Liga Inggris

David Raya Si Benteng Terakhir, Pemilik Golden Glove yang Jadi Kunci Arsenal Menuju Takhta

Selasa, 12 Mei 2026 19:24 WIB
Editor: Redaksi
© Reuters/Peter Cziborra
Pemain Chelsea, Cole Palmer mendapat perlawanan dari kiper Arsenal David Raya pada laga Liga Inggris. (Foto: Reuters/Peter Cziborra) Copyright: © Reuters/Peter Cziborra
Pemain Chelsea, Cole Palmer mendapat perlawanan dari kiper Arsenal David Raya pada laga Liga Inggris. (Foto: Reuters/Peter Cziborra)

INDOSPORT.COM -  Kemenangan tipis 1-0 Arsenal atas West Ham United pada Minggu (10/5) malam seharusnya menjadi panggung perayaan bagi David Raya. Namun, drama Video Assistant Referee (VAR) yang menganulir gol penyeimbang "The Hammers" justru mencuri seluruh perhatian publik, menenggelamkan catatan emas sang penjaga gawang Spanyol tersebut.

Meski perdebatan mengenai keabsahan gol Callum Wilson yang dianulir terus memanas, statistik tidak bisa berbohong: David Raya resmi mengamankan penghargaan Golden Glove Liga Inggris musim 2025/2026. Ini merupakan gelar ketiga berturut-turut bagi Raya, sebuah konsistensi yang menempatkannya sejajar dengan deretan kiper legendaris Premier League.

Sebelum insiden VAR yang kontroversial, Raya melakukan aksi heroik yang menjaga keunggulan "The Gunners". Ia memenangkan duel satu lawan satu melawan gelandang West Ham, Mateus Fernandes, yang merangsek masuk ke kotak penalti setelah melakukan kerja sama satu-dua dengan Pablo.

Raya dengan sigap membaca arah bola dan melakukan intervensi vital pada tiang dekat. Ekspresi manajer Mikel Arteta di pinggir lapangan menggambarkan segalanya; tanpa penyelamatan itu, Arsenal mungkin harus merelakan gelar juara yang sudah di depan mata.

Penghargaan Golden Glove tahun ini terasa lebih spesial. Raya saat ini telah mengantongi 18 clean sheet, melampaui catatannya di musim 2023-24 (16) dan 2024-25 (13). Jika ia mampu menjaga gawangnya tidak kebobolan dalam dua laga tersisa, ia akan menjadi kiper ketujuh dalam sejarah yang mampu mencatatkan 20 clean sheet dalam satu musim.

Kritik sering menyebut bahwa jumlah clean sheet adalah hasil kerja kolektif lini pertahanan, bukan semata kualitas kiper. Namun, rasio Raya sulit untuk diabaikan. Ia mencatatkan nirbobol di 44,3% penampilannya bersama Arsenal. Di antara kiper dengan minimal 50 laga untuk satu klub, hanya ada empat nama yang memiliki rasio lebih baik.

Kapten Arsenal, Martin Ødegaard, baru-baru ini memuji rekan setimnya tersebut. "David sangat konsisten. Ia memberikan kepercayaan diri kepada seluruh tim," ujar Ødegaard.

Keunggulan utama Raya musim ini adalah kemampuannya menjaga fokus dalam durasi yang lama, hal yang sempat menjadi titik lemah pendahulunya, Aaron Ramsdale. Raya hanya tercatat melakukan satu kesalahan yang berujung gol sepanjang musim ini, menunjukkan tingkat dependabilitas yang luar biasa meski ia jarang mendapatkan ancaman tembakan sesering kiper tim papan bawah.

Statistik mencatat Raya hanya kebobolan rata-rata 0,79 gol per pertandingan. Angka ini merupakan yang terbaik keempat dalam sejarah Premier League untuk kiper yang telah melakoni lebih dari 100 laga bersama satu klub.

Dengan gelar Golden Glove ketiga secara beruntun, Raya kini bergabung dengan kelompok elit yang terdiri dari Pepe Reina, Joe Hart, dan Ederson. Di atas mereka, hanya ada Joe Hart dan Petr Cech yang mengoleksi gelar tersebut sebanyak empat kali.

Jika Arsenal akhirnya mengakhiri puasa gelar liga selama 22 tahun musim ini, penyelamatan Raya terhadap Fernandes di Stadion London akan dikenang sebagai salah satu momen paling menentukan. Meski badai VAR mendominasi tajuk utama, performa David Raya telah membuktikan bahwa ia adalah "benteng terakhir" yang layak mendapatkan lampu sorot utama.