Laporan terbaru ESPN.go menyebutkan bahwa tenis sudah sangat rentan dengan kasus match fixing di beberapa pertandingan.
Meski bantahan mengalir dari banyak petenis dunia terkait isu ini, sejumlah data sulit untuk bisa menyebut bahwa tenis bebas dari praktek jahat match fixing.
Laporan dari BuzzFeed dan BBC menurut ESPN.go hanya sebagaian kecil dari praktek match fixing di olahraga tenis. Meski laporan tersebut menyebut bahwa ATP sebagai organisasi tenis pria harus mampu membongkar praktek match fixing yang diduga dilakukan petenis papan atas dunia. Namun hingga saat ini hanya bantahan yang diterima publik.

Nikolay Davydenko
ESPN menyebut padahal pada 2007 silam sempat tersiar kabar bahwa petenis dunia no 10 dunia saat itu, Nikolay Davydenko dituduh melakukan praktek match fixing. Begitu juga dengan dua petenis Italia, Daniele Bracciali dan Potito Starace yang sudah dihukum tenis Itala selama 2 tahun karena praktek match fixing.
Meski kemudian di kemudian hari, tuduhan kepada Starace dibersikan dan hukuman untuk Bracciali dikurangi 1 tahun.
ESPN menduga bahwa petenis dengan peringkat 50 ke bawah sangat rentan untuk terjangkit virus match fixing. Kasus petenis asal Rep Ceko, Jiri Vesely pada 2015 bisa menjadi salah satu buktinya. Vesely diduga menerima uang sebesar 694ribu Dollar. Lalu ada kasus Daniel Gimeno Traver yang mendapat sogokan sebesar 349ribu Dollar.

Jiri Vesely
Petenis asal Inggris, Andy Murray sebelum kasus match fixing ini mencuat sempat melontarkan pernyataan kontroversial. Murray menyebut bahwa betapa munafiknya instrumen olahraga yang ia geluti tersebut.
Judi kata Murray sudah ada di lingkungan terdekat tenis sama halnya dengan sepakbola dan American Football. Pernyataan Murray sebenarnya bisa dibenarkan, pasalnya sejumlah even tenis dunia disponsori oleh perusahaan judi internasional, seperti ATP Hamburg Open yang disponsori oleh rumah judi online, Bet-A-Home.com.
Kita tunggu saja apakah kasus match fixing yang kembali berhembus di tahun ini akan jadi anti klimaks seperti kasus-kasu sebelumnya atau malah seperti kasus match fixing FIFA yang menyeret banyak pejabat tinggi sepakbola dunia. Hanya waktu yang bisa membuktikan.