Liga Italia

Juventus Tumbang 0-2 dari Fiorentina, Spalletti: Kesalahan Tanggung Jawab Saya

Minggu, 17 Mei 2026 19:58 WIB
Editor: Redaksi
© Getty Images
Pelatih Inter Milan, Luciano Spalletti. Copyright: © Getty Images
Pelatih Inter Milan, Luciano Spalletti.

INDOSPORT.COM - Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, mengaku harus melakukan evaluasi besar terhadap dirinya sendiri setelah timnya kalah 0-2 dari Fiorentina. Kekalahan di Allianz Stadium itu membuat peluang Bianconeri lolos ke Liga Champions musim depan kian menipis.

Hasil buruk tersebut membuat Juventus kini tertinggal dua poin dari zona empat besar dengan hanya satu pertandingan tersisa musim ini. Situasi itu menempatkan Si Nyonya Tua dalam tekanan besar menjelang laga terakhir yang akan menentukan nasib mereka.

Spalletti terlihat kesal saat menghadiri konferensi pers usai pertandingan bersama Sky Sport pada Minggu malam (17/05) waktu setempat. Ia langsung menanggapi tajam pertanyaan pembuka yang menyebut laga itu sebagai pertandingan hidup-mati bagi Juventus.

“Kalau Anda memulai dengan cara seperti itu, maka semuanya langsung dimulai dengan buruk,” kata Spalletti kepada awak media. Ia menilai narasi bahwa segalanya sudah selesai hanya akan memperburuk suasana di dalam tim.

“Anggapan bahwa semuanya telah berakhir dan kami semua sudah mati itu salah,” lanjut pelatih asal Italia tersebut. Menurutnya, Juventus masih memiliki kesempatan meski harus mengakui hasil malam itu sangat buruk.

“Jelas ini hasil yang mengerikan karena pertandingan ini sangat penting,” ujar Spalletti. Ia tidak menampik bahwa performa timnya jauh dari ekspektasi pada laga yang seharusnya menjadi momentum kebangkitan.

Beberapa pekan lalu, Spalletti sempat mengaku belum benar-benar memahami karakter tim yang ia tangani. Namun setelah kekalahan ini, ia memilih menyoroti perkembangan yang sebenarnya sudah ditunjukkan skuadnya sepanjang musim.

“Penilaian saya tidak hanya berdasarkan pertandingan hari ini,” katanya. Menurut Spalletti, para pemain sebenarnya telah menunjukkan pertumbuhan signifikan dan meletakkan fondasi penting untuk masa depan klub.

Ia menegaskan bahwa Juventus seharusnya bermain dengan kualitas serta kepribadian tinggi saat menghadapi Fiorentina. Namun menurutnya, hal tersebut tidak terlihat sama sekali sejak menit awal pertandingan.

“Kami seharusnya bermain sepak bola dengan kualitas dan karakter kuat,” ujar Spalletti. Ia merasa timnya gagal membangun intensitas dan tidak mampu mengendalikan atmosfer pertandingan di kandang sendiri.

Alih-alih menyalahkan pemain, Spalletti justru mengarahkan kritik kepada dirinya sendiri sebagai pelatih kepala. Ia menilai tugas utama seorang pelatih adalah menyiapkan kondisi mental terbaik agar pemain bisa tampil optimal.

“Pertama-tama saya harus mempertanyakan diri saya sendiri sebelum menilai para pemain,” tegasnya. Ia merasa bertanggung jawab penuh jika performa tim tidak sesuai dengan apa yang seharusnya ditampilkan di lapangan.

“Kalau memang ini yang ditawarkan tim saya, maka saya harus mengevaluasi apa yang saya lakukan,” tambah Spalletti. Menurutnya, refleksi pribadi jauh lebih penting daripada sekadar menunjuk kesalahan individu pemain.

Ia juga tidak menutup mata bahwa performa Juventus pada laga ini sangat mengecewakan di berbagai aspek permainan. Spalletti menyebut timnya kalah dalam duel-duel penting dan gagal menghidupkan dukungan suporter di stadion.

“Penampilan kami sangat buruk dalam banyak aspek,” akunya. Ia juga menilai Juventus kurang beruntung karena langsung tertinggal meski Fiorentina tidak menciptakan banyak peluang sebelumnya.

Gol pertama Fiorentina bahkan datang dari tembakan tepat sasaran pertama mereka sepanjang pertandingan. Statistik itu menjadi catatan negatif lain bagi Juventus musim ini karena sudah 16 kali kebobolan dari tembakan pertama lawan.

“Saya harus memastikan hal seperti ini tidak terjadi lagi,” kata Spalletti. Ia menilai ketenangan mental pemain harus dibangun agar mereka bisa mengambil keputusan tepat dalam situasi sulit.

Menurutnya, para pemain membutuhkan kejernihan berpikir untuk menemukan ruang, bermain agresif, dan tetap rapi dalam distribusi bola. Faktor-faktor itulah yang menurutnya bisa mengembalikan dukungan penuh dari publik Allianz Stadium.

“Kami harus menciptakan ketenangan di kepala para pemain,” jelasnya. Spalletti percaya fondasi permainan yang rapi tetap menjadi jalan utama menuju hasil positif bagi Juventus.

Ia juga menolak membesar-besarkan ancaman kegagalan lolos ke Liga Champions sebagai persoalan hidup dan mati. Menurutnya, sepak bola tetap harus dilihat secara proporsional sebagai olahraga, bukan medan perang.

“Kami tahu kegagalan ke Liga Champions berdampak finansial bagi klub, tetapi membicarakannya seperti perang adalah hal yang salah,” katanya. Ia menegaskan identitas permainan harus tetap dijaga dalam situasi apa pun.

Spalletti sendiri baru memperpanjang kontraknya hingga 2028 pada April lalu. Meski demikian, ia menegaskan kontrak baru tidak membuatnya lepas dari kewajiban untuk terus melakukan evaluasi terhadap pekerjaannya.

“Saya sudah mengenal diri saya selama 68 tahun dan selalu berjalan dengan kaki sendiri,” ucapnya. Ia menilai introspeksi adalah langkah pertama sebelum mengambil keputusan penting untuk masa depan tim.

Ketika ditanya soal keputusan tidak memainkan Lois Openda dan Jonathan David sepanjang pertandingan, Spalletti enggan mencari alasan tambahan. Ia menegaskan hasil buruk ini sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya.

“Tidak ada gunanya membicarakan itu sekarang karena saya seharusnya melakukan pekerjaan lebih baik di laga ini,” tutup Spalletti. Ia mengakui Juventus belum berada di level yang pantas didapatkan klub sebesar mereka.