INDOSPORT.COM - Marcus Thuram menjadi pusat perhatian saat Inter Milan menggelar parade juara bersama para pendukungnya. Penyerang asal Prancis itu mengejek rival sekota, AC Milan, dengan dua spanduk bernada provokatif sepanjang perayaan Nerazzurri.
Inter merayakan Scudetto dan Coppa Italia pada Minggu setelah laga kandang terakhir musim ini melawan Verona. Parade dilakukan dengan bus atap terbuka dari San Siro menuju Piazza Duomo, pusat kota Milan.
Inter memastikan gelar Serie A ke-21 setelah menang 2-0 atas Parma pada awal Mei 2026. Hasil kemenangan itu membuat Nerazzurri tidak lagi bisa dikejar dengan tiga laga tersisa.
Beberapa hari kemudian, Inter juga mengangkat trofi Coppa Italia setelah mengalahkan Lazio 2-0 di Roma. Kemenangan itu memastikan gelar Coppa Italia ke-10 dalam sejarah klub.
Namun, sorotan besar dalam parade bukan hanya tertuju kepada dua trofi Inter. Thuram mencuri perhatian karena membawa dua spanduk yang menyindir Milan secara langsung.
“Mi raccomando, festeggiamo in maniera sobria”
— Pulcino Pio (@IM_theRox) May 17, 2026
Thuram: pic.twitter.com/QLtMDLem6N
Spanduk pertama memperlihatkan gambar tikus dengan warna merah dan hitam. Kombinasi warna itu jelas merujuk kepada warna kebesaran AC Milan, rival sekota Inter.
Spanduk kedua berisi tulisan kasar yang menyindir kemenangan Milan dalam derby. Kalimat tersebut pada intinya meminta Milan “menyimpan” kemenangan derby mereka dengan cara yang sangat provokatif.
Football Italia melaporkan tulisan itu merupakan balasan terhadap spanduk yang pernah dibawa pemain Milan pada masa lalu. Karena itu, aksi Thuram tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang saling sindir dalam Derby della Madonnina.
Thuram ini beneran mendalami Inter ya, banner yang dipegang Thuram adalah balasan banter pemain Milan satu dekade silam 😅pic.twitter.com/HFYHKEiuXy
— FN (@FansNerazzurri) May 18, 2026
Rujukan paling terkenal terjadi pada 2007 setelah Milan menjuarai Liga Champions. Saat itu, Massimo Ambrosini membawa spanduk bernada kasar yang menyindir Scudetto Inter pada musim yang sama.
Aksi serupa kembali muncul pada 2022 ketika Milan menjuarai Serie A. Mike Maignan juga pernah membawa spanduk bernada ejekan terhadap Inter setelah Rossoneri mengakhiri musim sebagai juara liga.
Thuram tampaknya ingin membalas memori lama tersebut dalam pesta juara Inter. Namun, cara yang dipilihnya berpotensi menimbulkan konsekuensi karena menyentuh batas provokasi terhadap klub rival.
Pemain berusia 28 tahun itu diperkirakan akan mendapat denda. Situasi serupa pernah terjadi kepada beberapa pemain Milan yang membawa spanduk provokatif dalam perayaan gelar sebelumnya.
Bagi Inter, parade ini sebenarnya menjadi puncak musim yang sangat kuat. Mereka mengawinkan Scudetto dan Coppa Italia, sekaligus menegaskan dominasi domestik di bawah Cristian Chivu.
Thuram juga punya peran penting dalam perjalanan Inter musim ini. Dalam final Coppa Italia melawan Lazio, Ia memberi kontribusi assist untuk gol Lautaro Martinez.
Rivalitas Inter dan Milan memang hampir selalu menghadirkan cerita di luar lapangan. Derby della Madonnina bukan hanya soal pertandingan, tetapi juga gengsi kota, simbol, dan ingatan panjang kedua basis suporter.
Pada 2024, Inter pernah memastikan Scudetto langsung lewat kemenangan derby atas Milan. Pada laga itu berakhir 2-1 untuk Inter dan diwarnai tensi tinggi sampai tiga kartu merah.
Konteks itu membuat aksi Thuram semakin mudah menyulut emosi pendukung Milan. Bagi fans Inter, spanduk tersebut mungkin dianggap candaan rivalitas, tetapi bagi kubu Rossoneri, isinya jelas bernada penghinaan.
Perayaan gelar di Italia memang sering menghadirkan spanduk satir dan ejekan kepada rival. Namun, otoritas sepak bola biasanya tetap memberi sanksi jika kalimat atau gambar dinilai melewati batas kepantasan.
Kini, perhatian akan tertuju kepada keputusan disiplin terhadap Thuram. Jika benar dijatuhi denda, kasus ini akan menjadi bab terbaru dalam perang simbol antara Inter dan Milan.
Meski demikian, insiden tersebut tidak menghapus makna besar musim Inter. Nerazzurri menutup kompetisi dengan dua trofi domestik dan parade besar yang memperlihatkan kuatnya hubungan klub dengan suporternya.
Bagi Thuram, momen itu memperkuat statusnya sebagai figur yang sangat menikmati rivalitas Milan. Namun, ejekan dalam parade juara juga menunjukkan bahwa satu spanduk bisa membuat pesta gelar berubah menjadi kontroversi.