Fans Milan Kirim Pesan Keras, Desak Giorgio Furlani Mundur
INDOSPORT.COM - Suporter AC Milan mengirim pesan keras kepada manajemen klub saat laga melawan Atalanta di San Siro. Kelompok ultras Rossoneri membentangkan spanduk, menyanyikan chant, dan menuntut CEO Giorgio Furlani meninggalkan jabatannya.
Protes itu dimulai beberapa jam sebelum pertandingan. Kelompok Curva Sud merilis pernyataan panjang yang mengkritik sejumlah tokoh klub atas berbagai masalah dalam empat tahun terakhir.
Para suporter kemudian berjalan menuju stadion dengan membawa spanduk besar. Tulisan yang terpampang jelas berbunyi “Furlani Go Away”, sebagai desakan terbuka agar Furlani pergi dari Milan.
Di dalam stadion, aksi protes berlanjut dengan cara yang lebih visual. Para suporter menyalakan lampu ponsel dan membentuk pesan “GF Out” di tribun.
Spanduk lain juga terlihat di area Curva Sud. Salah satunya berisi pesan agar klub memulai ulang dari awal dan mengembalikan Milan kepada identitas aslinya.
Nyanyian para suporter bergerak dalam nada yang sama. Mereka menegaskan bahwa Milan bukan hanya milik manajemen, melainkan juga bagian dari sejarah dan identitas para pendukung.
Kemarahan fans terhadap Furlani bukan muncul dalam semalam. Petisi yang menuntut pemecatan CEO Milan itu disebut sudah mengumpulkan lebih dari 20.000 tanda tangan.
Namun, posisi Furlani tampaknya masih mendapat dukungan dari pemilik klub, Gerry Cardinale. Football Italia melaporkan Cardinale cenderung tetap mempertahankan Furlani meski tekanan dari suporter semakin besar.
Salah satu alasannya adalah kondisi keuangan klub yang dianggap mulai lebih seimbang. Milan disebut mencatat pendapatan kuat dari penjualan pemain, meski hasil di lapangan belum sepenuhnya memuaskan.
Di mata suporter, pendekatan itu tidak cukup. Mereka menilai Milan tidak boleh hanya dilihat dari neraca keuangan, tetapi juga dari ambisi olahraga dan martabat klub.
Situasi semakin berat karena performa Milan sedang menurun. Reuters mencatat Milan kalah 3-2 dari Atalanta di San Siro, hasil yang semakin mengganggu upaya mereka mengamankan tiket Liga Champions.
Dalam laga tersebut, Atalanta unggul melalui Ederson dan Davide Zappacosta pada babak pertama. Giacomo Raspadori kemudian menambah gol ketiga tidak lama setelah jeda.
Milan sempat mencoba bangkit lewat gol Strahinja Pavlovic dan penalti Christopher Nkunku pada masa tambahan waktu. Namun, usaha itu tidak cukup untuk menghindarkan Rossoneri dari kekalahan kandang.
Kekalahan tersebut membuat tekanan terhadap manajemen semakin kuat. Milan sudah kalah empat kali dalam enam pertandingan terakhir, sebuah catatan yang memicu keresahan besar di kalangan suporter.
Milan memang masih berada di posisi empat besar Serie A. Namun, mereka memiliki poin sama dengan AS Roma dan hanya unggul berdasarkan rekor head-to-head.
Kondisi itu membuat dua laga terakhir musim ini menjadi sangat menentukan. Jika kembali terpeleset, Milan bisa kehilangan tiket Liga Champions yang sangat penting secara olahraga dan finansial.
Sebelum laga melawan Atalanta, Reuters sudah menulis bahwa posisi Milan dalam perebutan empat besar berada di bawah tekanan. Juventus, Roma, dan Como masih berada dalam jarak yang berbahaya.
Konteks itu membuat protes suporter terasa lebih besar dari sekadar seruan anti-Furlani. Ini adalah bentuk frustrasi terhadap arah klub yang dianggap tidak lagi memberi keyakinan kepada fans.
Bagi Curva Sud, Milan harus kembali dibangun dengan visi sepak bola yang jelas. Mereka ingin klub tidak hanya sehat secara laporan keuangan, tetapi juga kompetitif di level tertinggi.
Pesan “Furlani Out” akhirnya menjadi simbol ketidakpuasan yang lebih luas. Di balik nama Furlani, ada kritik terhadap strategi, komunikasi, dan keputusan klub dalam beberapa musim terakhir.
Manajemen Milan kini berada dalam posisi sulit. Mereka harus menjaga stabilitas bisnis, tetapi juga tidak bisa mengabaikan suara suporter yang merasa kehilangan arah klub.
Laga melawan Atalanta seharusnya menjadi kesempatan Milan memperkuat posisi di klasemen. Namun, yang lebih terlihat justru krisis kepercayaan antara tribune dan ruang direksi.
Bagi Milan, masalah ini tidak akan selesai hanya dengan satu kemenangan. Klub membutuhkan jawaban yang lebih meyakinkan, baik di lapangan maupun dalam cara mereka membangun masa depan Rossoneri.