak penggemar mengaguminya, namun tak sedikit pula yang mengkritik sikapnya yang dianggap arogan.

Menariknya, Rousey mengaku memang tidak pernah ingin menjadi sosok yang disukai semua orang.

“Saya tidak ingin semua orang setuju, karena kalau semua orang setuju, percakapannya selesai. Tugas Anda bukan untuk disukai, tugas Anda adalah membuat orang menonton pertarungan Anda.”

Pernyataan itu menggambarkan bagaimana Rousey memahami perannya bukan hanya sebagai atlet, tetapi juga figur yang mengubah cara dunia memandang MMA perempuan.

Dari seorang petarung yang pernah dianggap tak terkalahkan, mengalami kehancuran di depan jutaan penonton, hingga kembali bertarung setelah bertahun-tahun menghilang, perjalanan Ronda Rousey tetap menjadi salah satu kisah paling dramatis dalam sejarah olahraga tarung modern.