Suporter Berdaya

Terobosan Baru Panpel Persela: Dari Smart Card hingga Say No To Calo

Rabu, 10 Mei 2017 08:59 WIB
Penulis: Muhammad Adiyaksa | Editor: Rizky Pratama Putra
© Muhammad Adiyaksa/Indosport
Langkah Persela Lamongan untuk perang melawan calo melalui sejumlah imbauan. Copyright: © Muhammad Adiyaksa/Indosport
Langkah Persela Lamongan untuk perang melawan calo melalui sejumlah imbauan.

Panitia penyelenggara (panpel) pertandingan Persela Lamongan membuat gebrakan baru pada kompetisi Gojek Traveloka Liga 1. Terobosan yang dimaksud ialah smart card untuk pendukung serta spanduk imbauan 'say no to calo'.

Di tembok luar Stadion Surajaya, Lamongan, panpel membuat spanduk dengan bertuliskan ‘Segera Miliki Persela Card Sekarang Juga’. Di sebelahnya, spanduk bertuliskan ‘Jika Melihat Calo Laporkan Kepada Petugas Kemananan. Beli Tiket di Calo = Membunuh Suporter. Sayangi Klubmu, Hentikan Calo’ terpajang untuk menghindari suporter membeli tiket pertandingan di calo.

Menurut General Coordinator (GC) panpel Persela, Firman, adanya spanduk imbauan itu untuk menampung aspirasi suporter. Khusus untuk praktik percaloan tiket, hal tersebut sudah tidak dapat diampuni oleh panpel.

“Banyak keluhan dari suporter soal calo. Antusiasme suporter Persela bagus sekali. Ketika mereka datang ke stadion pada pertandingan kandang sebelumnya, tiket sudah banyak diborong calo. Mereka memberi masukan ke panpel, intinya bagaimana menghilangkan calo dan panpel kerja sama dengan kepolisian, kalau ada calo, kita tindak, kita kasih ke polisi,” ujar Fiman ketika tengah berbincang-bincang kepada INDOSPORT di Stadion Surajaya, Lamongan

© Muhammad Adiyaksa/Indosport
Spanduk imbauan anti-calo dari panpel Persela Lamongan. Copyright: Muhammad Adiyaksa/IndosportSpanduk imbauan anti-calo dari panpel Persela Lamongan.

“Himbauan baru pertandingan kandang terakhir lawan Bali United pada pekan ketiga. Sebelumnya belum ada,” tambahnya.

Meski demikian, lanjut Firman, peringatan itu tak serta merta memberantas calo hingga akarnya. Walau masih ada, diakui Firman, keberadaan calo berkurang signifikan.

“Calo masih ada, tapi tidak sebanyak yang biasanya. Mereka bekerja secara sembunyi-sembunyi. Mereka tahu kita (panpel), tahu keamanan, tapi kita tidak tahu mereka. Masih ada tapi sudah tidak signifikan seperti yang biasanya, sembunyi-sembunyi,” ucap Firman.

Untuk mempersempit ruang gerik calo, panpel membatas jumlah tiket yang dibeli setiap penonton. Saking gesitnya, Firman bahkan mengakui tidak tahu banyak soal kerja bawah tanah calo.

“Waktu pertandingan lawan Bali United, masih dibatasi setiap 1 orang bisa beli lima tiket. Tapi ternyata evaluasi lagi. Sekarang 1 orang maksimal membeli dua tiket untuk menghindari tiket tersebut dijual lagi,” ucap Firman.

© Muhammad Adiyaksa/Indosport
Panpel Persela Lamongan tengah berupaya melakukan perang terhadap calo tiket. Copyright: Muhammad Adiyaksa/IndosportImbauan untuk memiliki smart card juga mulai disosialisasikan.

Firman menganggap keberadaan calo membuat penonton sulit untuk menonton Persela. Pasalnya, kebanyakan dari calo menjual harga tiket dengan mahal, terlebih pada setiap pertandingan big match.

“Tiket untuk tribun ekonomi itu Rp25 ribu, calo menjual kembali Rp30 ribu. Kalau big match, bisa sampai Rp35 ribu maupun dua kali lipat. Seperti lawan Arema FC, itu animonya besar,” lanjut Firman.

Sementara itu, terobosan panpel Persela lainnya, yaitu Persela Card untuk mempermudah pendukung lebih dekat dengan klub. Kegunaannya, lanjut Firman, selain mempermudah untuk membeli tiket pertandingan, juga mendapat potongan harga untuk mengoleksi merchandise Laskar Joko Tingkir.

“Persela Card mulai musim ini sudah mulai jalan. Kita ini kan tim kecil, mau bagaimanapun juga tim memaksimalkan dari pemasukan tiket penonton. Untuk memudahkan akses mereka beli tiket. Tentu ada diskon di store untuk penjualan merchandise. Sementara itu dulu,” imbuh Firman.

201