Momen Emas 1996, Saat Terakhir Indonesia Kawinkan Piala Thomas dan Uber
Sebagaimana diketahui, bulutangkis merupakan salah satu olahraga favorit masyarkat Indonesia selain sepakbola dan basket.
Itu terbukti, setiap kali Indonesia menjadi tuan rumah, Stadion Istora Senayan suasana selalu ramai dan penuh sesak penonton.
Indonesia pernah merajai turnamen dunia bulutangkis baik dari perorangan atau beregu di era 1990an. Bahkan, pasukan Merah Putih pernah mengawinkan gelar juara Piala Thomas dan Uber 1996.
Pada era tersebut, Indonesia yang diperkuat oleh pemain kelas dunia seperti tunggal putra Joko Suprianto, Alan Budikusuma, serta ganda putra Ricky Subagja/Rexy Maniaky berhasil mendominasi di Piala Thomas musim 1996.
Sementara itu, srikandi Merah Putih juga tidak kalah tangguhnya. Diperkuat oleh dua tunggal putri kelas dunia seperti Susi Susanti dan Mia Audina, Indonesia juga berhasil bejaya di turnamen Piala Uber.
Berikut ini, ulasan INDOSPORT mengenai masa kejayaan Indonesia yang kala itu berhasil mengawinkan gelar juara Piala Thomas dan Uber 1996.
1. Dominasi Nyata Tim Thomas
Pada saat itu, Indonesia yang tergabung di Grup A bersama Inggris, Swedia dan tim tangguh China menjadi tim yang paling sulit dikalahkan.
Bayangkan, Indonesia berhasil mengalahkan lawan-lawannya tersebut untuk merebut juara grup A dan melaju mulus ke babak semifinal.
Pada babak semifinal, Indonesia berhadapan dengan lawan yang tidak kalah tangguh Korea Selatan. Meski demikian, Merah Putih masih terlalu tangguh untuk Korsel.
Hasilnya, Alan Budikusuma dkk berhasil menang dengan skor telak 4-1 sehingga memastikan tiket ke partai pamungkas, dan kembali berhadapan dengan Denmark.
Pada saat itu, Indonesia berhasil menumbangkan tim kejutan Denmark dengan skor telak 5-0, setelah Alan menumbangkan Peter Rasmussen.
Hasil pertandingan final Piala Thomas 1996:
Joko Suprianto 2-0 Poul-Erik Hoyer-Larsen (18-14, 15-8)
Ricky Subagja/Rexy Mainaky 2-0 Jon Holst-Christensen/Jim Laugesen (15-5, 15-7)
Hariyanto Arbi 2-0 Thomas Stuer-Lauridsen (15-8, 15-8)
Rudy Gunawan/Bambang Suprianto 2-1 Henrik Svarrer/Michael Soggard (15-7, 14-18, 15-9)
Alan Budi Kusuma 2-0 Peter Rasmussen (15-9, 15-6)
2. Kejutan Tim Uber Indonesia
Pada Piala Uber 1996, tim Uber Indonesia memang sama sekali tidak diunggulkan untuk berjaya di turnamen ini.
Terbukti, baik media lokal atau media luar lebih mengunggulkan China untuk meraih gelar juara di turnamen beregu tersebut.
Memang prediksi tersebut tidaklah salah. Sebab, jika dibandingkan peringkat dan kualitas pemain, Indonesia jelas kalah jauh ketimbang China.
Namun, semangat juang dan kebersamaan tim menjadi modal yang bisa mengalahkan predikat peringkat dunia. Keberadaan Susi Susanti mampu meningkatkan moril tim.
Saat itu, Indonesia tergabung di Grup A bersama China dan Jepang. Pada pertandingan penyisihan grup, Susi dkk berhasil mengalahkan Jepang.
Sayang, pada penentuan gelar juara, Indonesia yang saat itu sengaja menyimpan Susi dibantai China dengan skor telak 5-0. Merah Putih pun bertemu dengan Korsel yang lebih diunggulkan.
Meski hanya menjadi underdog, srikandi Indonesia secara mengejutkan mampu membantai negeri Ginseng tersebut dengan skor telak 4-1 dan kembali menantang China di partai puncak.
Semangat juang Susi berhasil menular ke rekan setimnya ketika berhadapan dengan China. Akhirnya, Indonesia berhasil menjadi juara.
Ganda putri Lili Tampi/Finarsih, menjadi penentu kemenangan Merah Putih setelah menumbangkan Qin Yiyuan/Tang Yongsu.
Hasil pertandingan final Piala Uber 1996:
Susi Susanti 2-1 Ye Zhaoying (4-11, 11-5, 11-5)
Eliza/Zelin Resiana 1-2 Ge Fei/Gu Jun (15-7, 8-15, 12-15)
Mia Audina 2-0 Wang Chen (11-4, 11-6)
Lili Tampi/Finarsih 2-0 Qin Yi Yuan/Tang Yong Shu (15-9, 15-10)
Meiluawati 2-0 Zhang Ning (11-6, 11-2)
3. Kemana Sekarang Pahlawan Indonesia?
Setelah berhasil mengharumkan nama Indonesia di era 1996an, tentu para pencinta bulutangkis Indonesia bertanya-tanya kemanakah para pahlawan Indonesia itu saat ini?
Ya, usai mampu membantu mengibarkan Merah Putih di Piala Thomas 1996, Joko Suprianto memiliki kesibukan lain. Saat ini, Joko membuka pusat pendidikan dan pelatihan (pusdiklat) bulutangkis yang terletak di Bogor.
Hingga saat ini, Ricky/Rexy masih mengabdi dan turut andil membangun bulutangkis Indonesia. Saat ini, keduanya masuk dalam jajaran pengurus Persatuan Bulutangkis Indonesia (PBSI) dengan jabatan yang berbeda.
Kesibukan berbeda dialami Hariyanto Arbi. Saat ini, pria yang mendapatkan julukan Smash 100 Watt itu sedang sibuk di dunia bisnis peralatan olahraga.
Sementara itu untuk pasangan ganda putra Rudy Gunawan/Bambang Suprianto memiliki kesibukan yang berbeda.
Terakhir, Rudy Gunawan dikabarkan sudah tinggal di Amerika Serikat (AS) dan menjadi pastor di sana. Sedangkan Bambang Suprianto, terakhir pernah bertugas di PBSI sebagai pelatih tunggal putri. Alan Budikusuma bersama sang istri Susi Susanti, sedang sibuk bergelut di dunia bisnis olahraga.
Setelah tidak lagi menjadi atlet, Zelin Resiana sibuk menjadi ibu rumah tangga. Resiana merupakan istri dari Joko Suprianto.
Mia Audina saat ini sudah pindah warga Negara setelah menikah di usia 20 tahun. Mia memutuskan untuk mengikuti suaminya Tylio Lobman.
Meiluawati merupakan salah satu pemain andalan Indonesia di Uber 1996. Namun, empat tahun kemudian dia memutuskan untuk pindah memperkuat Amerika Serikat (AS).