x

Jadi Tersangka KPK, Berikut Jejak Setya Novanto di Sepakbola Indonesia

Kamis, 16 November 2017 06:59 WIB
Editor: Rizky Pratama Putra
Ketua DPR RI, Setya Novanto.

Sejumlah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendatangi kediaman Setya Novanto di bilangan Jakarta Selatan, Rabu (15/11/17). Kehadiran mereka terkait penetapan Ketua DPR RI tersebut sebagai tersangka dalam kasus dugaan penggelapan dana KTP elektronik.

Kehadiran KPK di kediaman Novanto ini sekaligus untuk melakukan penahanan kepada yang bersangkutan. Pasalnya, Novanto sempat mangkir dari panggilan yang diberikan KPK sebelumnya.

Setya Novanto sempat memiliki jejak di sepakbola nasional.

"KPK mendatangi rumah SN karena sejumlah panggilan sudah dilakukan sebelumnya namun yang bersangkutan tidak menghadiri," ujar Febri seperti dikutip dari Kompas.

Sebelum ditetapkan sebagai tersangka karena kasus dugaan rasuah sendiri, sepak terjang Novanto memang cukup flamboyan. Bahkan, Novanto sendiri dikenal memiliki sejumlah jejak dalam persepakbolaan nasional.

Baca Juga

Sejak masa Timnas U-19 di bawah asuhan Indra Sjafri dibentuk pada tahun 2013, Novanto ikut menyelam di dalamnya. Bahkan, Novanto juga sempat memberikan komentar saat Timnas U-22 turun gelanggang di SEA Games 2017 lalu.

Lalu, sejauh manakah rekam jejak Novanto dalam sepakbola nasional? Berikut rangkuman INDOSPORT:


1. Jadi Bapak Asuh Bek Timnas U-19

Yabes Roni, pemain Bali United.

Setya Novanto dikenal dekat dengan Yabes Roni, saat masih membela Timnas U-19. Pemain yang kini membela Bali United tersebut bahkan sempat ditampung di rumah Setnov usai Kualifikasi Piala AFC U-19 2014 lalu.

Yabes saat itu mengaku diajak berkeliling tempat wisata di Jakarta. Bahkan ada satu pengalaman yang berkesan dari Yabes yang direkamnya dari Novanto.

"Saya diajak oleh anaknya Pak Novanto keliling Jakarta. Saya disuruh makan pizza, namun saya tidak mau karena rasanya tidak enak," kata Yabes seperti dikutip dari Tribun News.

Novanto sendiri tidak sembarang alasan menjadikan Yabes sebagai anak asuhnya. Politisi Partai Golkar ini berharap Yabes menjadi panutan bagi pemuda di kawasan NTT untuk berprestasi.

"Mudah-mudahan muncul Yabes-Yabes baru dari bumi Flobmora. Saya akan terus mendampingi Yabes termasuk memperhatikan studinya hingga perguruan tinggi. Saya ingin Yabes terus menularkan ilmu atau kemampuannya kepada anak di seluruh daerah di NTT. Saya juga mohon dukungan Pak Gubernur NTT selaku pembina sepakbola di NTT agar ke depan muncul lebih banyak putra Flobamora di kancah sepakbola nasional. Yabes sudah memberikan contoh yang sangat bagus, dan Yabes saat ini milik persepakbolaan Indonesia," kata Setya Novanto saat itu.


2. Singgung PSSI dan Persipura dalam Kasus 'Papa Minta Saham'

Logo PSSI.

Pada tahun 2015, Setya Novanto kembali menjadi perbincangan publik nasional. Novanto diduga melakukan pencatutan nama Presiden Joko Widodo dalam kasus permintaan saham PT Freeport Indonesia.

Kasus yang dikenal publik sebagai 'Papa Minta Saham' ini pun menjadi salah satu topik hangat di seluruh negeri. Bahkan, sepakbola turut dibawa Novanto dalam kasus ini.

Hal ini diketahui dari rekaman pembicaraan antara Novanto dengan M. Riza Chalid dan Maroef Sjamsoeddin. Kasus ini akhirnya menyeret Novanto dalam persidangan yang digelar oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). 

Rekaman tersebut dibuka dalam sidang perdana yang digelar oleh MKD. Dalam transkrip percakapan yang terbagi menjadi 24 halaman ini, Novanto mengandaikan kondisi perekonomian Indonesia dengan PSSI.

Sementara Persipura ikut menjadi 'rias' Novanto dalam lobi tersebut terkait kerja sama mereka dengan PT Freeport Indonesia. Saat itu, Persipura mendapat kucuran dana sebesar Rp2,5 miliar dari PT Freeport Indonesia.

Berikut transkrip percakapan Novanto:

SN: Pengalaman saya ya Pak. Presiden ini agak koppig (kopeh, bahasa Belanda) tapi bisa merugikan semua. Contoh yang paling gampang itu PSSI. Apa susahnya ini ya, saya bicara. Saya harus bicara Freeport itu saya bicara dulu PSSI. Saya bilang, Pak Presiden pengalaman saya zaman SBY, SBY turun tangan. TVOne yang sudah menyiarkan liga dan lakunya bukan main, terpaksa harus dihentikan karena sudah teriak-teriak, ini menyangkut sponsor, pengangguran mereka, menyangkut macem-macem. Jadi bisa menurunkan juga kredibilitas isu-isu presiden. Presiden, Pak Ketua khusus PSSI saya tidak ada apa, apa tidak ikut campur dengan pihak mereka. Supaya Indonesia itu bangkit. Saya bilang, ada peraturan FIFA mengharuskan. Kalau saya yang kurang menguasai, Ketua MA menyampaikan hukum-hukumnya. Disampaikan pak, hukum-hukumnya. Kalau sudah bilang enggak, ya enggak, susah kita. Tetap saja. Kita dikte saja. Gitu Pak. Koppignya dia buat bahaya kita. Kedua, Ketua MA sampai merasani sama saya enggak berkenan sama presiden. Wah gak cocoklah.

MS: Chemistry enggak nyambung

SN: Enggak nyambung Pak. Ketemu dua kali di tempatnya Menteri PAN, waktu pelantikan ngobrol itu lagi. Ketemu lagi. Enggaak. Ini harus kita rekayasa pak.
... ...
MR: Bagus Pak. Dia bisa mengcreate. Kalau tahu sekarang kita lagi berdarah. Dia gak mungkin menghindari, dia tidak akan diam. Dia akan cari akal. Jokowi mana mau ketemu kita. Allah

SN: Ini kaya PSSI babak belur.

MS: Kita kan sponsor Persipura. Bubar Pak. Pada ngirim surat mau membubarkan. Kasihan Persipura

MR: Pemain bola itu kalau dia gak main dua bulan, otot-ototnya rusak semua

MS: Drop semua. Sakit semua. Sakit jantung semua Pak


3. Gagas Program Liga Sepakbola Desa

Jersey Ronaldo dan Messi.

Setya Novanto juga sempat membuat sebuah inovasi bagi persepakbolaan nasional. Hal ini terkait dengan aktivitasnua di Partai Golkar.

Pada tahun 2016 silam, Novanto sempat mengagas kompetisi sepakbola antardesa yang digelar oleh Partai Golkar. Liga ini rencananya akan digulirkan di seluruh Indonesia.

"Kami mulai November (2016) mendatang. Program untuk anak muda, usia 17-25 tahun," kata Novanto seperti dikutip dari Suara Pembaruan.

Novanto bahkan sudah menyiapkan sistem berjenjang untuk kompetisi ini. Kompetisi tersebut awal kali digelar di Manado sebelum digulirkan di wilayah lain di Indonesia.

"Kita mulai dari pertandingan tingkat desa. Lalu naik ke kecamatan. Dari kecamatan ke kabupaten dan terus ke propinsi. Dari situ baru masuk ke tingkat nasional," jelas Novanto.

Bahkan Novanto sempat ingin mendatangkan Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi untuk menghadiri partai final kompetisi ini. Tak hanya itu, kedua megabintang sepakbola dunia ini akan diajak untuk bermain bersama para pemain pilihan dari kompetisi ini.

"Kami siap mempertemukan mereka dengan para fans-nya. Mereka juga nanti kita minta ikut bertanding," tuturnya.

DPR RISetya NovantoLiga IndonesiaKomisi Pemberantasan Korupsi

Berita Terkini