In-depth

Menakar Dampak Paling Mengerikan Virus Corona di Liga 1 2020: Klub Bangkrut?

Kamis, 26 Maret 2020 17:51 WIB
Penulis: Petrus Tomy Wijanarko | Editor: Ivan Reinhard Manurung
© Amanda Dwi Ayustri/INDOSPORT
Virus corona berpotensi memberikan dampak yang begitu panjang bagi kelangsungan klub-klub Liga 1 2020. Copyright: © Amanda Dwi Ayustri/INDOSPORT
Virus corona berpotensi memberikan dampak yang begitu panjang bagi kelangsungan klub-klub Liga 1 2020.

INDOSPORT. COM - Virus corona berpotensi memberikan dampak yang begitu panjang bagi kelangsungan klub-klub Liga 1 2020.

Seluruh elemen kehidupan pasti terganggu dengan pandemi virus corona. Hampir semua orang harus bekerja dari rumah, melakukan isolasi, menjaga diri menghindari kerumunan, dan segala aktivitas tak bisa berlangsung normal seperti biasanya.

Pentas sepak bola Indonesia jelas turut merasakan dampak pandemi virus corona. Para aktor lapangan hijau bukan robot, mereka juga manusia biasa yang tidak kebal akan virus corona.

Alhasil, pasca Liga 1 2020 memainkan laga pekan ke-3, PSSI terpaksa menunda kompetisi. PSSI ingin menjaga kesehatan seluruh stakeholder sepak bola, agar terhindar dari virus corona yang mulai mewabah di Indonesia.

Penundaan awalnya diberlakukan PSSI sampai awal April saja. Seiring berjalannya waktu, PSSI menyampaikan kebijakan baru, bahwa roda kompetisi sepak bola Indonesia bakal ditunda hingga batas waktu yang belum ditentukan.

PSSI pasti telah mempertimbangkan segalanya, sampai berani mengeluarkan kebijakan tadi. Toh, sekarang sudah mendekati awal April, dan pandemi virus corona di Indonesia tampak belum mereda.

Namun harus diakui, penundaan kompetisi pasti bakal memberikan dampak kepada klub-klub Liga 1 2020. Terutama soal kekuatan finansial klub, tak ada pertandingan otomatis minim pemasukan, sementara pemain dan seluruh staff harus tetap digaji.

Neraca keuangan, mungkin setiap klub Liga 1 2020, tentu terganggu. Lihat saja contohnya yang terjadi kepada Arema FC.

Jika kompetisi tetap berlangsung, Arema FC berdasarkan estimasi INDOSPORT, dihadiri oleh 15 ribu penonton tiap menghelat laga kandang. Arema FC pun bisa meraup keuntungan dari hasil penjualan tiket penonton yang datang ke Stadion Kanjuruhan.

Melihat harga tiket tribune ekonomi sebesar Rp35 ribu, setidaknya Arema FC bakal meraup Rp525 juta dalam laga kandang. Mengingat masih ada 16 laga kandang tersisa dan sekarang kompetisi ditunda, Arema FC lantas menderita kerugian sekitar Rp8,4 miliar.

Perhitungan kerugian Arema FC bahkan bisa melebihi angka itu. Apalagi Stadion Kanjuruhan sejatinya memiliki daya tampung 40 ribu orang, laga-laga bigmatch selalu sesak, yang otomatis kerugian Singo Edan bisa lebih besar lagi nominalnya.

"Meski pun klub juga sangat dirugikan, tetapi menurut saya, penundaan pertandingan saat ini adalah keputusan yang tepat," bilang Ketua Panpel Arema FC, Abdul Haris.

Kerugian seperti Arema FC, tentu juga dialami oleh klub-klub Liga 1 2020 lainnya. Meski secara nominal kerugian berbeda, kesemua klub kini harus merelakan sumber-sumber pemasukan tim pergi begitu saja.

Permasalahannya, klub-klub Liga 1 2020 diisi oleh para pemain, pelatih, dan staff, yang tetap wajib mendapat gaji. Ketika pemasukan berkurang, setiap klub perlu menguras kasnya dalam-dalam, demi memenuhi kewajibannya membayar gaji.

Jelas, neraca keuangan tim bakal merugi. Logika sederhananya, tidak ada pemasukan, tapi yang harus keluar begitu banyak.

Persita Tangerang coba menerapkan strategi khusus agar pemenuhan kewajiban membayar gaji tetap terlaksana, tapi neraca keuangan klub tak terlalu merugi. Melalui pihak Manajer klub, I Nyoman Suryanthara, Persita Tangerang berencana akan melakukan penyesuaian gaji.

"Kalau untuk Maret ini, semua gaji pemain masih normal. Kami masih tunggu keputusan liga mengenai kompetisi ditunda atau dihentikan," katanya.

"Setelah itu kemungkinan ada penyesuaian hak-hak pemain dan ofisial," imbuh Nyoman.

Peluang untuk pemangkasan gaji pemain dan official jadi opsi terbaik agar neraca keuangan klub tetap terjaga. Namun dengan catatan apabila liga masih dilanjutkan, dalam artian vakum sementara, bukan benar-benar dihentikan.

Pemain Persebaya Surabaya, Rendi Irwan, mengerti betul tentang kemungkinan klubnya yang mungkin bakal melakukan pemotongan gaji pula. Rendi Irwan sendiri tak masalah bila itu sampai terjadi, baginya yang terpenting adalah kelangsungan klub.

"Tidak masalah. Ini demi kebaikan klub sendiri," katanya pada Rabu, (24/3/20).

"Saya berharap pemain lapangan dada dengan keputusan ini," lanjut pemain mungil itu.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana bila status penundaan kompetisi berlangsung begitu lama? Apalagi jika pandemi virus corona sulit dibasmi dan betah di Indonesia?

Mungkin PSSI harus segera mengambil tindakan tegas andai situasinya sampai begitu. Sebab jika tidak, ada potensi yang paling buruk, yakni bangkrutnya sebuah klub.

IDS Emoticon Suka
Suka
0%
IDS Emoticon Takjub
Takjub
0%
IDS Emoticon Lucu
Lucu
0%
IDS Emoticon Kaget
Kaget
0%
IDS Emoticon Aneh
Aneh
11%
IDS Emoticon Takut
Takut
0%
IDS Emoticon Sedih
Sedih
67%
IDS Emoticon Marah
Marah
22%