Media Jangan Terjebak Konflik KOI-KONI

Minggu, 13 September 2015 18:08 WIB
Editor: Irfan Fikri
© GRAFIS: Muproni/INDOSPORT
 Copyright: © GRAFIS: Muproni/INDOSPORT

“Salah satu fokus Kemenpora saat ini sesuai dengan arahan Menpora adalah menyelesaikan konflik dan hubungan yang kurang harmonis yang terjadi di beberapa  organisasi cabang olahraga. Seperti di di organisasi tenis meja, berkuda, taekwondo, juga balap sepeda,” ujar Asdep Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Dodi Iswandi.

“Media kita harapkan membantu memberikan kontribusi mendamaikan konflik yang berpengaruh pada proses pembinan atlet tersebut,” jelasnya.   

Seperti diketahui, beberapa organisasi cabor memang dilanda konflik atau disharmoni yang sudah berlangsung lama dan belum juga terselesaikan hingga sekarang.

Baik berupa dualisme kepemimpinan maupun sengketa hukum organisasi dan kepemimpinan. Jika terus belarut, konflik tersebut akan terus menghambat upaya untuk memajukan prestasi olahraga nasional.

Tidak hanya pada organisasi cabor, hubungan antar induk organisasi cabor seperti KOI dan KONI juga kurang harmonis dan bahkan kerap berseteru. Keduanya kerap saling menabrak hak dan kewenangan masing-masing, meskipun sudah ada Peraturan Pemerintah (Permen) yang mengatur hubungan kedua organisasi tersebut.

“Saya pribadi melihat, konflik yang terjadi antara KOI dan KONI adalah antara pimpinannya saja. Bukan institusinya. Ini tak boleh terjadi. Kalau kondisi ini terus terjadi, olahraga Indonesia tak akan maju,” tegas Dodi.

Menurut Dodi, sebaiknya memang KONI dan KOI berada di bawah satu kepemimpinan seperti dulu. Namun, ini juga tidak mudah dan Kemenpora tidak bisa bertindak sewenang-wenang.

“Salah satu cara menyatukan KOI dan KONI adalah dengan merubah UU SKN (Sistem Keolahragaan Nasional. Tapi ini memerlukan waktu yang cukup lama. Harus dicari terobosan. Kalau wartawan memiliki formula untuk mendamaikan konflik KOI dengan KONI, bisa disampaikan ke Kemenpora,” tambahnya.

10