Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sejak Mei 2016 lalu sudah memberikan peringatan soal fenomena La Nina yang akan berlangsung pada Juli hingga September 2016 ini.
"Setelah fenomena El Nino yang terjadi cukup kuat beberapa bulan lalu, saat ini kami perkirakan dampak La Nina akan terjadi mulai Juli hingga September mendatang," kata Kepala BMKG, Andi Eka Sakya seperti dilansir Antara.
Cuaca buruk ini tentu saja berdampak pada penyelenggaraan PON 2016 Jabar. Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher) seperti dilansir dari pon-peparnas2016jabar.go.id mengatakan cuaca yang tidak menentu dapat berdampak buruk kepada para kontingen yang bertanding.
Aher pun mengatakan agar pihak panitia pelaksana untuk bisa mengantisipasi cuaca buruk ini. Antisipasi itu utamanya untuk cabang olahraga yang masuk golongan aerosport seperti gantole, paralayang, terjun payung, dan terbang layang.
"Kalau situasi atau cuaca berbahaya ya jangan ada pertandingan. Panpel ketika melihat cuaca berubah, lihat ada badai angin, ada angin kencang, cuaca buruk yang membahayakan, ya stop, jangan ada pertandingan," ujar politisi asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.
Menariknya, sepanjang sejarahnya penyelenggaraan PON sebenarnya panpel acapkali menggunakan jasa para dukun atau pawang hujan untuk mengantisipasi cuaca buruk yang terjadi.
Ambil contoh pada PON 2012 lalu di Riau, pihak panpel mengerahkan pawang hujan kenamaan pada hari terakhir penyelenggaraan PON agar cuaca tetap cerah. Pun pada PON 2008 Kaltim lalu, para pawang hujan di sana bahkan sampai terlibat konflik demi mendapat tugas dari pihak panpel.
Sebenarnya, salah satu daerah yang jadi lokasi PON Jabar 2016 yakni Kota Bekasi biasanya memang selalu menggunakan jasa pawang hujan terkait event yang berlangsung.
Walikota Bekasi, Rahmat Effendi mengatakan untuk tahun ini karena pawang hujannya yang biasa disewa telah meninggal dunia.
"Namanya Sapiri, tapi orangnya sudah meninggal dunia," kata Rahmat Effendi seperti dilansir Tempo.co.
Pawang hujan merupakan profesi lumrah ada di negeri ini. Tugas pawang hujan biasanya adalah memindahkan atau menggeser hujan. Jika memang sudah tidak memungkinkan, satu-satunya jalan dengan menahan selama mungkin.
Secara akal logika hal ini tentu tidak masuk akal. Karenanya sudah saatnya tiap daerah lebih mengoptimalkan kemajuan teknologi.
Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BPPT) sebenarnya sudah mempopulerkan soal Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).
Sekedar informasi, TMC merupakan usaha manusia untuk meningkatkan curah hujan yang turun secara alami dengan mengubah proses fisika yang terjadi di dalam awan. Proses fisika yang diubah (diberi perlakuan) di dalam awan dapat berupa proses tumbukan dan penggabungan (collision and coalescence) atau proses pembentukan es (ice nucleation).
Saat ini TMC menjadi salah satu solusi teknis yang dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi bencana yang ditimbulkan oleh karena adanya penyimpangan iklim/cuaca. TMC bukanlah hal baru di dunia, karena teknologi ini sudah dipakai oleh lebih dari 60 negara untuk berbagai kepentingan.