Legenda Olahraga

Oliver Kahn (PART I): Cita-cita, Mimpi, dan Tangisan Pilu

Kamis, 16 Juni 2016 16:00 WIB
Editor: Tengku Sufiyanto
 Copyright:
Warisi Darah Sang Ayah Sebagai Pesepakbola

Oliver Kahn lahir dalam keluarga sederhana di sebuah kota kecil, Karlsruhe, Jerman Barat. Ia tumbuh menjadi kepribadian yang ramah dan disipilin.

Darah sepakbola mengalir di dalam dirinya. Maklum, sang ayah yang bernama Rolf merupakan pesepakbola profesional sebuah klub amatir bernama Karlsruher SC.

Ayah Kahn tidak dapat melanjutkan karier sepakbola profesionalnya. Pasalnya, sang ayah hanya bermain mulai dari tahun 1962-1965.

Untuk itu, sang ayah mewarisi kemampuannya bermain sepakbola kepada Kahn. Ia akhirnya resmi didaftarkan ke sekolah sepakbola yang pernah dibela ayahnya pada tahun 1975.

Kahn memulai langkahnya menjadi pesepkbola profesional di Karlsruher SC. Ia pertama kali menghuni posisi sebagai pemain bertahan atau bek tengah.

Ia dikenal sebagai bek tangguh yang pantang menyerah. Acap kali kemampuannya mampu menghalau serangan lawan.

Perlahan tapi pasti bakatnya sebagai pesepkbola profesional mulai terasah. Sayang di saat kemampuannya berkembang sebagai bek tengah, ia harus berpindah posisi.

Kahn memulai posisi barunya sebagai kiper. Ia menunjukan kegigihannya untuk meneruskan cita-cita sang ayah.

Tantangan demi tantangan dilewatinya tanpa ada sedikit pun rasa lelah dan mengeluh. Ia akhirnya tumbuh sebagai kiper yang sangat handal.

Memasuki usia 18 tahun, Kahn memulai kiprahnya sebagai pesepakbola profesional. Ia membela Karlsruher SC yang berlaga di divisi satu Bundesliga pada musim 1987-1988.

Meski begitu, Kahn memulai kiprahnya dari bawah. Ia terlebih dahulu menjadi kiper cadangan di belakang Alexander Famulla.

Tekad dan perjuangannya tetap menjadi tonggaknya meneruskan cita-cita sang ayah. Keringat yang mengucur deras, serta kerja keras tanpa pantang menyerah terus menjadi teman setianya.

Akhirnya kegigihannya tersebut dapat membuahkan hasil. Ia memulai debutnya dengan manis, dengan membawa timnya mengalahkan FC Koln dengan skor 4-0 pada tanggal 27 November 1987.

Debutnya tersebut membuah berkah tersendiri bagi Kahn. Ia akhirnya ditunjuk oleh sang manajer, Winfried Schafer sebagai kiper utama tim pada tahun 1990.

Kahn membuktikan kepercayaan sang manajer. Ia membuktikan diri sebagai calon kiper terbaik masa depan Jerman.

Kahn berhasil mengantarkan Karlsruher SC untuk pertama kalinya mencapai semifinal Piala UEFA musim 1993-1994. Sayang, langkah Kahn bersama Karlsruher SC harus terhenti usai dikalahkan SV Austria Salzburg.

Kemampuannya bersama Karlsruher SC membuat sejumlah klub papan atas Bundesliga dan Eropa menginginkannya. Kahn akhirnya mampu meneruskan cita-cita sang ayah untuk menjadi pemain sepakbola profesional. Bahkan, ia bisa melebihi apa yang di cita-citakan sang ayah.

Hal itu terwujud ketika klub raksasa Bundesliga, Bayern Munchen membelinya pada tahun 1994. Kahn ditransfer dari Karlsruher SC dengan mahar sebesar 2,385 juta euro atau sekitar Rp35 miliar. Itu merupakan transfer termahal Bundesliga pada eranya.