Suara Angklung Membahana di Puncak Tertinggi Benua Terbersih Berkat Pendaki Perempuan

Jumat, 6 Januari 2017 11:44 WIB
Editor: Galih Prasetyo
 Copyright:

Selain mengibarkan bendera Merah Putih, tim WISSEMU seperti dilansir dari nationalgeographic.co.id juga membunyikan salah satu alat musik tradisional Jawa Barat, Angklung. 

Tim WISSEMU menginjakkan kakinya di puncak Vinson Massif, Antartika tepat pukul 23:48 waktu setempat atau Kamis (05/01/17), pukul 09:48 WIB. Butuh waktu 12 jam dari High Camp bagi tim WISSEMU untuk bisa mencapai ke puncak tertinggi di benua yang disebut sebagai benua terbesih di dunia tersebut. 

Pendakian tim WISSEMU menuju puncak Vinson Massif (4.892 mdpl) tidaklah mudah. Sebelumnya, tim WISSEMU melakukan perjalanan dari Low Camp (2.800 mdpl) menuju High Camp (3.770 mdpl) dalam suhu minus 30 derajat celsius.

"Keberhasilan mengibarkan bendera Merah Putih di puncak tertinggi Antartika merupakan persembahan bagi persatuan Bangsa Indonesia," ujar Mathilda Dwi Lestari, salah satu tim WISSEMU yang berkomunikasi dengan sekretariat Mahitala Unpar pada pukul 12.38 WIB melalui telepon satelit. 

Pendakian ke puncak Vinson Massif merupakan rangkain dari pendakian tim WISSEMU untuk mencapai gelar seven summitters. Setelah ini, tim WISSEMU akan mendaki Gunug Denali di Alaska yang wakili Lempeng Amerika Utara dan Gunung Everest di Nepal yang wakili Lempeng Asia. 

Capaian tim WISSEMU yang sukses mencapai puncak Vinson Massif sangat membanggakan. Dengan hasil ini, Indonesia kini memiliki perempaun pendaki pertama yang mencapai puncak tertinggi di Kutub Selatan. 

Sebagai tambahan informasi, tim WISSEMU terdiri dari dua pendaki perempuan asal Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari. 

Sebelumnya, dua pendaki perempuan ini telah menyelesaikan pendakian di empat gunung sebelumnya, yakni Carstensz Pyramid (4.884 mdpl), Elbrus (5.642 mdpl), Kilimanjaro (5.895 mdpl), dan Aconcagua (6.962 mdpl). 

471