Bola Internasional

Nyatakan Perang, Bintang Real Madrid: Kita Hanya Boneka UEFA dan FIFA

Kamis, 12 November 2020 14:41 WIB
Penulis: Ade Gusti | Editor:
© Getty Images
Toni Kroos Copyright: © Getty Images
Toni Kroos

INDOSPORT.COM – Bintang Real Madrid, Toni Kroos, menabuh gendering perang pada UEFA dan FIFA. Pasalnya dua badan sepak bola tingkat global itu dianggap terlalu memanfaatkan pemain.

Seperti diketahui, UEFA dan FIFA dalam dua tahun terakhir gencar menggelar UEFA Nations League. Ketika pertama kali kompetisi ini digelar pada 2018, ini bersamaan dengan gelaran Piala Dunia 2018.

Kemudian pada tahun 2020, ketika sepak bola sangat terdampak oleh pandemi virus corona, UEFA dan FIFA malah memadatkan jadwal kompetisi, mulai dari gelaran liga antar klub, sampai turnamen internasional seperti laga uji coba, kualifikasi Euro, dan fase grup UEFA Nations League.

Toni Kroos rupanya termasuk di antara para pemain yang geram dengan padatnya jadwal kompetisi yang dibuat dua otoritas tersebut. Sampai-sampai dia mengecam EUFA dan FIFA yang menjadi para pemain bak boneka percobaan.

“Sayangnya, pemain tidak bisa memutuskan hal ini. Pada akhirnya, ketika kompetisi baru ditetapkan, kami cuma boneka FIFA dan UEFA. Mereka cuma mengeruk uang sebanyak mungkin dan menguras fisik pemain," kata Toni Kroos dalam podcast Einfach mal Luppen, seperti dilansir AS.com.

Bukan hanya itu saja, Toni Kroos juga mengecam usulan UEFA dan FIFA yang mengubah format Liga Champions menjadi European Super League. Turnamen versi anyar ini rencananya digelar pada 2022 denngan mengikutusertakan 16-18 tim dan berlaga minimal 30 kali.

Kemudian pada gelaran Piala Dunia Antarklub rencananya juga akan diperluas. Sebanyak 24 tim akan disertakan, yang rencananya akan pertama kali digelar di China pada 2021.

“Saya lebih senang membiarkan segala sesuatunya sebagaimana adanya, jika memang sudah berjalan tepat,” lanjut Kross.

“Liga adalah produk bagus, bersama Liga Champions dan Piala Dunia," lanjutnya, menolak gagasan European Super League.

Toni Kross sendiri memiliki alasan mengapa dirinya menolak gagasan European Super League. Turnaman ini dia yakini hanya akan memperbesar kesenjangan tim kecil dan tim besar di kompetisi level atas.