Rusia terancam dicoret dari Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro karena masalah doping yang tengah melanda atlet negara tersebut. Jika tidak coret, Rusia dimungkinkan hanya mengirim satu atlet ke ajang multi-event empat tahunan tersebut.
Menurut Kepala Pelatih Persatuan Angkat Besi, Bina Raga, dan Angkat Berat Seluruh Indonesia (PABBSI), Dirja Wiharja, mengakui jika Indonesia bakal mencuri keunungan dari skandal doping yang melibatkan atlet angkat besi Rusia.

Jika terbukti terlibat doping, Rusia bisa dicoret dari Olimpiade 2016.
Federasi Angkat Besi Internasional nyatanya menemukan indikasi jika atlet negara Beruang Merah terbukti mengonsumsi zat terlarang. Alhasil jatah kuota atlet angkat besi Indonesia pun berpeluang bertambah jika Rusia benar-benar dilarang tampil di ajang Olimpide 2016.
"Saat kejuaraan Asia Ketua Federasi Angkat Besi Internasional telah menegaskan tak ingin ada atlet yang tersangkut doping di Olimpiade nanti. Saat kejuaraan Asia di Uzbekistan kemarin ada indikasi atlet Rusia terkena skandal doping, sehingga kita bisa mengirimkan satu atlet lagi ke Olimpiade," ujar Dirja saat dihubungi INDOSPORT.
%201.jpg?w=460&h=259)
Dirja Wiharja (kanan) memantau atlet angkat besi berlatih.
Saat ini, Indonesia menempati peringkat tujuh dunia, namun jika nantinya Rusia terbukti doping maka peringkat Indonesia akan naik ke posisi keenam. Indonesia pun berhak mengirimkan enam atlet angkat besi karena berada di peringkat enam jika Rusia benar-benar dicoret.
"Untuk pengumuman terkait Rusia yang terkena skandal doping bakal diumumkan akhir Juni ini, jika Indonesia naik ke peringkat enam, maka kemungkinan kami bisa mengirimkan satu atlet putra lagi ke ajang Olimpiade," tambah Dirja.
Beberapa perbaikan untuk tim pasca mengikuti ajang kejuaraan angkat besi Asia telah dilakukan sebelum mereka berlaga di Olimpiade. Kurangnya jam terbang para atlet akan semaksimal mungkin disiasati demi meraih hasil maksimal di ajang tersebut.
"Kala kita naik ke peringkat enam kemungkinan bakal mengirimkan satu atlet lagi ke sana mungkin untuk putra, jam terbang anak-anak yang kurang mungkin jadi evaluasi di Kejuaraan Asia kemarin, untuk sisanya, mungkin masalah power," jelas Dirja.