Seri di Yogyakarta merupakan yang terakhir dari tiga seri berturut-turut dari Solo, Semarang, dan kemudian di Yogyakarta. Jeda istirahat yang hanya tiga atau empat hari membuat pelatih harus mengatur strategi agar pemain tidak kelelahan.
Satria Muda Britama misalnya, harus bekerja keras pada laga terakhir di Seri di Semarang, Minggu (8/3). Bahkan mereka harus menyelesaikan big match itu lewat overtime sebelum menaklukkan Pelita Jaya Energi Mega Persada Jakarta 73-69.
Selang tiga hari kemudian, Rabu (11/3), SM sudah ditantang tim besar lainnya, M88 Aspac Jakarta. Laga pertama ini merupakan ulangan final NBL Indonesia musim lalu yang juga digelar di Yogyakarta.
"Kekalahan itu terjadi di musim lalu. Hal itu tentu menyakitkan. Tapi kami termotivasi untuk bangkit saat menghadapi kompetisi di musim ini. Yang jelas, kami menghadapi Aspac dengan semangat baru dengan melupakan kekalahan yang lalu," ungkap Avan Seputra, small guard SM.
Menurutnya tim fokus memenangkan laga bukan untuk membalas kekalahan di final. Namun mereka ingin memenangkan head-to-head dengan Aspac. Saat ini kedudukan kedua tim sama kuat 1-1. SM mengalahkan Aspac di Jakarta. Sedangkan Aspac mengungguli lawannya pada seri di Batam.
"Kami siap adu cepat dengan Aspac. Bila mereka bermain cepat, kami akan bermain lebih cepat lagi," tandasnya.
Sementara, small guard Aspac, Handri Satrya Santosa mengungkapkan tim fokus melakukan perbaikan pada defense saat melawan SM.
"Kami fokus pada defense dan defense. Terus terang atmosfer Championship Series memang terasa di Yogyakarta," ujar Handri.