In-depth

Segera ke Bundesliga! Union Berlin, Saksi Sejarah Jerman yang Enggan Jadi Klub Kaya

Minggu, 7 April 2019 19:16 WIB
Editor: Prio Hari Kristanto
© planetfootball
Suporter klub FC Union Berlin. Copyright: © planetfootball
Suporter klub FC Union Berlin.
Sejarah Berdiri

Klub Union Berlin didirikan pada tahun 1906 dengan nama FC Olympia Oberschöneweide. Nama ini kemudian diubah menjadi SC Union Oberschöneweide. 

Setelah berdiri, klub pun seketika dapat julukan 'Metalworker Boys'. Julukan ini datang berkat warna jersey mereka yang sama dengan seragam pekerja pabrik logam setempat, yakni biru. 

Julukan ini sendiri masih bertahan hingga saat ini sebagai spirit dari kelas pekerja. Namun, dengan sedikit perubahan menjadi 'The Iron Ones'. 

Setelah Perang Dunia II, kegiatan sepak bola di Jerman dipaksa berhenti oleh sekutu, tak terkecuali FC Union. 

Selepas Perang Dunia, FC Union bangkit kembali dan merubah kostumnya menjadi merah dan putih. Dengan terpecahnya Jerman, mereka harus berkompetisi di belahan timur.

Pada 1968 mereka pun mendapat gelar pertamanya, yakni Piala Jerman Timur usai mengalahkan FC Carl Zeiss Jena 2-1. 

Sayangnya, gelar tersebut menjadi satu-satunya gelar yang diterima FC Union hingga saat ini. 

Perang Dingin dan Persaingan Berdarah dengan Dynamo Dresden

Dampak Perang Dunia harus dibayar mahal oleh Jerman. Saat Perang Dingin meletus, negara ini terpecah menjadi  dua, yakni Jerman Timur dan Jerman Barat. 

FC Union sebagai klub yang ada di wilayah Berlin Timur pun harus berkompetisi di Deutsche Demokratische Republik-Oberliga atau liga sepak bola di Jerman Timur.

Di waktu relatif bersamaan, FC Union kedatangan rival baru, yakni Dynamo Dresden. 

Dynamo Dresden yang juga bermarkas di Berlin menjadi penguasa sepak bola Jerman Timur dengan memenangai lima gelar liga antara tahun 1971-1978 serta meraih 10 gelar beruntun dari tahun 1979-1988.

Kedigdayaan Dresden tak terlepas dari keberadaan orang-orang pemerintahan hingga kepolisian rahasia Jerman Timur, Stasi.  

Sebaliknya, FC Union sebagai klub rival sekota dari Dresden tampil biasa-biasa saja. Akan tetapi, mereka sanggup menarik banyak suporter.

Rata-rata, FC Union ditonton oleh 20 ribu orang tiap bertanding. Para pendukung FC Union pun secara umum menentang otoriterisme yang ada di pemerintahan Jerman Timur. 

Tentu saja hal ini membangkitkan rasa kebencian antara suporter FC Union dan Dynamo Dresden. Di sinilah rivalitas di dalam dan luar lapangan terbangun. 

Dynamo Dresden jelas mendukung pemerintah dan liga yang korup, sementara FC Union tampil sebagai oposisi. 

Hasilnya bisa ditebak, serangkaian konflik berdarah pun terjadi. Sejumlah konflik brutal antarsuporter berulangkali meletus di Berlin. 

472