Pelatih Jerman Keluhkan Stamina Atlet Indonesia

Rabu, 7 Januari 2015 15:50 WIB
Penulis: Yohanes Ishak | Editor: Aditiyo Wirawan
© Ratno Prasetyo/INDOSPORT
Coaching Clinic Atletik Copyright: © Ratno Prasetyo/INDOSPORT
Coaching Clinic Atletik

Ini dilakukan demi meraih prestasi tertinggi di kancah internasional, terutama di SEA Games 2015 pada Juni mendatang. Rencananya, para pelatih tersebut akan melakukan coaching clinic hingga hari Jumat (09/01/15) mendatang. 

Menurut salah satu pelatih, Michael Deyhle, atlet Indonesia sudah memiliki dasar yang baik. Hanya saja, kebugaran fisik dan staminanya harus terus dikembangkan. Kebugaran fisik tidak hanya diperlukan saat berkompetisi, tetapi juga ketika latihan.

"Hari ini, kami melatih kebugaran fisik mereka. Stamina mereka masih kurang jadi harus lebih ditingkatkan lagi. Sebab, sangat penting menjaga kebugaran dan stamina untuk seorang atlet," tandas Deyhle, saat ditemui di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Rabu (07/01/15).

Selain itu, Deyhle juga mengungkapkan bahwa atlet Indonesia sebetulnya berpotensi. Untuk memaksimalkannya, dia akan mengajarkan bagaimana cara menikmati latihan tanpa harus memikul beban. 

"Atlet Indonesia sangat bagus, tapi masih ada yang perlu ditingkatkan dari diri mereka yaitu fisiknya. Saya akan mengajarkan mereka bagaimana cara berlatih dengan penuh semangat dan menyenangkan tanpa ada beban," lanjut dia.

Gaya kepelatihan tim pelatih asal Jerman ini juga mendapat dukungan penuh dari para atlet Merah Putih. Salah satunya adalah Hardyansyah. Atlet dari nomor lempar martil ini mengakui coaching clinic tersebut sangat baik dan berbeda dengan cara latihan di Indonesia. 

"Coaching clinic kali ini sangat baik sekali, karena menambah wawasan program-program latihan. Jadi banyak variasi-variasi yang kita tidak tahu, menjadi tahu dari dia. Sejak dia datang kesini mungkin,  ada sedikit perubahan untuk atetik, terutama di cabang olahraga lempar martil. Pelatih Jerman ini sangat santun, atraktif sekali, dan aktif. Kalau di kita (pelatih lokal, Red), sedikit kurang menyatu antara atlet dengan pelatih," pungkas Hardyansyah.

1