Liga Italia

7 Fakta Unik Franco Baresi: Legenda Italia dan AC Milan

Jumat, 31 Juli 2026 14:00 WIB
Editor: Redaksi
© Nigel Roddis/Getty Images
Franco Baresi mantan pemain AC Milan. Copyright: © Nigel Roddis/Getty Images
Franco Baresi mantan pemain AC Milan.

INDOSPORT.COM - Sepak bola Italia kehilangan salah satu simbol pertahanan terbaiknya setelah Franco Baresi meninggal dunia pada Jumat, 31 Juli 2026, dalam usia 66 tahun. Kabar duka itu diumumkan langsung oleh AC Milan melalui penghormatan resmi bertajuk “Franco Baresi Forever”.

Kepergian Franco Baresi terasa sangat dalam karena hampir seluruh perjalanan profesionalnya menyatu dengan AC Milan. Klub menggambarkannya sebagai sosok yang mewakili hati, jiwa, integritas, dan identitas Rossoneri selama puluhan tahun.

Sebelum wafat, kondisi kesehatan sang legenda memang mendapat perhatian setelah ia menjalani operasi pengangkatan nodul paru-paru pada 2025. Penampilan publik besarnya yang terakhir terjadi ketika pembukaan Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina pada Februari 2026.

Warisan Franco Baresi tidak hanya dihitung melalui piala, pertandingan, atau lamanya mengenakan ban kapten. Ia dikenang karena kecerdasan membaca permainan, keberanian menghadapi tekanan, kesetiaan, dan kemampuannya mengubah posisi libero menjadi pusat kendali tim.

Tujuh fakta berikut memperlihatkan perjalanan luar biasa seorang pemain yang semula diragukan karena bentuk tubuhnya. Dari penolakan Inter hingga penghormatan nomor enam, kisahnya menjelaskan mengapa AC Milan menempatkannya sebagai simbol yang tidak tergantikan.

1. Franco Baresi Pernah Ditolak Inter Milan

Jalan Franco Baresi menuju sepak bola profesional dimulai bersama kakaknya, Giuseppe Baresi, ketika keduanya mengikuti seleksi Inter Milan pada 1976. Giuseppe diterima, sedangkan Franco ditolak karena tim pencari bakat meragukan tubuhnya yang dinilai terlalu ramping.

Penolakan tersebut justru mengubah sejarah dua klub terbesar di Kota Milan. Giuseppe kemudian mencatat ratusan pertandingan bersama Inter, sementara Franco bergabung dengan AC Milan dan berkembang menjadi salah satu bek terbaik sepanjang masa.

Kisah itu terasa unik karena kedua bersaudara tersebut akhirnya menjadi kapten bagi klub yang saling bermusuhan. Giuseppe menjadi figur penting Nerazzurri, sedangkan sang adik memimpin AC Milan melewati keterpurukan sebelum menikmati periode kejayaan Eropa.

Fakta tersebut juga menunjukkan bahwa penilaian awal terhadap fisik pemain tidak selalu menggambarkan kemampuan sebenarnya. Franco menutupi kekurangan ukuran tubuh melalui kecepatan, ketepatan membaca arah serangan, keberanian berduel, serta pengambilan keputusan yang hampir selalu tenang.

2. Hanya Membela AC Milan Sepanjang Karier

Franco Baresi merupakan contoh langka pemain berstatus one-club man di tengah sepak bola profesional yang terus berubah. Sejak masuk tim utama pada musim 1977/1978 hingga pensiun pada 1997, ia hanya membela AC Milan selama dua dekade.

Catatan resmi klub menyebut Franco Baresi tampil dalam 719 pertandingan kompetitif bersama AC Milan. Jumlah tersebut mencerminkan konsistensi luar biasa karena ia bertahan melewati pergantian pelatih, presiden, generasi pemain, serta perubahan besar dalam taktik sepak bola Italia.

Selama perjalanan panjang itu, Franco Baresi mengoleksi enam gelar Serie A, tiga trofi kompetisi utama Eropa, dua Piala Interkontinental, dan empat Piala Super Italia. Koleksi tersebut menempatkannya di antara pemain tersukses dalam sejarah AC Milan.

Kesetiaannya tidak berhenti setelah pensiun sebagai pemain karena ia tetap terhubung dengan lingkungan klub. Franco Baresi kemudian dipercaya menjadi wakil presiden kehormatan AC Milan, jabatan yang memperlihatkan besarnya penghormatan institusi terhadap warisan sang kapten.

3. Franco Baresi Menjadi Kapten pada Usia 22 Tahun

Pada musim 1982/1983, AC Milan membuat keputusan berani dengan menunjuk Franco Baresi sebagai kapten ketika usianya baru 22 tahun. Penunjukan itu terjadi saat AC Milan sedang membangun ulang kekuatan setelah kembali menghadapi kompetisi Serie B.

Usia muda tidak menghalangi sang kapten memimpin pemain yang lebih senior karena otoritasnya lahir dari sikap dan performa. Ia tidak dikenal sebagai sosok yang banyak berbicara, tetapi mampu mengatur pertahanan melalui posisi, gerakan, dan ketegasan.

Ban kapten tersebut dipertahankannya sampai akhir karier pada 1997, sehingga masa kepemimpinannya berlangsung sekitar 15 musim. Dalam periode itu, AC Milan berubah dari klub yang mengalami krisis menjadi kekuatan dominan di Italia dan Eropa.

Baresi kemudian menjadi kapten bagi generasi luar biasa yang dihuni Paolo Maldini, Alessandro Costacurta, Mauro Tassotti, Carlo Ancelotti, Ruud Gullit, dan Marco van Basten. Kepemimpinannya menjadi penghubung antara pemain lokal, bintang asing, serta gagasan pelatih.

4. Tetap Setia ketika AC Milan Dua Kali Terdegradasi

Kesetiaan Franco Baresi benar-benar diuji ketika AC Milan dua kali turun ke Serie B pada awal dekade 1980-an. Degradasi pertama terjadi akibat skandal pertandingan, sedangkan kejatuhan berikutnya datang setelah hasil buruk di kompetisi liga.

Banyak pemain besar dapat memilih pindah demi mempertahankan karier di level tertinggi, tetapi Franco Baresi mengambil jalan berbeda. Ia tetap bersama AC Milan, membantu klub kembali promosi, kemudian menerima tanggung jawab lebih besar sebagai pusat pembangunan tim.

Keputusan bertahan tersebut membuat hubungan Franco Baresi dengan pendukung jauh melampaui ikatan pemain dan klub. Para Milanisti melihatnya sebagai figur yang hadir dalam masa paling gelap, bukan hanya ketika AC Milan memenangi trofi bergengsi.

Kesetiaan itu akhirnya terbayar ketika era Silvio Berlusconi, Arrigo Sacchi, dan Fabio Capello membawa kebangkitan besar. Baresi menjadi fondasi pertahanan yang membantu AC Milan membangun dominasi, termasuk rekor 58 pertandingan Serie A tanpa kekalahan.

5. Franco Baresi Juara Dunia Tanpa Bermain

Franco Baresi masuk skuad Italia yang menjuarai Piala Dunia 1982 di Spanyol, tetapi tidak dimainkan dalam satu pertandingan pun. Pelatih Enzo Bearzot mempertahankan susunan inti yang stabil hingga Azzurri mengalahkan Jerman Barat pada pertandingan final.

FIFA mencatat Baresi termasuk tujuh anggota skuad juara Italia yang tidak memperoleh menit bermain. Meski demikian, statusnya sebagai bagian tim pemenang tetap menjadi pencapaian besar pada fase awal perjalanan internasionalnya.

Perannya bersama Italia berkembang pada turnamen berikutnya hingga menjadi pemimpin utama pertahanan. Franco Baresi membantu negaranya meraih peringkat ketiga pada Piala Dunia 1990, lalu menjadi kapten ketika mencapai final Piala Dunia 1994.

Rangkaian tersebut menghasilkan catatan sangat jarang karena ia merasakan posisi juara, peringkat ketiga, dan runner-up dalam tiga edisi Piala Dunia. Perjalanan itu menunjukkan perubahan sang bek dari pemain cadangan menjadi pemimpin tertinggi Azzurri.

6. Kembali dari Operasi untuk Final Piala Dunia

Drama terbesar karier internasional Franco Baresi terjadi pada Piala Dunia 1994 setelah ia mengalami cedera lutut dalam fase grup. Ia menjalani operasi, tetapi tetap bertahan di Amerika Serikat sambil menjalani pemulihan dan mendampingi rekan-rekannya.

Pemulihannya berlangsung sangat cepat hingga Baresi kembali menjadi starter dalam final menghadapi Brasil. FIFA menyebut kepulangannya terjadi 22 hari setelah operasi, sementara sejumlah laporan menuliskan 25 hari, sehingga kisah itu kerap disebut keajaiban.

Sang kapten bermain selama 120 menit dan memperlihatkan performa bertahan luar biasa meskipun belum sepenuhnya pulih. Ia membaca serangan Brasil dengan tenang, melakukan intervensi penting, serta memimpin Italia hingga pertandingan harus ditentukan melalui adu penalti.

Akhir pertandingan menghadirkan sisi manusiawi ketika tendangan penalti Franco Baresi melambung di atas gawang. Italia akhirnya kalah, tetapi keberaniannya kembali bermain hanya sekitar tiga pekan setelah operasi membuat final tersebut menjadi bagian penting warisannya.

7. Nomor Enam Franco Baresi Dipensiunkan AC Milan

Ketika Franco Baresi pensiun pada 1997, AC Milan memutuskan menarik nomor punggung enam yang identik dengannya. Ia menjadi pemain pertama dalam sejarah klub yang memperoleh penghormatan tersebut, sebelum nomor tiga Paolo Maldini juga dipensiunkan.

Keputusan itu membuat nomor enam tidak lagi sekadar angka dalam daftar skuad AC Milan. Nomor tersebut berubah menjadi simbol kepemimpinan, kecerdasan bertahan, loyalitas, serta standar profesional yang diwariskan Franco Baresi kepada generasi berikutnya.

Penghormatan klub berlanjut ketika Franco Baresi menjadi orang pertama yang resmi masuk AC Milan Hall of Fame pada 2024. Pemilihannya menegaskan bahwa posisinya dalam sejarah Rossoneri bukan hanya ditentukan oleh statistik, tetapi juga nilai kehidupan.

Nomor enam tetap terlihat pada bendera besar pendukung di Curva Sud dan berbagai penghormatan di San Siro. Bagi banyak Milanisti, simbol tersebut mengingatkan bahwa Franco Baresi tidak pernah meninggalkan AC Milan, bahkan setelah berhenti bermain.

Franco Baresi Mengubah Peran Libero AC Milan

Kehebatan Franco Baresi juga terletak pada caranya mendefinisikan ulang peran libero dalam sepak bola modern. Ia bukan sekadar penyapu di belakang, melainkan pengatur garis pertahanan AC Milan yang mampu membawa bola dan memulai serangan dari area sendiri.

Bersama Mauro Tassotti, Alessandro Costacurta, dan Paolo Maldini, ia membentuk salah satu barisan belakang paling terkenal sepanjang sejarah. AC Milan memaksimalkan koordinasi mereka untuk memainkan garis tinggi, jebakan offside, tekanan kolektif, serta transisi cepat.

Gaya tersebut membutuhkan konsentrasi dan keberanian karena satu kesalahan posisi dapat membuka ruang besar bagi lawan. Franco Baresi mengimbanginya dengan pembacaan permainan istimewa, membuat tubuhnya yang tidak besar justru tampak dominan menghadapi penyerang mana pun.

Kesimpulan

Wafatnya Franco Baresi menutup perjalanan hidup seorang kapten yang memberikan hampir seluruh waktunya kepada sepak bola dan AC Milan. Namun, pengaruhnya tetap hadir melalui filosofi bertahan, budaya kepemimpinan, dan standar kesetiaan yang semakin langka.

Tujuh fakta unik tersebut memperlihatkan bahwa kebesaran Franco Baresi tidak dibentuk oleh satu pertandingan atau satu trofi. Ia menjadi legenda karena bangkit dari penolakan, bertahan dalam krisis, memimpin kejayaan, serta menjaga hubungan abadi dengan AC Milan.

Sumber Referensi