Grandmaster Catur Tertua Indonesia Meninggal Dunia

Senin, 30 Oktober 2017 15:56 WIB
Penulis: Annisa Hardjanti | Editor: Rizky Pratama Putra
© Crystal Spellman / EyeEm
Bidak catur (ilustrasi). Copyright: © Crystal Spellman / EyeEm
Bidak catur (ilustrasi).

Legenda Granmaster Catur Indonesia, Ardiansyah baru saja menghembuskan nafas terakhirnya usai berjuang melawan penyakit kanker hatinya pada 28 Oktober 2017 lalu.

Atlet berusia 67 tahun itu meninggal dunia di rumah susun Klender, Jakarta Timur. Ia sendiri merupakan salah satu dari empat grandmaster catur yang dikenal di Indonesia. 

© Antara
Salah satu Granmaster catur Indonesia, Ardiansyah, meninggal dunia. Copyright: AntaraSalah satu Granmaster catur Indonesia, Ardiansyah, meninggal dunia.

Gelar yang didapatkan oleh Ardiansyah adalah buah dari kejuaraan Olimpiade Catur di Lucerne, Swiss pada 1982 silam. Memasuki usia 60 tahun, Ardiansyah tercatat sebagai gransmaster tertua INdonesia.

"Terakhir beliau ikut Kejuaraan Piala Jaksa Agung (Jatim) pada Juli 2017 di Surabaya. Beliau datang di acara pembukaan tapi besoknya langsung pulang," ujar Humas Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi), Urry Kartopati, dilansir Tempo.co.

Dua bulan sejak diketahui menderita kanker hati, Ardiansyah memilih untuk menjalani perawatan di rumah. Semakin hari kondisi yang mendera beliau pun menjadi parah. 

Melihat kondisi tersebut, Percasi sendiri belum mampu melakukan hal lebih untuk memberikan bantuan secara finansial bagi Ardiansyah.

© Sentral Bali
Salah satu Granmaster catur Indonesia, Ardiansyah (kanan), meninggal dunia. Copyright: Sentral BaliSalah satu Granmaster catur Indonesia, Ardiansyah (kanan), meninggal dunia.

Hal tersebut berkenaan dengan belum adanya bantuan yang diberikan oleh pemerintah untuk atlet catur senior sekelas Ardiansyah. 

Jejak-jejak kejayaan Ardiansyah di dunia catur Indonesia maupun internasional masih tersimpan dengan rapi di lantai 4 rumah susun sederhana tempat tinggalnya.