In-depth

Mengerikannya Sindrom Musim Kedua Jose Mourinho di Tottenham Hotspur

Rabu, 2 Desember 2020 08:23 WIB
Editor: Coro Mountana
© Neil Hall/PA Images via Getty Images
Jose Mourinho dan striker Tottenham Hotspur, Harry Kane Copyright: © Neil Hall/PA Images via Getty Images
Jose Mourinho dan striker Tottenham Hotspur, Harry Kane
Kejeniusan Jose Mourinho

Jika kita memahami isi kepala Mourinho, jelas dia adalah salah satu pelatih terbaik di dunia. Ia adalah motivator ulung, ahli strategi, dan seorang pragmatis yang hanya memikirkan bagaimana timnya menang dan juara dengan cara apapun. 

Mundur ke belakang saat ia melatih Chelsea pertama kali, ia berhasil menanamkan mentalitas juara pada skuad The Blues yang sudah tertidur lama. Lalu ada Inter Milan yang berhasil ia sulap jadi tim pertama Italia yang treble winner. 

Di Real Madrid, Mourinho berhasil membuat Real Madrid mengimbangi superioritas Barcelona yang sedang kuat-kuatnya dengan Pep Guardiola. Mourinho saat itu sukses mengubah mentalitas pemain Real Madrid untuk tidak menunduk lagi kalau sedang lawan Barcelona. 

Terakhir, Mourinho pun jadi pelatih tersukses Manchester United setelah era Ferguson, jika kita mengacu pada parameter gelar juara. Siapa juga pelatih yang sanggup bawa Manchester United treble winner setelah Ferguson pensiun, ya hanya Mourinho. 

Kini di Tottenham, setelah sempat dicemooh karena gagal total musim lalu dan menjadi badut di Liga Champions, kini Mourinho datang untuk membungkam semua peragu. Sindrom musim kedua Mourinho pun bekerja. 

Sebagai pelatih yang mempersiapkan segala sesuatu dengan detail, Mourinho akhirnya mengetahui kekuatan Tottenham yang bisa dimaksimalkan. Jika kita bedah, ada banyak micro taktik Mourinho yang jadi kunci keberhasilan Tottenham sejauh ini. 

Mulai dari pembelian Pierre-Emile Hojbjerg yang merupakan salah satu pemilik tekel terbanyak musim lalu di Liga Inggris. Mourinho sengaja membelinya untuk dijadikan ‘pemotong rumput’ tim, sama seperti Lassana Diarra saat masih di Real Madrid. 

Lalu siapa juga pelatih yang kepikiran untuk menduetkan Son Heung-min dan Harry Kane, Mourinho memanfaatkan dua striker yang bisa saling melengkapi itu. Ketika Pochettino lebih memilih Son sebagai pelapis Kane, Mourinho justru menduetkannya. 

Hasilnya bisa dilihat bagaimana Son dan Kane saat ini jadi pemain yang berhasil duduki daftar teratas untuk top skor dan top assists. Jadi, tak hanya kuat di pertahanan layaknya tipikal tim Mourinho, tetapi juga sangat tajam seperti Chelsea periode pertamanya. 

Kesimpulan, sindrom kedua Jose Mourinho sangat mungkin dan bisa mengantarkan Tottenham Hotspur jadi calon juara Liga Inggris. Namun dengan catatan, kalau ada pemain Tottenham yang membangkang seperti di Manchester United, Mourinho pun hanya akan jadi butiran debu.