Liga Indonesia

PSIS Ingin Pemerintah Beri Jaminan Kesehatan ke Pemain

Minggu, 28 Juni 2020 15:07 WIB
Penulis: Alvin Syaptia Pratama | Editor: Nugrahenny Putri Untari
© Alvin Syaptia Pratama/INDOSPORT
CEO PSIS, Yoyok Sukawi, ingin pemerintah memberi jaminan kesehatan untuk para pemain sepak bola Indonesia dan juga para atlet lainnya. Copyright: © Alvin Syaptia Pratama/INDOSPORT
CEO PSIS, Yoyok Sukawi, ingin pemerintah memberi jaminan kesehatan untuk para pemain sepak bola Indonesia dan juga para atlet lainnya.

INDOSPORT.COM – Manajemen PSIS Semarang ingin pemerintah hadir untuk memberi jaminan kesehatan bagi pemain yang berlaga kembali di kompetisi Liga 1.

Menurut Yoyok Sukawi selaku CEO klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar ini, risiko menyelenggarakan pertandingan di tengah era new normal cukup tinggi sehingga masih membahayakan kesehatan pemain, pelatih, atau pun ofisial lainnya.

“Di era new normal, kami meminta Pak Menpora atau pihak pemerintah untuk memberi jaminan kesehatan bagi pemain. Bahkan tidak hanya untuk PSIS, untuk atlet cabang olahraga lainnya,” tutur Yoyok Sukawi kepada redaksi berita olahraga INDOSPORT di Semarang, Minggu (28/06/20) siang.

“Jika ada pemain yang terkena Covid-19 itu kan cukup membahayakan bagi kariernya, sehingga kami ingin ada jaminan kesehatan. Bukan untuk saya atau pihak klub, tetapi untuk pemain yang berlaga di lapangan,” imbuhnya.

Sebelumnya Yoyok Sukawi yang juga anggota Komisi X DPR RI telah mengusulkan jaminan kesehatan secara langsung kepada Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali pada rapat kerja di Gedung Nusantara, Jakarta, Rabu (24/06/20) silam.

Walaupun ketika itu Menpora telah memberi sinyal akan memberi perhatian kepada atlet, PSIS ingin adanya kepastian soal jaminan kesehatan yang diatur dalam peraturan tertentu.

Usulan dari PSIS sebenarnya cukup masuk akal karena pada bulan September atau Oktober mendatang kompetisi Liga 1 akan dilanjutkan. Dengan demikian, saat Bulan Juli mendatang tim sudah harus melakukan latihan sebagai masa persiapan.

Namun saat ini kondisi pandemi Covid-19 belum bisa teratasi dengan tuntas sehingga risiko penularan masih sangat memungkinkan di mana pun tempatnya. Apalagi di kota Semarang sendiri masih berstatus sebagai daerah zona merah di Indonesia.

IDS Emoticon Suka
Suka
0%
IDS Emoticon Takjub
Takjub
0%
IDS Emoticon Lucu
Lucu
0%
IDS Emoticon Kaget
Kaget
0%
IDS Emoticon Aneh
Aneh
0%
IDS Emoticon Takut
Takut
0%
IDS Emoticon Sedih
Sedih
0%
IDS Emoticon Marah
Marah
0%