Bu Ipah adalah juru masak yang tiap hari menyiapkan masakan khas Nusantara untuk kontingen Indonesia yang sedang mengikuti Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil.
“Panggil saja saya Bu Ipah,” kata wanita setengah baya warga negara Indonesia yang berdomisili di Sao Paulo, Brasil, itu seperti dikutip dari Antara.
Selama Olimpiade, ibu tiga anak ini diminta oleh kedutaan besar RI di Brasil, untuk bertugas di dapur posko kontingen Olimpiade Indonesia di Rio de Janeiro. Makanan hasil olahan Bu Ipah tiap hari dibawa ke perkampungan atlet di Olympic Park.

Ketua kontingen Indonesia, Raja Sapta Oktohari di Olimpiade 2016 Rio de Janiero, Brasil
Sebenarnya di perkampungan atlet Olimpiade, panitia setempat menyediakan makanan untuk seluruh atlet peserta pesta olahraga sejagat itu.
Namun, atlet-atlet Indonesia umumnya kurang cocok dengan makanan Brasil. Sehingga ketua kontingen Indonesia, Raja Sapta Oktohari menetapkan untuk menyuplai makanan khas Indonesia untuk para atlet.
“Saya senang bisa ikut membantu atlet kita di Olimpiade, walau cuma dari dapur,” kata Bu Ipah yang sudah 20 tahun tinggal di Brasil karena ikut suaminya yang bekerja di Sao Paulo.

Kontingen Indonesia di Olimpiade 2016 Rio de Janiero, Brasil
Karena peran Bu Ipah inilah maka atlet-atlet Indonesia selama berada di Rio de Janeiro bisa menikmati sayur asem, sayur lodeh, gado-gado, soto ayam dan kuliner khas Nusantara lainnya.
Asupan makanan nusantara tersebut membuat selera makanan para atlet jadi tak bermasalah lagi dan mereka bisa lebih fokus dalam pertandingan.
Wanita yang sangat fasih berbahasa Portugis itu, mengaku sudah biasa memasak untuk orang banyak, karena di Sao Paulo ia bekerja di sebuah masjid besar di kota tersebut.

Sayur Asem
“Banyak tamu yang datang ke masjid itu, dan saya sering diminta memasak untuk jamuan tamu itu. Kadang-kadang jumlahnya sampai ratusan,” kata wanita asal Bumiayu, Brebes (Jawa Tengah) itu.
Bu Ipah sendiri mengaku jarang pulang ke Indonesia. Ia pun lebih banyak menghabiskan waktu di Brasil untuk bekerja.
“Terakhir saya pulang kampung ke Bumiayu tahun 2011, jadi sudah lima tahun tidak pulang,” katanya.

Gado-gado