Saat ini di Indonesia tengah muncul pemberitaan terkait Tristan Alif yang dikontrak oleh klub asal Spanyol, Leganes.
Namun, kabar tersebut ternyata sudah dibantah oleh jurnalis asal Spanyol, Javier Martin. Ia memberitakan di media yang bernama AS, bahwa Leganes tak pernah mengontrak Alif.
Pemain muda asal Indoensia itu hanya mengunjungi Butarque, markas Leganes. AS mengindikasikan bahwa klub tersebut tidak berminat mengontrak Alif, terutamanya setelah terbentur peraturan FIFA mengenai transfer pemain di bawah umur yang ditentukan.
Alasan Martin pun tentu sangat masuk akal. Sebab, FIFA memang sudah mengatur dengan baik aktivitas transfer anak di bawah usia 18. Hal itu pun bukan perkara remeh. Dan Alif memang bukan pemain Leganes lantaran tidak memenuhi syarat transfer anak di bawah umur yang sudah ditentukan.
Jika mengacu pada regulasi FIFA terkait status dan transfer pemain, aktivitas transfer internasional bisa terjadi jika pemain sudah berusia 18 tahun atau lebih. Namun, hal itu boleh terjadi di bawah usia 18 tahun jika mengacu pada artikel 19 butir ke-2.
Pada poin A, FIFA menjelaskan bahwa, transfer internasional bisa dilakukan jika orang tua pindah ke negara tempat klub yang dituju dengan alasan yang tidak terkait sepakbola, contoh; punya pekerjaan di perusahaan setempat.
Pada poin B, FIFA memperbolehkan transfer internasional berjalan jika masih dalam wilayah Uni Eropa (EU) atau wilayah Ekonomi Eropa (EEA) dan pemain berusia antara 16 dan 18.
Dari poin B itu pun klub harus menjalani kewajiban tambahan yang diberlakukan FIFA, seperti klub diharuskan memberi pendidikan sepakbola yang memadai dan pelatihan sesuai dengan standar tertinggi.

Selanjutnya, klub wajib menjamin pemain untuk mendapatkan pendidikan akademisi atau sekolah dan pendidikan kejuruan selain sepakbola. Hal itu agar memungkinkan pemain mengejar karier selain sepakbola jika sudah tak aktif sebagai pemain profesional.
Klub juga akan membuat aturan yang diperlukan untuk memastikan bahwa pemain mendapatkan yang terbaik, seperti standar hidup yang optimal bersama keluarga atau mendapat tempat tinggal di klub, serta mentor di klub.
Langkah terakhir pun pemain harus mendapat registrasi dari asosiasi terkait dengan bukti bahwa sang pemain memenuhi kewajibannya.
Aturan itu terbilang sangat ketat, bahkan klub bisa dijatuhkan hukuman jika pemain di bawah umur tidak mendapatkan haknya terkait transfer. Bahkan, artikel 19 butir ke-4 mengatakan bahwa asosiasi negara juga bisa dijatuhi sanksi jika lalai terkait transfer internasional.
Lantas apa tujuan FIFA membuat aturan yang sangat rumit tersebut hingga menyulitkan Alif untuk direkrut klub luar negeri? Berikut penjelasan mendalam dari INDOSPORT.