Kalah Lagi dari Indonesia di All England, Pelatih China Akui Kekurangan

Selasa, 2 Juni 2020 20:37 WIB
Penulis: Shella Aisiyah Diva | Editor: Ivan Reinhard Manurung
© Shi Tang/Contributor/Getty Images
Kepala pelatih ganda campuran China, Yang Ming mengakui kekurangan anak asuhnya setelah kembali harus menelan kekalahan dari pasangan Indonesia. Copyright: © Shi Tang/Contributor/Getty Images
Kepala pelatih ganda campuran China, Yang Ming mengakui kekurangan anak asuhnya setelah kembali harus menelan kekalahan dari pasangan Indonesia.

INDOSPORT.COM - Kepala pelatih ganda campuran China, Yang Ming mengakui kekurangan anak asuhnya setelah kembali harus menelan kekalahan dari pasangan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti di Kejuaraan All England 2020.

Jika dulu pasangan China selalu menjadi momok bagi pasangan Praveen/Melati, maka di kebangkitan pasangan Indonesia tersebut hal yang terjadi justru sebaliknya.

Seperti contoh apa yang terjadi di perempatfinal All England 2020 lalu. Dimana secara dramatis wakil Indonesia meluluhlantahkan dinasti China untuk mengklaim gelar di turnamen bulutangkis tertua dunia tersebut.

Setelah kejadian di final Denmark Open 2019 lalu, hal yang sama kembali terulang di perempatfinal All England 2020, dimana Praveen/Melati melakukan tikungan tajam untuk mengalahkan pasangan Wang Yilyu/Huang Dongping.

Kekalahan anak-anak asuhnya dari wakil Indonesia membuat pelatih ganda campuran China, Yang Ming mengaku masih terdapat banyak celah yang harus segera diperbaiki untuk membuat performa anak asuhnya kembali seperti semula.

"Melalui permainan ini, kami dengan jelas mengenali kekurangan kami sendiri, membuat ringkasan yang mendalam, menemukan titik-titik umum kegagalan," katanya.

"Menyelesaikan masalah dengan lebih tepat sasaran dalam pelatihan, dan menyelesaikan setiap pelajaran dengan sikap yang lebih ngotot dalam pelatihan," ujar Yang Ming dikutip dari media Sports Sina.

Apabila pasangan Indonesia, Praveen/Melati mampu mempertahankan performa mereka, maka tidak mungkin bagi mereka untuk kembali merusak dominasi pasangan China yang sudah menguasai sektor ganda campuran sejak 2018 lalu.

Tetapi untuk saat ini, kedua pasangan ganda campuran China masih menguasai peringkat 1 dan 2 dunia dan setidaknya masih rajin menciptakan partai 'all-China's final' di beberapa turnamen bulutangkis.