In-depth

Kisah Eks Pejudi yang Jadi Pemilik Klub Promosi Liga Inggris, Brentford

Selasa, 10 Agustus 2021 18:51 WIB
Editor: Zulfikar Pamungkas Indrawijaya
© Mike Egerton/PA Images via Getty Images
Matthew Benham, Pemilik Brentford. Copyright: © Mike Egerton/PA Images via Getty Images
Matthew Benham, Pemilik Brentford.
Kisah Gila Matthew Benham

Matthew Benham adalah fans sejati Brentford dan dikenal sebagai mantan pejudi profesional. Karena kecintaan dan kariernya tersebut, ia pun berhasil mengakuisis The Bees.

Ada cerita apik mengenai sosok Matthew Benham ini. Setelah lulus dari Universita Oxford di Fakultas Fisika pada 1989, ia lantas bekerja di bagian keuangan di Bank of America.

Setelah 12 tahun berkarier di dunia keuangan, Benham mengambil jalan kariernya di sebuah perusahaan judi olahraga bernama Premier Bet.

Di pekerjaan barunya, ia bekerja sebagai analis untuk memprediksi model perjudian. Uniknya, di pekerjaan ini ia belajar dari salah satu pejudi tersukses di dunia, Tony Bloom.

Beberapa tahun kemudian, Benham dan Tony Bloom berpisah sekaligus meninggalkan Premier Bet pada 2003. Tak diketahui apa penyebabnya. Namun dari keputusan berpisah itu, Benham beralih menjadi pejudi profesional.

Dari pengalamannya, Benham yang menjadi pejudi mampu meraih jutaan dolar dari pekerjaannya ini dan membuatnya membangun sindikat judinya bernama Smart Odds.

Setelah Smart Odds sukses, Benham juga memiliki Matchbook yang juga perusahaan judi. Dengan kekayaan ini, ia pun lantas membuat gebrakan.

Gebrakan itu adalah memberikan pinjaman pada pendukung Brentford untuk membantu keuangan klub sebesar 700 ribu dolar pada 2007.

Saat itu, tim masa kecilnya tersebut tengah dalam krisis finansial. Jadi, ia pun meminjamkan 700 ribu dolar ke suporter Brentford untuk membantu timnya dengan syarat jika suporter mengambil opsi tak membayar utang tersebut, maka The Bees akan menjadi miliknya.

Pada 2012, para pendukung Brentford pun enggan membayar utang tersebut. Hingga akhirnya, The Bees pun berpindah tangan menjadi miliki Benham.

Untuk memperlancar jalan kepemilikannya, Benham juga menghamburkan 10 juta dolar untuk menerapkan analisisnya di klub kecil Denmark, FC Midtjylland seperti yang telah dibahas INDOSPORT sebelumnya.

Benham menginvestasikan uang tersebut untuk melakukan analisisnya terhadap konsep Money Ball yang jadi patokan olahraga American Football.

Langkah pertamanya di Brentford pun unik di mana ia memecat orang-orang yang berpikiran tradisional dan membuat timnya tak peduli dengan hasil kemenangan atau kekalahan.

Langkah ini diambil Benham untuk menstabilisasikan keuangan klub. Selain itu, ia menerapkan konsep Progres ketimbang hasil singkat seperti memenangi liga dan lainnya.

Konsep Benham yang paling ampuh mungkin menggunakan Expected Goals (xG) untuk mendatangkan penyerang ketimbang mendatangkan pemain yang mampu mencetak banyak gol.

Konsep ini membuahkan hasil sederet penyerang hebat yang bisa dijual dengan harga tinggi seperti Neil Maupay (Brighton) dan Ollie Watkins (Aston Villa).

Selain itu, Benham menghapus tim akademi Brentford dan menggantinya dengan tim B yang berisi pemain berusia 17 hingga 20 tahun untuk berkompetisi di pentas profesional.

Hasil dari konsep ini yakni Benham mampu mengubah Brentford menjadi klub bernilai 300 juta dolar. Siapa sangka, hanya berasal dari pinjaman 700 ribu dolar saja ia mampu mengubah tim masa kecilnya menjadi klub bernilai triliunan rupiah.