Laga ini sejatinya bukan hanya saling adu strategi antara Benjamin Alvarezsipin pembesut PJE dan pelatih CLS, Wahyu Widayat Jati. Namun, persaingan kekuataan antar lini pun mengiringi gengsi game hari ini.
Fans basket kota Malang kembali terhibur dengan aksi yang di peragakan oleh para pemain CLS dan PJE. Kedua tim yang ingin mengambil kemenangan terakhir mereka di seri ini, memberikan kemampuan terbaik mereka.

Pemain Pelita Jaya melepaskan tembakan
Drama pertandingan CLS versus PJE memasuki klimaksnya disisa hitungan detik terakhir. Adalah Amin Prihantono yang menjadi aktor utama untuk timnya. Tembakan tiga angka yang ia lakukan di sisa satu detik kuarter keempat, menyamakan kedudukan menjadi 59-59.

Pemain CLS tertunduk lesu setelah Pelita Jaya menyamakan skor
Pertandingan pun memasuki babak over time. Memasuki babak tambahan CLS akhirnya mampu menyudahi perlawanan PJE 71-68.
Jamarr Johnson menyumbang poin tertinggi untuk timnya (31 poin). Sementara Kelly Purwanto menorehkan 16 poin untuk Pelita Jaya.

Jamarr Johnson menjadi bintang kemenangan CLS
“Sebenarnya gameplan kami berjalan dengan baik. Hanya kami sedikit lengah dimomen yang krusial. Dari awal sudah saya tekankan kepada semua pemain,” kata Wahyu selepas pertandingan.
"Ini adalah CLS era baru. Kami harus bermain dengan cara yang baru dan mengirim pesan kepada semua lawan, bahwa tim ini sangat susah untuk di kalahkan. Seri depan (Jogja) kami harus lebih siap lagi menghadapi game-game ketat seperti ini,” sambungnya.
Pelatih Pelita Jaya, Alvarezsipin memberikan pujian kepada CLS. Meski kalah, dia tetap senang karena dapat memberikan hiburan kepada para pecinta basket di Malang.
“Game yang sangat bagus buat liga dan kami. Mereka punya Jamarr yang sangat dominan. Meski kalah saya salut dengan semangat pantang menyerah para pemain saya,” kata Alvarezsipin.
“Seri berikutnya saya akan menyiapkan tim saya lebih baik lagi dan kami juga akan kuat dengan kembalinya dua pemain yang pulih dari cedera (Andy “batam” Poedjakesuma dan Brendan Jawato),” sambungnya.