x

Gading Safitri, Penyelamat Karier Sony Dwi Kuncoro

Rabu, 20 April 2016 11:21 WIB
Kontributor: Fajar Kristanto | Editor: Joko Sedayu

Bagaimana tidak, Sony menjadi juara di Singapura Open 2016 berkat dorongan, arahan, dan nasihat dari sang istri, Gading Safitri. Hasil itu dipercaya bisa jadi titik balik Sony untuk kembali berprestasi di pentas tepok bulu.

Lalu, bagaimana cara Gading Safitri membangkitkan motivasi sang suami yang sempat terpuruk pasca terpental dari Pelatnas Cipayung pada pertengahan 2014 silam?
 
Berikut penuturannya kepada sejumlah media, termasuk INDOSPORT ketika ditemui di Terminal 2 Bandar Udara Juanda, Sidoarjo, Selasa (19/04/16) siang.


1. Awal Melatih Sony

INDOSPORT: Perjalanan karier Sony sempat terpuruk, pasca dicoret dari Pelatnas Cipayung pertengahan 2014 silam. Bagaimana caranya bisa membangkitkan semangat Sony hingga bisa menjadi juara lagi?
 
Gading Safitri: Dulu pernah ada pelatihnya Sony yang bilang dia itu ibarat mutiara yang tinggal gosok sudah jadi indah. Selama di Pelatnas dulu, Sony masuk peringkat 18 dunia. Tapi begitu dikeluarkan, ia down dan peringkatnya melorot jauh. Saya pun meminta Sony untuk menerima keadaan.
 
Saya mengajak Sony bangkit pelan-pelan untuk kembali bermain bulutangkis. Mulai dari nol lagi. Benahi feeling main Sony yang hilang sama sekali. Tidak mudah memang, karena Sony yang dari pemain kaliber dunia malah harus mengikuti level Sirnas. Pernah kalah dengan pemain klub.
 
INDOSPORT: Dengan pernah kalah melawan atlet di level Sirnas, apa tidak membuat Sony malah makin terpuruk?
 
Gading Safitri: Saya coba bangkitkan semangatnya. Saya katakan padanya pasti bisa melewati semua ini. Tidak apa-apa kalah, nanti berikutnya bisa menang. Itu yang selalu saya tekankan pada Sony selama ini.


2. Program Latihan Sony

INDOSPORT: Sony setelah dikeluarkan dari Pelatnas, kabarnya tidak bersentuhan dengan bulutangkis cukup lama. Apa kekurangan Sony saat itu agar bisa kembali tampil dari satu turnamen ke turnamen lainnya?
 
Gading Safitri: Waktu pertama latihan tentu kondisi Sony tidak fit 100 persen. Karena itu, saya maintenance seluruh fisiknya. Rutin dan disiplin latihan. Kemudian saya coba ubah pola permainannya.

Kalau sekarang kan cepat-cepat, sementara fisik Sony sudah tidak mampu mengimbangi. Saya ingin Sony bisa main dengan nyaman. Bertemu siapa pun lawannya, Sony mampu mengeluarkan kemampuannya dengan maksimal.


3. Minim Pengalaman di Bulutangkis

INDOSPORT: Kalau soal program latihan yang dijalani Sony bagaimana? Apalagi selama ini, mbak Gading diketahui minim pengalaman di bulutangkis.
 
Gading Safitri: Benar, saya minim pengetahuan di bulutangkis. Saya hanya menekuni menjadi pemain selama SMA saja. Waktu itu memperkuat PB Dasa Digdaya Surabaya.

Sekarang PB itu untuk pembinaan pebulutangkis muda. Tapi, mulai Sony masuk Pelatnas saya selalu ikut. Melihat dia dilatih oleh pelatih-pelatih top.
 
Untuk mengatasi persoalan pengalaman, saya sering bertukar pikiran dengan Sony. Misalnya soal asupan gizi, materi latihan yang akan intens dijalankan per harinya. Kami padukan materi saya dengan Sony. Yang penting jangan sampai Sony merasa tertekan.
 
INDOSPORT: Selama latihan di bawah pengawasan langsung sang istri, bagaimana sikap Sony? Apakah malah malas-malasan atau easy going?
 
Gading Safitri: Sony itu butuh satu orang yang bisa damping. Mengerti apa kemauannya. Dan meski saya sebagai istri yang mengawasi latihannya, dia tetap disiplin ndak malas kok. Serius malah. Sony ndak pernah bilang tidak bisa. Ia selalu menekankan bisa melakukannya.


4. Target

INDOSPORT: Target berikutnya apa? Tentu tidak berhenti sebagai juara Singapura Open kan? Apalagi, Sony gagal meraih poin aman untuk dapat main pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil.
 
Gading Safitri: Memang sedih karena Sony tidak bisa tampil di Olimpiade lagi. Saya tidak ingin Sony muluk-muluk jadi peringkat satu dunia. Saya pengennya dia bisa main di Super Series dan turnamen-turnamen lainnya.
 
INDOSPORT: Perbaikan apa yang perlu dibenahi pada diri Sony? Yang terdekat ada Wali Kota Surabaya International Series 2016 dan Indonesia Open 2016, Mei mendatang.
 
Gading Safitri: Saya ingin Sony bisa bermain lebih tenang lagi. Jangan sering-sering main hingga rubber set. Kalau saya lihat, Sony itu selalu berusaha 10 kali lipat untuk menjadi juara. Setelah cedera punggung, Sony kini bisa lebih menjaga dirinya.


5. Melatih Pebulutangkis Lain

INDOSPORT: Dengan pengalaman mengantarkan Sony menjadi juara, apakah ada keinginan untuk menjadi pelatih bagi pebulutangkis lain?
 
Gading Safitri: Jadi begini, Sony kan lagi membangun GOR bulutangkis di Jalan Medokan Asri Tengah, Surabaya, yang merupakan impiannya sejak usia belia. Kebetulan saya juga suka dunia ini, jadi mungkin akan bantu-bantu Sony. Kami ingin mempopulerkan bulutnagkis.
 
INDOSPORT: Apakah ada keinginan untuk membawa buah hatinya menjadi pebulutangkis seperti ayahnya?
 
Gading Safitri: Tentu, saya sudah mulai mengenalkan bulutangkis kepada mereka. Iya, pasti. Anak saya mau diarahkan ke bulutangkis. Karena mulai dari kandungan, lahir sampai sekarang mereka hidup dari bulutangkis. Tapi, untuk menjadi juara itu tergantung dari usaha dan izin Yang Kuasa.

Sony Dwi KuncoroWawancara KhususGading Safitri

Berita Terkini