Memahami Pro Kontra yang Muncul dalam Pencabutan Sanksi Persib Bandung
INDOSPORT. COM - Hukuman soal Bobotoh yang tidak boleh menemani Persib Bandung bertanding, akhirnya telah dicabut Komite Eksekutif PSSI. Keputusan ini pun sepertinya menimbulkan pro dan kontra tersendiri.
Ya, Persib pada gelaran Liga 1 2018 lalu mendapat sebuah sanksi cukup berat dari PSSI. Terutama setelah insiden seorang Jakmania, Haringga Sirla, yang tewas dikeroyok oknum Bobotoh jelang laga Liga 1 2018 pekan ke-23, antara Persib vs Persija Jakarta.
Salah satu hukuman yang diterima Persib adalah larangan bertanding ditemani Bobotoh. Para Bobotoh dilarang mendampingi Persib bertanding hingga pertengahan musim Liga 1 2019.
Namun, hukuman tentang larangan Bobotoh menemani Persib bertanding kini telah dicabut Komite Eksekutif PSSI. Hal itu sesuai surat keputusan Komisi Banding PSSI No. 09/KEP/KB/Liga-1/XI/2018 yang diunggah situs resmi Persib.
"Segala larangan yang sempat dijatuhkan kepada Bobotoh tidak akan berlaku di kompetisi Liga 1 2019 mendatang," bunyi isi surat tersebut, Kamis (28/02/19).
Surat pencabutan sanksi ditandatangani langsung oleh Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono. Pencabutan sanksi muncul setelah PSSI menggelar Kongres yang berlangsung di Bali pada 20 Januari 2019 lalu.
1. Terlalu Berat?
Sebuah keputusan tak jarang menimbulkan pro dan kontra tersendiri. Begitu pula yang terjadi pada keputusan pencabutan sanksi Persib.
Hukuman yang diterima Persib atas kejadian tewasnya suporter sepak bola memang terbilang cukup berat. Terutama bila dibandingkan dengan hukuman-hukuman untuk kasus serupa di Eropa sana.
Di Serie A Italia 2018/19, ada kasus tewasnya suporter dalam laga Inter Milan vs Napoli. Laga itu juga dihiasi oleh aksi rasisme yang dilakukan para suporter Inter Milan ke pemain Napoli, Kalidou Koulibaly.
Namun, otoritas sepak bola Italia malah lebih fokus menjatuhkan sanksi untuk kasus rasisme. Seperti dikutip dari BBC, Inter Milan dihukum dua pertandingan tanpa dihadiri penonton akibat suporternya melakukan rasisme.
Ada pula kasus serupa yang agak berbeda tejadi di gelaran Liga Champions musim lalu dalam laga antara Liverpool vs AS Roma. Di luar stadion Anfield, seorang pendukung Liverpool, Sean Cox hampir tewas setelah diserang suporter AS Roma.
Kasus itu lantas mengundang sanksi dari UEFA untuk AS Roma. Dikutip dari BBC, Serigala Roma didenda sekitar 50 ribu euro, atau 810 juta rupiah. AS Roma juga disanksi tak mendapat jatah tiket tandang untuk dua laga Liga Champions musim 2018/19.
Sementara yang dialami Persib terbilang cukup berat. Sejak tahun 2018 lalu hingga pertengahan musim 2019, Persib dilarang bermain tanpa ditemani Bobotoh sama sekali.
Pencabutan sanksi pun lantas bisa dibilang menjadi sebuah keputusan tepat bila berkaca pada hal tadi. Ya, beban sanksi terlalu berat itu kini akhirnya sudah lepas dari pundak Maung Bandung.
2. Ketegasan PSSI?
Pencabutan sanksi Persib juga bisa menimbulkan tanda tanya. Terutama soal ketegasan PSSI dalam upaya memberantas kasus kerusuhan suporter.
Padahal, pada awal-awal pemberian sanksi, PSSI dengan tegas menyatakan kalau ini sebagai langkah konkret untuk memulai sepak bola Indonesia yang lebih baik. PSSI ingin menyudahi kasus-kasus kerusuhan suporter yang kerap menghasilkan korban jiwa.
"Bahwa apa yang telah diputuskan, apa yang telah direkomendasikan, ini menjadi start awal momentum untuk perbaikan keseluruhan. Apalagi slogan PSSI bahwa sepak bola Indonesia itu harus bermartabat. Ayo kita mulai," kata Komite Eksekutif PSSI, Gusti Randa pada 3 Oktober 2018 lalu, seperti dikutip dari laman resmi PSSI.
Keputusan pencabutan juga menimbulkan respons yang cukup 'panas' dari para netizen. Terlihat dari kolom komentar cuitan akun Twitter Persib saat mengumumkan keputusan pencabutan sanksi.
Tak sedikit komentar netizen yang bernada sindiran kepada klub lain atau pihak-pihak tertentu. Berikut rangkuman komentar-komentar 'panas' para netizen yang INDOSPORT kumpulkan.