3 Klub Besar Eropa yang Dicap Zionis
Ajax telah lama dicap sebagai klub sepakbola Yahudi Belanda, pihak klub enggan mengakuinya. Bahkan sejarahpun menunjukkan sedikit sekali latar belakang Yahudi dalam Ajax.
Menurut Uri Coronel, Ketua Harian Ajax (pemeluk Yahudi), Ajax sama sekali bukan klub Yahudi; “Ajax adalah klub dengan sedikit sekali pemain dan suporter pemeluk agama Yahudi.
Bahkan Jurnalis olahraga Simon Kuper sempat melakukan investigas terkait hal ini untuk penulisan bukunya ´Ajax, Yahudi, Belanda´ (Ajax, De Joden, Nederland) dan tidak menemukan hubungan apapun.
“Sepanjang sejarah, Ajax tidak pernah menjadi klub Yahudi. Sebelum PD-II, klub asal Amsterdam ini merupakan milik kelas menengah, miliknya para administrator dan orang-orang yang memiliki perusahaan sendiri. Kebanyakan orang Yahudi terlalu miskin untuk menjadi anggota Ajax,” ungkapnya.
Pada Perang Dunia II, sekitar 75 persen populasi kaum Yahudi di Amsterdam dibasmi oleh Nazi. Setelah perang usai hanya beberapa orang Yahudi yang terlihat di tribun Ajax.
Di awal tahun 70, bangkitlah zaman keemasan Ajax di bawah pimpinan Jaap van Praag. Kuper: “Saya memiliki kesan bahwa orang-orang Yahudi yang tersisa saling bertemu kembali di Ajax.
Presiden Ajax saat itu adalah Yahudi, tukang pijat klub, sejumlah investor dan beberapa pemain kunci merupakan setengah Yahudi.”
Menurut presiden Ajax, Coronel, lingkungan Ajax yang bernuansa Yahudi di tahun 70-an janganlah diinterpretasi berlebihan. “Lah, memang kebanyakan orang Yahudi tinggal di Amsterdam, ya tentu saja mereka bukan fansnya Feyenoord (klub asal Rotterdam, red). Simpel aja; orang Yahudi Amsterdam yang suka sepakbola ya pasti mendukung Ajax.”
Awal tahun 1980, para hooligan-lah (saat itu fenomena baru) yang bertanggung jawab membentuk citra Ajax sebagai klub Yahudi. Berkat kegemaran mereka meneriakkan yel-yel lantang.