Badan Anti Doping Dunia (WADA) mengutus seseorang bernama Profesor Robert McLaren untuk menelusuri lebih dalam kasus doping yang menimpa Rusia di Olimpiade Sochi 2014. Hasilnya, seluruh atlet Rusia positif menggunakan doping di pesta olahraga dunia tersebut.
Penyelidikan tersebut juga membuahkan hasil lainnya. Dimana kasus doping juga menyelimuti sepakbola Rusia. Ada beberapa pesepakbola di Rusia positif mengkonsumsi doping.
Hal itu tentu membuat Rusia terancam tak akan bisa ikut serta di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 dan menggelar Piala Dunia 2018. Jika Komite Olahraga Internasional (IOC) dan Induk Sepakbola Dunia (FIFA) memutuskan Rusia telah bersalah.
Nampaknya, ancaman yang diterima Rusia untuk didepak dari Olimpiade 2016 semakin kuat. Pasalnya, sebanyak 10 negara telah membuat petisi untuk mendukung dicoretnya Rusia dari Olimpiade musim panas di Brasil. 10 negara tersebut termasuk Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Jepang, Swiss, dan Kanada
Tak hanya lembaga anti-doping, petisi tersebut juga ditanda-tangani oleh 20 cabang olahraga yang tersebar di 10 negara tersebut.
Mereka menolak Rusia tampil di Olimpiade karena menganggap skandal doping yang dilakukan atlet negeri Beruang Merah disponsori oleh negara.
Pasalnya, Menteri Olahraga Rusia, Vitaly Mutko diyakini telah mendukung para atlet Rusia menggunakan doping di Olimpiade Sochi 2014. Tak hanya itu, Mutko juga menutupi kasus doping tersebut dari pengawasan IOC dan FIFA.
Kala itu, pihak Kementerian Olahraga Rusia yang dipimpin Mutko mengganti contoh urin para atlet Rusia dengan pihak yang tidak terlibat doping. Pihak laboratorium Moskow yang awalnya melakukan tes medis dikabarkan tidak memiliki pilihan karena mendapat paksaan dari negera.
"Praktek pelanggaran doping disutradarai oleh Kementerian Olahraga Rusia. Mereka dibantu oleh Pemerintah Rusia. Dengan demikian Rusia melanggar prinsip dasar Olimpiade, Piagam Olimpiade dan kode etik anti-doping dunia," demikian petikan petisi tersebut, dikutip dari New York Times.