"Paling tidak delapan hingga 10 emas, kalau dulu hanya empat. Untuk itu diperlukan komitmen yang luar biasa dari semua pihak," kata Ketua Satlak Prima Achamd Soetjipto kepada Antara.
Secara garis besar, target-target yang digulirkan pemerintah kepada Satlak Prima akan diwujudkan dengan upaya mengubah cara melatih atlet dengan sebuah program yang disebut "High Performance Program".
Cipto menjelaskan program yang populer disingkat "Hi-Pop" itu merupakan sebuah latihan yang disesuaikan dengan dasar kemampuan atlet terkini dan ditambah dengan sport science untuk membantu mencapai tujuan yang ditetapkan.
Selain itu, melalui Hi-Pop juga bisa mendatangkan pelatih asing untuk menambah pengetahuan dan kemampuan atlet saat menghadapi pertandinga.
"Terakhir, melalui Hi-Pop kita juga harus merancang kompetisi yang berkualitas di dalam negeri," tukas Cipto menambahkan.
Dia menilai, program Hi-Pop tersebut baru dilaksanakan sejak bulan Oktober 2015 namun hasilnya sudah mulai terlihat dan memiliki arah kerja yang positif.
Sehubungan dengan persiapan menghadapi Asian Games 2018 yang akan berlangsung di Jakarta dan Palembang (Sumatera Selatan) itu, dia menganalogikan persiapan tersebut sama dengan sebuah peperangan namun tanpa mesiu.
Menurut dia, selama ini banyak negara yang memandang Indonesia memiliki kemampuan yang terbatas dalam sebuah kompetisi olahraga.
"Namun begitu mereka tau bahwa kita sudah mengubah pola latihan kita dengan sport science, saya kira mereka akan mulai tersadar bahwa Indonesia sudah di atas standar untuk bersaing di lingkungan internasional," tutur Cipto.