3 Alasan Lee Chong Wei Pebulutangkis 'Tersial'
Lee Chong Wei dikenal sebagai pemain tunggal putra yang komplit. Tak ayal, karena miliki kemampuan yang ciamik, ia cukup disegani oleh siapa pun yang menjadi lawannya.
Atas prestasinya tersebut, Chong Wei didaulat sebagai legenda bulutangkis dunia sektor tunggal putra, bersama pebulutangkis asal Indonesia Taufik Hidayat, Peter Gade (Denmark), serta Lin Dan (Tiongkok).
Menariknya, banyak yang mencibir Chong Wei atas ketidak beruntungannya menjadi kampiun dalam ajang besar seperti Asian Games, Olimpiade, hingga Kejuaran Dunia.
Berikut ini hal-hal yang membuat Lee Chong Wei dianggap sebagai pemain 'tersial' yang pernah ada dalam sejarah bulutangkis dunia versi INDOSPORT:
1. Tak Pernah Juara Dunia
Sepanjang karir bulutangkisnya, Lee Chong Wei pernah lama menyandang status sebagai pemain rangking satu dunia. Tidak hanya itu, dirinya juga dijuluki sebagai 'raja' kejuaraan Super Series atas pencapaiannya sebagai juara di berbagai turnamen termasuk All England. Tapi sayangnya, Chong Wei tidak pernah sekalipun menjadi juara dunia sampai saat ini. Prestasi terbaiknya di kejuaraan dunia, yakni runner-up pada tahun 2011, 2013, 2014, dan terakhir pada kejuaran dunia 2015 di Jakarta.
2. Tersandung kasus Doping
Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Mungkin pepatah tersebut tepat diberikan oleh pebulutangkis berusia 32 tahun tersebut. Usai dikalahkan Chen Long, ia dinyatakan positif menggunakan obat terlarang berjenis dexamethasone, saat pemeriksaan kejuaraan dunia di Kopenhagen, Denmark, Agustus 2014 lalu. Lee Chong Wei dihukum selama 8 bulan dan nyaris bertambah hingga 2 tahun. Namun, setelah melakukan tindakan lebih lanjut, ia diputuskan tidak bersalah dan dapat kembali ke lapangan pada Mei 2015 kemarin.
3. Datang di Saat yang Tidak Tepat
Lee Chong Wei muncul pertama kali melakoni debutnya sebagai pebulutangkis profesional pada tahun 2000 silam. Dimana saat itu, masih terdapat nama-nama beken seperti, Hendrawan, Ji Xinpeng, hingga si anak ajaib Taufik Hidayat.Tak mudah bagi Chong Wei masuk di dalam lingkaran nama-nama beken tersebut. 3 tahun setelah masuk dalam karir profesionalnya, Dia baru dapat menjadi juara di Malaysia Open dengan mengalahkan Lin Dan.
Setelah itu, sejak tahun 2004 hingga tahun 2006, Chong Wei belum bisa melambungkan namanya karena masih berada di bawah bayang-bayang nama besar dari Taufik Hidayat. Selama 2 tahun itu, dirinya selalu terhenti apabila bertemu pebulutangkis andalan Indonesia tersebut.
Masa keemasan Taufik mulai meredup di awal tahun 2008, saat itu juga Chong Wei mulai menunjukan tajinya, ia menjelma sebagai kekuatan baru di tunggal putra dunia. Namun sayang, disaat yang bersamaan, tunggal putra asal Tiongkok, Lin Dan juga muncul sebagai kekuatan yang tak kalah hebat dengannya.
Chong Wei selalu kesulitan jika bertemu dengan Lin Dan. Puncaknya Chong Wei selalu takluk dari Lin Dan dalam final Olimpiade (2008 dan 2012) dan final Asian Games (2010 dan 2014). Olimpiade 2016 mendatang di Rio de Janeiro, Brasil disebut Chong Wei sebagai Olimpiade terakhirnya. Ia pun bertekat untuk menjuarai ajang bergengsi tersebut sebelum memutuskan pensiun.
Namun nahas, selain usianya yang akan menyentuh 33 Tahun, Chong Wei diyakini akan melewati pertandingan yang tidak mudah. Terutama saat menghadapi tunggal-tunggal yang sedang bersinar, seperti Jan O Jorgensen (Denmark), Kento Momota (Jepang), Chen Long (Tiongkok), maupun Lin Dan yang berhasrat mencetak gelar hattrick.