Pengalaman Dua Atlet Indonesia Terjebak Demo Hari Buruh

Minggu, 1 Mei 2016 16:43 WIB
Editor: Ramadhan
 Copyright:

Bintang basket tampan asal klub JNE Bandung Utama, Surliyadin, menganggap jika para buruh berhak menjadikan demonstrasi sebagai cara mereka menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Hari buruh memang kerap kali dijadikan sebagai sebuah kesempatan bagi para buruh Indonesia untuk mengajukan kenaikan upah pada pemerintah.

“Kalau demo anarkis pastinya negatif karena selain bisa mencederai orang lain juga buat kemacetan tapi kalau mereka demo tanpa anarkis, cuma untuk menyampaikan aspisasi mereka menurut saya itu haknya untuk berdemo,” ujar Surliyadin saat dihubungi INDOSPORT.

“Ya karena demo jadi imbasnya akan terjadi kemacetan di jalan. Hal tersebut pastinya bikin kesal tapi kebetulan waktu itu bukan saya yang menyetir mobil kalau menyetir sendiri pastinya tambah sebal lagi,” tambahnya.


Surliyadin saat memperkuat JNE Bandung Utama

Senada dengan Surliyadin, bintang voli cantik asal klub Jakarta Electric PLN, Dian Wijayanti, juga merasa terganggu dengan demo anarkis yang dilakukan para buruh dalam May Day tiap tahunnya. Demo besar yang merusak fasilitas umum menurut Dian tak patut dikategorikan sebagai cara menyampaikan aspirasi.

“Kalau demo besar anarkis ya itu mengganggu banget ya, selain mengganggu pengguna jalan yang lain karena macet, kadang juga merusak fasilitas-fasilitas umum. Jadi banyak yang dirugikan juga,” ujar Dian kepada INDOSPORT.


Bintang voli cantik asal klub Jakarta Electric PLN, Dian Wijayanti

Baik Surliyadin maupun Dian Wijayanti juga pernah merasakan pengalaman tak menyenangkan terjebak dalam sebuah demonstrasi besar-besaran saat hari buruh beberapa tahun silam. Aktivitas latihan mereka terganggu karena demo anarkis yang dilakukan para buruh.

“Pernah terjebak macet di hari buruh dan itu seharian saya di jalan tak bisa latihan karena demo sudah ramai dan jalan harus ditutup,” tambah Dian.