Kontingen Sulteng tersebut, baru saja menyelesaikan pertandingan terakhir di Cianjur, Jawa Barat. Hasil yang diraih pun cukup memuaskan, rombongan tersebut berhasil membawa pulang satu medali emas, tiga perak, dan tiga perunggu.
Saat ini, rombongan dikabarkan masih berada di Stasiun Manggarai, dan akan pindah ke salah satu mes dikawasan Jakarta.
Terkait hal tersebut, pelatih tim, Iwan Said menegaskan sangat kecewa dengan tidak adanya perhatian dari pemerintah Sulteng, meskipun di PON 2016 cabang Muay Thai masih cabor eksebisi.
"Saat ini kita masih ada di stasiun, nanti akan diarahkan ke mes di daerah Jakarta. Kita ada 9 atlet, dan 4 ofisial. Semua dalam kondisi baik-baik saja," ujarnya saat dihubungi INDOSPORT.
"Saya sangat kecewa karena tidak ada sedikit pun kepedulian dari pemerintah daerah terhadap kemajuan olahraga, apalagi ini altet muda yang bisa jadi aset. Walaupun kita masih eksebisi tetapi setidaknya pemerintah ada rasa peduli, ini yang saya sesalkan," sambungnya dengan nada kecewa.
Iwan juga menjelaskan, timnya berangkat ke PON hanya mengandalkan uang seadanya, yang merupakan sumbangan dari beberapa pihak yang peduli dengan olahraga, dan keikutsertaan tim Muay Thai. Pihaknya sudah berusaha menghemat, namun nasib berkata lain, dana yang ada tetap saja terkuras habis.
"Kita bermodal sekitar Rp16 juta-an itu sudah termasuk tiket, pendaftaran ulang dan penginapan. Kita sewa vila jadinya murah tetapi memang tetap saja kurang untuk 13 orang. Tapi, kita tetap bangga bisa raih medali di PON. Kita tunjukkan semangat pantang menyerah," tutupnya.
Hingga sore ini, para atlet masih belum mendapat bantuan dana dari pihak manapun. Mereka hanya duduk di pintu keluar Stasiun Manggarai sejak pukul 13.00 WIB.