Kado manis diberikan ganda campuran terbaik Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di HUT Republik Indonesia ke-71, Rabu (17/08/16) usai kalahkan ganda asal Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying.
Kado manis yang patut diapresiasi oleh banyak pihak di negeri, termasuk para pemangku kebijakan. Salah satu bentuk apresasinya tidak hanya memberikan bonus melimpah ke Owi/Butet namun juga soal bagaimana dana olahraga di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara juga dinaikkan.
Pada rapat dengan Komisi X DPR RI, September tahun lalu, total anggaran peningkatan prestasi olahraga untuk tahun ini diusulkan hanya sebesar Rp1,2 triliun.
"Keseluruhan dana tersebut diprioritaskan pada 13 cabang olahraga yang ditargetkan bakal meraih emas pada Asian Games 2018," kata Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora saat itu, Djoko Pekik.
Sebelumnya, Menpora Imam Nahrawi mengusulkan pagu anggaran Kemenpora di RAPBN TA 2016 sebesar Rp2,8 triliun. Angka ini sudah menyusut Rp505 miliar dari usulan sebelumnya yakni Rp3,3 miliar.
Di rapat pada 15 Desember 2015, disepakati pagu definitif 2016 untuk dana olahraga ialah Rp3,303 triliun. Tapi komisi X DPR RI menyaratkan agar Kemenpora memberikan paparan lengkap tentang kesiapan, strategi, dan kebijakan dana anggaran tersebut.
Berikut paparan dari Imam Nahrawi dari dana tersebut:
Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kemenpora: Rp 262.372.968.000 (7,95%)
Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kemenpora: Rp 37.336.394.000 (1,13%)
Program Kepemudaan dan Keolahragaan: Rp 1.933.161.173.000 (58,48%)
Program Pembinaan Olahraga Prestasi: Rp 1.023.344.171.000 (32,44%)
Menariknya, dari total dana di APBN sebesar itu masih ada pro dan kontra terkait kata layak atau tidak dana tersebut mengucur untuk pembinaan dan peningkatan prestasi di negeri ini.
Ketua Satlak Prima, Achmad Soetjipto mengatakan beberapa waktu lalu bahwa untuk membangun kompetensi dan kapasitas atlet untuk raih prestasi tidak murah.
Saat ini Satlak Prima hanya mendapat Rp500 miliar dari pihak Kemenpora. Dana tersebut ternyata kata Ketua Satlak Prima hanya bisa membuat atlet Indonesia bersaing dengan atlet asal Timor Leste dan Filipina.
Coba bandingkan dengan anggaran negara lain di kawasan Asia Tenggara misalnya, Thailand mengalokasikan anggaran Rp 1,7 triliun, Singapura Rp 1,8 triliun, Malaysia Rp 1,9 triliun, dan Vietnam Rp 1 triliun.
Meski begitu, tiga putra dan putri kebanggaan Indonesia nyatanya pada Olimpiade Rio 2016 mampu meraih satu medali emas dan dua medali perak. Bagaimana dengan atlet Filipina atau Timor Leste? Lantas, pantaskah dana olahraga di APBN tahun depan dinaikkan?