x

5 Dosa Besar PBSI yang Bikin BL Gaduh: Database Kosong hingga Kontrak 'Ajaib' Pelatih

Kamis, 2 Maret 2023 08:00 WIB
Penulis: Martini | Editor: Prio Hari Kristanto
Setidaknya ada lima dosa besar PBSI yang membuat penggemar bulutangkis gaduh belakangan ini, setelah Flandy Limpele memutuskan hengkang.

INDOSPORT.COM - Setidaknya ada lima dosa besar PBSI yang membuat penggemar bulutangkis gaduh belakangan ini, setelah Flandy Limpele memutuskan hengkang.

Sektor bulutangkis rutin memberikan prestasi untuk Indonesia, dan menggelar Pelatihan Nasional (Pelatnas) dalam satu tahun penuh, yang dikelola oleh PBSI.

Namun belakangan, kebijakan-kebijakan PBSI seolah bertentangan dengan harapan masyarakat. Imbasnya, beberapa pelatih kenamaan memutuskan untuk keluar.

Belum lagi bicara soal atlet bulutangkis dan regenerasi, PBSI masih memiliki banyak PR.

Berikut INDOSPORT merangkum lima "dosa besar" PBSI yang membuat Badminton Lovers (BL) menjadi gaduh.

1. Membatasi Pemain Pro Ikut Turnamen

Saking banyaknya pebulu tangkis Indonesia, tidak hanya pemain Pelatnas yang ingin ikut turnamen level BWF World Tour, tetapi juga pemain profesional di berbagai klub.

Baca Juga

Namun, PBSI seolah membatasi pemain pro yang ingin ikut turnamen. Para atlet harus memiliki ranking tertentu jika ingin ikut turnamen level tertentu.

Hal ini kerap mendapat kritik oleh pemain pro maupun klub yang menaunginya. Salah satu yang aktif menyuarakan keresahan ini adalah pasangan ganda putra, Sabar/Reza.

Baca Juga

2. Database Atlet Kosong

Beberapa waktu terakhir, website resmi PBSI seolah terbengkalai. Salah satu hal yang diprotes BL adalah database atlet yang akhirnya kosong dan tidak update.

Padahal, website PBSI mestinya menjadi rujukan utama untuk mendapatkan data perihal atlet bulutangkis, dan tidak hanya pemain Pelatnas, tetapi juga dari level klub.

Website PBSI yang mati suri juga membuat ranking nasional atlet menjadi tidak update. Hal ini sangat disayangkan, karena BL jadi tidak bisa memantau pemain potensial.

Baca Juga

1. 3. Tidak Ada Kontrak Pelatih?

Flandy Limpele dan Nova Widianto, dua pelatih ganda campuran yang memutuskan keluar dari Pelatnas PBSI. Foto: Choi Won-Suk/AFP/Getty Images/HUMAS PP PBSI

Fakta yang baru terkuak setelah Flandy Limpele memutuskan mundur dari posisinya sebagai pelatih ganda campuran, lantaran tidak adanya kontrak yang jelas di PBSI.

"Hongkong memberi saya tawaran lebih tinggi dari PBSI. Itu termasuk kontrak dan kemajuan karir," kata Flandy dikutip dari akun Twitter @BadmintonTalk, Selasa (28/02/23) yang mengumpulkan sederet pernyataan yang tersebar di media.

Kabid Binpres PP PBSI, Rionny Mainaky menyebutkan jika semua pelatih memang tak memiliki kontrak tertulis, termasuk sosok yang sudah lama mengabdi, misalnya Herry IP.

Dalam pernyataan tersebut, Rionny Mainaky mengatakan bahwa selain dirinya ada juga Richard Mainaky dan Herry IP juga tak terikat kontrak namun masih bertahan di PBSI.

"Herry IP, kepala pelatih ganda putra dikabarkan tidak terikat kontrak kerja dengan PBSI” cuit @BadmintonTalk.

"Mereka menawarkan saya kontrak dua tahun dan posisi untuk memimpin seluruh departemen ganda. Ini adalah tantangan bagi saya dan saya ingin terus belajar." 

Hal ini membuat BL geram, karena di masa profesionalisme seperti ini, kontrak tertulis adalah hal yang paling penting untuk mengetahui tugas dan tanggung jawab, KPI, hingga besaran pendapatan yang diterima.

Ketua Harian PP PBSI Alex Tirta, mengaku menghormati keputusan Flandy Limpele ke Hongkong. Namun, ia menyatakan banyak hal yang perlu diluruskan kepada masyarakat.

Menurutnya, sejak awal Flandy Limpele disiapkan untuk menukangi ganda campuran pratama atau kelompok usia muda, dan bukan tim utama.

"Sesuai komitmen awal saat coach Flandy datang bergabung ke Pelatnas Cipayung pada awal tahun 2022, dia memang bersedia diberi tanggung jawab sebagai pelatih pelatnas pratama," tegas Alex Tirta. 

"Bahkan dari awal, tidak pernah ada pembicaraan atau janji PBSI akan menarik dia sebagai kepala pelatih pelatnas utama."

"Dia mungkin lupa, coach Flandy sendiri juga sudah berkomitmen dan bersedia untuk melatih pemain-pemain muda di pelatnas pratama," tambah Alex Tirta. 

4. Regenerasi Tertutup

Di saat banyak orang yang antusias untuk menjadi atlet bulutangkis nasional, PBSI justru hanya membuka satu kali Sirkuit Nasional (Sirnas) Dewasa dalam setahun.

Baca Juga

Hal ini membuat BL ikut kecewa, padahal mereka juga ingin melihat seperti apa para calon penerus Jonatan Christie, Marcus Gideon/Kevin Sanjaya, Gregoria Mariska, dll.

Hal yang lebih mengecewakan, turnamen nasional jarang mendapat wadah publikasi, seperti live streaming atau live score yang bisa diakses oleh banyak kalangan.

Baca Juga

5. Event Beregu Nasional Kurang Jadi Perhatian

Baru-baru ini, pasangan ganda putra non Pelatnas, yakni Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan mengikuti Liga Bulutangkis China (CBSL), sebuah turnamen beregu di China.

Meski bermain jauh di negeri seberang, tapi antusiasme BL sangat tinggi. Mereka juga berharap ajang serupa bisa digelar di Indonesia, sebuah turnamen beregu yang diikuti oleh klub-klub bulutangkis Tanah Air.

Meski cukup rutin digelar, tetapi perhatian yang diberikan tidak terlalu besar. Padahal pada masa silam sering pebulu tangkis top dunia kerap berpartisipasi dan bahkan sampai disiarkan di televisi nasional.

Baca Juga
PBSISirnas BulutangkisPelatihFlandy LimpeleTRIVIABulutangkisBerita Bulutangkis

Berita Terkini