x

Sejarah Piala Konfederasi: Arab Saudi hingga Kutukan

Sabtu, 17 Juni 2017 15:45 WIB
Editor: Tengku Sufiyanto
Trofi Piala Konfederasi.

Piala Konfederasi 2017 akan terselenggara di Rusia pada tanggal 17 Juni hingga 2 Juli 2017. Piala Konfederasi tahun ini merupakan tolak ukur persiapan Rusia menggelar Piala Dunia 2018 mendatang.

Piala Konfederasi 2017.

Ada delapan tim yang ikut andil dalam Piala Konfederasi 2017, yakni Jerman (Juara Piala Dunia 2014), Australia (Juara Piala Asia 2015), Chile (Juara Copa America 2016), Kamerun (Juara Piala Afrika 2017), Meksiko (Juara Piala Concacaf 2015), Selandia Baru (Piala Osenia 2016), Portugal (Juara Piala Eropa 2016), dan Rusia (tuan rumah Piala Dunia 2018).

Baca Juga:

Kedelapan tim tersebut dibagi menjadi dua grup di babak penyisihan. Grup A dihuni oleh Rusia, Selandia Baru, Portugal, dan Meksiko. Grup B ditempti Jerman, Kamerun, Australia, dan Chile.

Piala Konfederasi 2013.

Nantinya, juara dan runner up grup berhak melaju ke babak semifinal. Di mana juara Grup A menghadapi runner up Grup B, lalu jawara Grup B bertemu tim peringkat kedua Grup A.

Piala Konfederasi 2017.

Sebenarnya bagaimana sejarah Piala Konfederasi bisa berlangsung. Berikut ulasannya soal sejarah dan kitukan di Piala Konfederasi:


1. Sejarah Piala Konfederasi

Piala Konfederasi 2017.

Dalam sejarahnya, Piala Konfederasi memang dalam beberapa tahun belakangan ini digelar sebagai ajang tolak ukur persiapan tuan rumah Piala Dunia yang bakal terselenggara setahun kemudian. Piala Konfederasi diikuti tujuh tim juara di benuanya masing-masing dan sang jawara bertahan Piala Dunia.

Turnamen tersebut sebelum diambil alih oleh FIFA berasal dari Arab Saudi. Dahulu Piala Konfederasi bernama King Fahd Cup, dan pertama kali digelar pada tahun 1992 di Arab Saudi.

Turnamen ini menjadi ajang bertarungnya juara dari masing-masing konfederasi atau zona. Di mana Argentina yang mewakili zona Conmebol keluar sebagai juara perdana turnamen tersebut.

Selanjutnya, King Fahd Cup digelar untuk kedua kalinya pada tahun 1995. Ketika itu, panitia mengundang juara Piala Eropa 1992 Denmark untuk ikut serta. Tim Dinamit akhirnya menjadi juara usai mengalahkan Argentina 2-0.

Timnas Argentina di Piala Konfederasi 1992.

Memasuki penyelenggaraan ketiga, tepatnya pada tahun 1997, perubahan mulai dilakukan, setelah FIFA mengambil alih pengelolaan kejuaraan tersebut. Tajuk Piala Raja Fahd kemudian diganti menjadi Piala Konfederasi, peserta pun bertambah dari Konfederasi OFC yang diwakili oleh Australia.

Meski begitu penyelenggaraan tetap berlangsung di Arab Saudi dengan tempat utama di Stadion Raja Fahd. Saat itu Brasil keluar sebagi juara setelah menundukkan Australia enam gol tanpa balas di partai final.

Pada tahun 1999, Piala Konfederasi kemudian beralih dari Arab Saudi ke Meksiko. Pada penyelenggaraan tersebut untuk menyemarakkan turnamen, FIFA menambah kuota peserta hingga genap menjadi delapan kesebelasan. Kuota tersebut diberikan kepada juara Piala Dunia tahun sebelumnya, saat itu Prancis berhak ikut ambil bagian karena mereka adalah juara Piala Dunia 1998.

Sayang, Prancis menolak untuk ikut serta, dengan alasan kondisi fisik pemain yang tak memungkinkan bertarung di ajang tersebut. Posisi Prancis kemudian digantikan Brasil sebagai runner-up Piala Dunia 1998. Namun karena pada saat itu Brasil juga berstatus sebagai juara Copa America, maka Bolivia yang merupakan runner-up Copa America kemudian ditunjuk sebagai wakil CONMEBOL. Dalam gelaran tersebut, gelar juara menjadi milik Meksiko yang sukses menumbangkan Brasil dengan skor 4-3 di partai puncak.


2. Korelasi dengan Piala Dunia

Trofi Piala Dunia.

Korelasi antara Piala Konfederasi dengan Piala Dunia baru tercipta pada tahun 2001. Saat itu FIFA menjadikan Piala Konfederasi sebagai ajang untuk melihat kesiapan tuan rumah Piala Dunia, yang akan digelar setahun kemudian.

Otomatis penyelenggaraan dilangsungkan di Korea Selatan dan Jepang sebagai tuan rumah Piala Dunia 2002. Saat itu Prancis yang mewakili Konfedarsi UEFA menjadi juara usai mengalahkan Jepang dengan skor 1-0 di laga pamungkas.

Italia saat menjadi juara Piala Dunia 2006.

Sejak saat itu, Piala Konfederasi diselenggarakan dalam waktu empat tahun sekali. Turnamen baru muncul istilah sebagai tolak ukur persiapan tuan rumah Piala Dunia setahun kemudian.


3. Kutukan di Piala Konfederasi

Piala Konfederasi 2017.

Di balik sejarah penyelenggaraan Piala Konfederasi, ada sebuah kutukan yang hingga saat ini belum bisa ditepis. Di mana juara Piala Konfederasi tidak pernah menjadi juara Piala Dunia.

Prancis sang juara Piala Konfederasi 2001, harus menelan kegagalan lolos dari babak penyisihan Grup A Piala Dunia 2002. Lalu Brasil yang menjadi juara Piala Konfederasi 2005, di mana jawara Piala Dunia 2006 adalah Italia.

Prancis saat juara Piala Konfederasi 2001.

Tahun 2009 kembali Brasil yang menjadi juara, namun sang jawara Piala Dunia 2010 diperoleh Spanyol. Begitupun Brasil yang berhasil keluar sebagai pemenang di tahun 2013, di mana sang juara Piala Dunia 2014 merupakan Jerman.

Jadi siapakah juara Piala Konfederasi 2017? Apakan tim juara mampu menghapus kutukan tersebut? Waib untuk ditunggu.

Piala KonfederasiLiga Indonesia

Berita Terkini